Breaking News:

Pandemi Covid 19

Apakah Anda Tetap Harus Divaksin Jika Sudah Pulih dari Covid-19? Ini Penjelasannya

Orang yang tidak menunjukkan gejala atau hanya mengalami penyakit ringan biasanya menghasilkan lebih sedikit antibodi penetralisir daripada yang parah

Penulis: Mona Kriesdinar | Editor: Mona Kriesdinar
pixabay
ILustrasi vaksinasi 

TRIBUNJOGJA.COM - Saat terinfeksi patogen, seperti virus COVID-19, sistem kekebalan memacu pembuatan berbagai sel pelindung, seperti antibodi penetralisir dan sel memori.

Studi menunjukkan bahwa antibodi penetralisir menunjukkan perlindungan, tetapi para ilmuwan tidak begitu yakin tingkat antibodi yang diperlukan untuk kekebalan individu.

Jenis antibodi dan sel kekebalan lain juga penting untuk mencegah COVID-19 dan membatasi hasil yang parah, tetapi para ilmuwan belum menarik korelasi langsung di antara keduanya.

Menurut laporan CDC, 100% peserta yang menerima vaksin Pfizer atau Moderna dan 90% dari mereka yang menerima suntikan Johnson & Johnson dalam uji klinis mengembangkan antibodi yang mengikat dan menetralkan.

Vaksin-vaksin ini biasanya mengarah pada respons antibodi yang “lebih konsisten” dibandingkan dengan infeksi COVID-19 secara alami.

Adapun tingkat antibodi yang disebabkan oleh infeksi alami dapat sangat bervariasi dari orang ke orang.

Orang yang tidak menunjukkan gejala atau hanya mengalami penyakit ringan biasanya menghasilkan lebih sedikit antibodi penetralisir daripada mereka yang sakit parah.

Selain itu, orang yang terinfeksi dengan jenis virus asli cenderung memiliki tingkat kekebalan yang lebih rendah terhadap varian selanjutnya seperti Delta.

Untuk anak-anak berusia 5 hingga 11 tahun, yang sekarang memenuhi syarat untuk vaksin Pfizer COVID-19, mendapat vaksinasinasi mungkin sangat penting, kata Catherine Bozio, PhD, MPH, seorang ahli epidemiologi di CDC sebagaimana dilansir Very Well Health, (8/11/2021).

Menurut data CDC, hampir 40% anak-anak dalam kelompok usia ini telah terinfeksi COVID-19.

"Meskipun ini belum dipelajari dengan baik pada anak-anak, membandingkan seroprevalensi dengan kasus yang dilaporkan pada anak-anak, tampaknya anak-anak mungkin memiliki tingkat infeksi ringan atau tanpa gejala yang jauh lebih tinggi daripada orang dewasa," kata Bozio.

"Kelompok ini mungkin lebih rentan terhadap infeksi ulang, dan karenanya harus didorong untuk divaksinasi," tambahnya.

Para ahli belum mengetahui tingkat antibodi yang diperlukan untuk mencegah infeksi ulang, penulis CDC menulis bahwa tes antibodi tidak dapat diandalkan untuk menunjukkan apakah seseorang dilindungi.

Pada akhirnya, divaksinasi kemungkinan akan melindungi Anda dari infeksi COVID-19 dan penyakit serius secara lebih konsisten daripada infeksi alami. Jika Anda sudah pulih dari COVID-19, vaksinasi akan semakin mengurangi risiko infeksi ulang. (*/MON)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved