Breaking News:

Cerita Jembatan Viral 'Shiratal Mustaqim' Kalinegoro Magelang, Penghubung Ekonomi di Dua Desa

Jembatan yang berjuluk 'Shiratal Mustaqim' yang memiliki panjang 120 meter dengan lebar 1,8 meter di bawah Kali Progo mendadak viral akibat banyak

TRIBUNJOGJA.COM/ Nanda Sagita Ginting
Penampakan jembatan Kalinegoro atau yang viral dengan sebutan Jembatan Siratal Mustakim, Mertoyudan, Kabupaten Magelang 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Jembatan yang berjuluk 'Shiratal Mustaqim' yang memiliki panjang 120 meter dengan lebar 1,8 meter di bawah Kali Progo mendadak viral akibat banyak netizen mengaku ketakutan ketika melintasi jembatan tersebut.

Jembatan yang menghubungkan dua desa yakni Desa Kalinegoro, Kecamatan Mertoyudan dan Desa Sumberarum, Kecamatan Tempuran dibangun sejak 2019 lalu.

Kepala Desa Kalinegoro, Hajid Mulyono menuturkan, sedianya jembatan dibuat untuk memperlancar perekonomian masyarakat setempat.

Baca juga: BPD DIY Hibahkan Mobil Layanan Pajak ke Pemkab Gunungkidul

"Tujuan dibuatnya jembatan, untuk meningkatkan dan memperlancar ekonomi warga. Terutama untuk para pedagang, yang akan berjualan di Pasar Sraten (Mertoyudan), di mana pedagang banyak yang berasal dari daerah Tempuran, begitupun dengan pembelinya," ungkapnya kepada Tribunjogja.com, pada Rabu (27/10/2021).

Setelah jembatan dibangun, lanjutnya, cukup memberikan efek terhadap pertumbuhan ekonomi di masyarakat.

Terlebih, masyarakat bisa berjualan di sekitar jembatan.

"Pasti berdampak sekali untuk ekonominya. Karena, setelah adanya jembatan banyak warga yang memanfaatkan untuk berjualan makanan dan minuman. Awal dibuat, jembatan sempat ramai banyak orang yang datang sekedar ingin melihat jembatan gantung sekalian berfoto juga," terangnya.

Ia menambahkan, sebelum  jembatan dibangun para warga yang hendak melintas dari Desa Kalinegoro ke Sumberarum atau sebaliknya membutuhkan waktu hingga 45 menit atau memutar sejauh 15 kilometer.

Sedangkan, setelah dibangun hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit saja.

"Sangat memudahkan masyarakat untuk beraktivitas, mempersingkat waktu. Rata-rata  jembatan dilewati sebanyak 50 orang per harinya, didominasi dari para pedagang dan anak-anak sekolah," terangnya.

Baca juga: Sebanyak 137 Siswa di Kota Yogyakarta Akan Menerima Jaminan Pendidikan Covid-19

Di balik viralnya jembatan gantung Kalinegoro, dirinya pun berharap bisa memberikan efek positif pada masyarakat terutama untuk mendongkrak perekonomian.

"Harapannya tentu, bisa memberikan manfaat untuk warga setempat. Rencananya juga, ke depan jembatan bisa dijadikan spot wisata lokal," ujarnya.

Sementara itu, Dinar Kurniawan, warga Mertoyudan merasa sangat terbantu dengan adanya jembatan gantung tersebut.

"Sangat terbantu sekali lah, kalau dulu kan sebelum ada jembatan kalau mau ke desa seberang harus muter jauh. Sekarang, lebih gampang dan lebih efektif," urainya. (ndg)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved