Inilah Pesawat Ruang Angkasa yang Diluncurkan AS untuk Belokkan Asteroid agar Tak Menabrak Bumi

Ini adalah upaya pertama untuk membelokkan asteroid dengan tujuan mempelajari cara melindungi Bumi, meskipun asteroid yang jadi target itu

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Yoseph Hary W
NASA / JHUAPL / ED WHITMAN via BBC INDONESIA via kompas.com
Anggota tim misi Dart memeriksa komponen pesawat antariksa itu pada Agustus lalu. 

TRIBUNJOGJA.COM -  Sistem pertahanan Bumi pertama di dunia telah diluncurkan dalam bentuk pesawat ruang angkasa. Peluncuran pesawat Dart tersebut dilakukan oleh NASA dengan misi demonstrasi sistem pertahanan bumi, yaitu dengan membelokkan asteroid dari kemungkinan menabrak bumi.

Peluncuran Dart dilakukan dari Negara Bagian California, Amerika Serikat, pada Selasa (23/11) malam waktu setempat (Rabu, 24 November siang WIB).

Tribun Jogja mengutip dari laman kompas.com, pesawat Dart meluncur ke langit pada Selasa malam pukul 22.21 waktu setempat (Rabu siang pukul 13.21 WIB) dari Pangkalan Angkatan Ruang Angkasa AS Vandenberg, sebelah barat laut Kota Los Angeles. Pesawat itu dibawa dengan roket Falcon 9 milik SpaceX.

Pesawat ruang angkasa itu akan menabrak objek yang disebut Dimorphos untuk melihat seberapa besar kecepatan dan jalurnya dapat diubah.

Jika bongkahan puing kosmik berukuran beberapa ratus meter itu bertabrakan dengan planet kita, itu bisa menyebabkan kehancuran seluas benua.

Ini adalah upaya pertama untuk membelokkan asteroid dengan tujuan mempelajari cara melindungi Bumi, meskipun asteroid yang jadi target itu tidak menimbulkan ancaman.

"Dart hanya akan mengubah periode orbit Dimorphos dalam jumlah kecil. Dan hanya itu (perubahan kecil) yang diperlukan jika asteroid (yang mengancam bumi) ditemukan," kata Kelly Fast, dari kantor koordinasi pertahanan planet NASA.

Asteroid diibaratkan sebagai “bongkahan-bongkahan bangunan" sisa Tata Surya, yang sebagian besar tidak menimbulkan ancaman bagi planet kita.

Tetapi ketika jalur batu ruang angkasa yang mengelilingi Matahari berpapasan dengan jalur Bumi maka kedua objek itu bisa bertemu pada saat yang sama, dan tabrakan dapat terjadi.

Misi Dart senilai 325 juta dollar AS (Rp4,6 triliun lebih) itu akan menargetkan sepasang asteroid yang mengorbit dekat satu sama lain - yang dikenal sebagai biner.

Objek terbesar, yang disebut Didymos, berukuran sekitar 780 meter, sedangkan pendampingnya yang lebih kecil - Dimorphos - lebarnya sekitar 160 meter.

Objek seukuran Dimorphos bisa meledak dengan energi berkali-kali lipat dari bom nuklir biasa, menghancurkan daerah berpenduduk dan menyebabkan puluhan ribu korban.

Asteroid dengan diameter 300 m dan lebih besar dapat menyebabkan kehancuran di seluruh benua, sedangkan yang lebih besar dari 1 km akan menghasilkan efek di seluruh dunia.

Setelah Dart diluncurkan, pertama-tama ia akan lepas dari gravitasi Bumi, mengikuti orbitnya sendiri mengelilingi Matahari.

Pesawat itu kemudian akan mencegat biner saat mendekat dalam jarak 6,7 juta mil dari Bumi pada September 2022.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved