Begini Cara Deteksi Penyakit Jantung Bawaan pada Anak

Perlu pemantauan yang cermat untuk mendeteksi adanya Penyakit Jantung Bawaan (PJB), khususnya pada anak.

Tayang:
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Hari Susmayanti
Kompas.com
Kenali 11 Gejala Penyakit Jantung yang Sering Dianggap Sepele 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Penyakit jantung masih menjadi penyakit mematikan nomor wahid di Indonesia.

Padahal, jantung adalah organ yang dibutuhkan untuk mempertahankan peredaran darah yang stabil, guna mencukupi kebutuhan oksigen dan nutrisi tubuh.

Dengan begitu, perlu pemantauan yang cermat untuk mendeteksi adanya Penyakit Jantung Bawaan (PJB), khususnya pada anak.

“Untuk anak, deteksi dan identifikasi PJB sangat penting mengingat ‘timing’ yang tepat. Itu karena tindakan pengobatan berbeda-beda menurut jenis dan berat-ringannya kelainan,” ungkap Dokter Spesialis Anak, Dr dr FX Wikan Indrarto SpA kepada Tribun Jogja, Selasa (5/10/2021).

Dia menjelaskan, anak dengan PJB memiliki kelainan struktur jantung yang dapat berupa lubang atau defek pada sekat ruang jantung.

Bisa juga terjadi penyempitan atau sumbatan katup, pembuluh darah yang berasal atau bermuara ke jantung, serta abnormalitas konfigurasi jantung serta pembuluh darah.

Kelainan struktur tersebut, kata dia, dapat bersifat tunggal ataupun berkombinasi, sehingga menimbulkan PJB kompleks. 

“Kendati terdapat ratusan bahkan ribuan tipe kelainan, secara garis besar PJB dapat dikelompokkan menjadi dua tipe,” tambahnya lagi.

Kata Wikan, tipe pertama disebut PJB biru atau sianotik. PJB ini menyebabkan warna kebiruan atau sianosis pada kulit dan selaput lendir, seperti daerah lidah, bibir dan ujung-ujung anggota gerak.

Hal ini lantaran kurangnya kadar oksigen dalam darah.

Sementara, tipe yang kedua disebut dengan PJB non-sianotik atau yang tidak menimbulkan gejala warna kebiruan pada anak.

“PJB non-sianotik umumnya menimbulkan gejala gagal jantung yang ditandai dengan sesak yang memberat saat menetek atau beraktivitas, bengkak pada wajah, anggota gerak, serta perut, dan gangguan pertumbuhan yang menyebabkan kekurangan gizi,” ucapnya Wikan yang merupakan alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.

Baca juga: Bayi 2 Bulan di Sleman Alami Kelainan Jantung, Butuh Uluran Tangan Para Dermawan untuk Biaya Operasi

Dia menekankan, gejala dan tanda PJB dapat dikenali sejak lahir atau sebaliknya, hanya menimbulkan gejala minimal.

Dijelaskannya, dokter bakal mencurigai adanya PJB bila mendeteksi adanya tanda atau gejala gagal jantung, kulit kebiruan, ataupun mendengar kelainan bunyi atau bising jantung. 

“Masalahnya, sering kali PJB tidak memberikan gejala atau tanda klinis yang khas saat bayi baru lahir, mengingat sirkulasi darah dan sistem pernapasan masih mengalami transisi dari masa janin ke periode pascalahir,” ungkap dokter yang juga berpraktek di Siloam Hospitals Yogyakarta itu.

Wikan mengungkapkan, terdapat PJB yang memerlukan tindakan operasi atau intervensi kateter segera setelah lahir, tetapi sebaliknya terdapat tipe kelainan yang hanya memerlukan pemantauan, hingga anak tumbuh sampai dewasa.

“Saat ini hampir semua tipe PJB dapat dikoreksi, baik melalui tindakan operasi ataupun intervensi kateter,” tuturnya.

Paparan Rokok

Ditanya mengenai penyebab kelainan jantung bawaan pada bayi, Wikan mengatakan belum diketahui secara pasti.

Meski begitu, berdasarkan penelitian, penyebab PJB bersifat multifaktorial yang melibatkan kerentanan genetik atau bawaan dan faktor lingkungan.

“Ya, bisa saja dari paparan rokok saat kehamilan, baik ibu perokok aktif maupun pasif, konsumsi obat tertentu, infeksi pada kehamilan, diabetes melitus, dan sindrom atau kelainan genetik tertentu bisa meningkatkan risiko kelainan jantung bawaan pada bayi,” ucapnya.

Dia merekomendasikan agar ibu tetap menjaga kesehatan dan asupan nutrisi saat mempersiapkan dan selama periode kehamilan.

“Pembentukan jantung terjadi di masa awal kehamilan, dan hampir selesai pada 4 minggu setelah pembuahan, yaitu saat ibu sering kali baru menyadari kehamilannya. Maka, jaga nutrisi itu penting banget,” bebernya.

Secara umum, untuk segera mendeteksi kelainan jantung pada anak, perlu pemeriksaan tambahan berupa rekam listrik jantung yang dikenal elektrokardiografi atau EKG dan ultrasonografi jantung atau ekokardiografi. 

“Pada anak besar, juga dapat dilakukan tes latihan dengan treadmill atau sepeda statis. Ini untuk melihat apakah gejala nyeri dada dan perubahan EKG terjadi dengan aktivitas fisik atau olahraga,” tandasnya. (Tribunjogja/Ardhike Indah)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved