Breaking News:

Berita Bisnis Terkini

Penjualan Jamu di Jarum Klaten Meningkat Saat Pandemi

Peningkatan omzet jamu Kelompok Wanita Tani (KWT) Matahari menembus angka 50 persen jika dibandingkan dari penjualan sebelum pandemi.

Penulis: Almurfi Syofyan | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Almurfi Syofyan
Perajin jamu KWT Matahari di Desa Jarum, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah saat memamerkan produk jamunya Senin (25/10/2021) lalu. 

TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Penjualan jamu produksi rumahan di Desa Jarum, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah meningkat saat pandemi Covid-19.

Bahkan, para perajin jamu bisa meraup omzet hingga Rp 5 juta per bulannya.

Meningkatnya penjualan jamu tak terlepas dari gaya hidup sehat yang mulai diterapkan oleh masyarakat selama pandemi Covid-19.

"Alhamdulillah sejak beberapa bulan terakhir omzet kita bertambah," ujar perajin jamu di Desa Jarum, Sri Mulyani pada Tribunjogja.com, Selasa (9/11/2021).

Baca juga: Selama 25 Tahun Berjualan, Jamu Mak Jah Asli Magelang Diminati Lintas Generasi

Menurut Mulyani, peningkatan omzet dari jamu yang ia produksi bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) Matahari menembus angka 50 persen jika dibandingkan dari penjualan sebelum pandemi.

"Peningkatan itu terjadi saat awal-awal pandemi hingga menuju puncaknya kasus pada Juni dan Juli kemarin," jelasnya.

Diakui Mulyani, saat pesanan jamu lagi ramai-ramainya omzet yang bisa didapat oleh KWT Matahari bisa menembus Rp4 juta hingga Rp5 juta per bulannya.

"Kalau sekarang penjualan mulai melandai tapi masih alhamdulillah," katanya.

Ia mengatakan, untuk mendongkrak penjualan jamu yang dibuat oleh kelompoknya, ke depannya akan tetap mengeluarkan produk-produk baru.

Sejauh ini, lanjutnya KWT Matahari sudah memiliki 9 produk jamu yang beredat di pasaran.

"Beberapa produk jamu unggulan kita yakni jahe merah, jahe emprit, temulawak, kunyit, kunyit asam, kunyit putih, antibodi dan lainnya," katanya.

Baca juga: Mengenal Jamu Coro, Minuman Khas Demak Warisan Raden Patah

Ia menjelaskan, selama pandemi produk yang paling laris adalah jamu antibodi karena setiap hari ada saja pemesanan datang untuk produk itu.

"Kalai pemasaran, kita offline dan online. Pembelinya beragam dari Klaten bahkan dari luar kota juga ada," imbuhnya.

Terkait harga, lanjut Mulyani, pihaknya menyiapkan beberapa macam ukuran kemasan, mulai dari isi 10 pcs yang dijual Rp 22.000 hingga Rp 25.000.

Kemudian, ada juga kemasan 250 gram, 500 gram hingga 1.000 gram yang dijual dalam rentang harga Rp30.000 hingga Rp100.000. ( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved