Breaking News:

Feature

Kedermawanan Pengamen Berkostum Spiderman : Sisihkan Penghasilan untuk Anak Yatim

Tokoh pahlawan super Spiderman diciptakan untuk menyelamatkan masyarakat dari kejahatan.

Penulis: Miftahul Huda | Editor: Mona Kriesdinar
TRIBUN JOGJA/MIFTAHUL HUDA
AKSI - Wahyu berkostum Spiderman sedang beraksi di simpang Jalan Sagan, Sleman, Rabu (17/11/2021). 

Tokoh pahlawan super Spiderman atau manusia laba-laba yang terkenal di komik dan sejumlah film, diciptakan untuk menyelamatkan masyarakat dari kejahatan. Dalam beberapa adegan film aksi itu, sang pahlawan super rela bertarung mati-matian melawan musuhnya demi ketenteraman dunia.

BAGAIMANA jika manusia laba-laba itu benar-benar ada dan hadir di tengah-tengah masyarakat? Di simpang empat Jalan Sagan, Caturtunggal, Depok, Sleman seorang pria bernama Wahyu setiap hari berpenampilan ala Spiderman. Dia mengenakan kostum berwarna hitam, dengan logo laba-laba tepat di bagian dada.

Kombinasi warna merah pada lengan dan garis-garis putih menyerupai jaring laba-laba yang melingkar di seluruh bagian kostumnya, sangat jelas jika Wahyu sedang mengenakan kostum menyerupai pahlawan super Spiderman.
Dulunya wahyu adalah penjual wedang ronde di kawasan Malioboro.

Pandemi Covid-19 yang menyebar ke DIY sejak tahun lalu membuat aktivitas di Jalan Malioboro sepi wisatawan. Karena kondisi sulit tersebut, gerobak wedang rondenya harus ngandang di rumah.

"Dulu saya jualan wedang ronde di Malioboro sejak gempa Bantul (2006) itu. Terus sekarang ada Covid-19 susah lakunya, akhirnya ngamen dengan kostum spiderman ini," katanya saat ditemui di lokasi, Rabu (17/11/2021).

Di bawah lampu APILL simpang empat Jalan Sagan, Sleman, Wahyu memulai aksinya. Ia berjalan sambil membawa mangkuk plastik ke tengah garis penyeberangan. Sesekali mangkuk itu ia lemparkan ke atas, sebagai aksi pembuka.

Saat sudah berada di tengah-tengah garis penyeberangan itu, Wahyu tiba-tiba jongkok beberapa saat dengan menatap para pengguna jalan. Aksinya itu sekilas menyerupai adegan spiderman ketika sedang berada di atas gedung pencakar langit, dan siap menikam musuhnya.

Bagi pengguna jalan yang merasa terhibur, mereka bergegas menyiapkan uang receh atau pecahan dua ribuan untuk diberikan ke pria berusia 28 tahun ini. "Sehari, ya, paling dapat 100 ribu. Kalau ada pekerjaan lain, ya, saya milih kerja yang lain," tuturnya.

Sebelum mengenakan kostum manusia laba-laba, Wahyu dulunya adalah manusia silver. Dia memutuskan berhenti mengamen dengan cara menjadi manusia silver lantaran tahu bahaya cat silver untuk tubuhnya.

Berbagi
Dia mengaku, hasil kerja kerasnya mengamen dengan berkostum manusia laba-laba itu sebagian diberikan untuk para anak yatim piatu di tempat tinggalnya. Dia kini tinggal di Jalan Wongsodirjan, Sosromenduran, Kota Yogyakarta. Berdasarkan penuturannya, lingkungan yang ia tinggali saat ini banyak anak yatim piatu yang membutuhkan bantuan.

"Uang hasil ngamen saya tabung, buat jaga-jaga saja. Sebagian saya kasih ke anak-anak. Mereka yatim piatu, ya, sekadar buat jajan dan makan mereka. Di tempat saya banyak anak yatim piatu, kayaknya ada enam anak," terang dia.

Wahyu memulai aksinya sebagai 'manusia laba-laba' sekitar lima bulan yang lalu. Ide memakai kostum 'manusia laba-laba' itu atas inisiatifnya sendiri. Dia membeli kostum tersebut lewat toko daring dengan harga 350 ribu rupiah.

"Kalau (mengamen dengan pakaian) badut kan udah banyak, jadi saya pilih pakai kostum ini," jelasnya.
Meski kondisi pandemi kini sudah cukup mereda, Wahyu belum berani memulai kembali usaha berjualan wedang ronde di kawasan Malioboro. Sebab kondisi ekonomi saat ini belum stabil, sehingga ia khawatir modal usahanya justru tidak menghasilkan untung. (Miftahul Huda)

Baca Tribun Jogja edisi Jumat 18 November 2021 halaman 01

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved