Prediksi Ahli Terkemuka Dunia soal Kapan Pandemi Covid-19 Mereda
Menurut penemu vaksin Oxford-AstraZeneca, Prof Dame Sarah Gilbert, Covid-19 tidak akan menjadi lebih ganas.
Penulis: Joko Widiyarso | Editor: Joko Widiyarso
TRIBUNJOGJA.COM - Sejumlah ahli terkemuka memprediksi dunia akan menjadi lebih setelah musim dingin atau sekitar Desember 2021 hingga Februari 2022.
Menurut penemu vaksin Oxford-AstraZeneca, Prof Dame Sarah Gilbert, ke depan, Covid-19 diperkirakan tidak akan menjadi lebih ganas.
Prof Sarah Gilbert, mengatakan hal tersebut pada webinar Royal Society of Medicine, seperti dikutip Tribun Jogja dari BBC News.
Virus Corona pada akhirnya akan menjadi lebih seperti virus Corona musiman yang menyebabkan flu biasa.
"Kami biasanya melihat bahwa virus menjadi kurang ganas karena mereka lebih mudah beredar dan tidak ada alasan untuk berpikir kami akan memiliki versi Sars-CoV-2 yang lebih ganas,” katanya.
"Kami memperkirakan akan ada pergeseran genetik virus yang lambat dan akan ada kekebalan bertahap yang berkembang dalam populasi seperti halnya semua virus corona musiman lainnya."
Virus Corona musiman menyebabkan pilek, dan Dame Sarah berkata: "Akhirnya Sars-CoV-2 akan menjadi salah satunya."
Pernyataan Prof Sarah Gilbert juga di dukung oleh sejumlah pakar kesehatan tentang bagaimana virus Corona di masa mendatang.
Menurut ahli terkemuka, Prof Sir John Bell, Covid-19 akan menyerupai flu biasa pada musim semi tahun depan karena kekebalan orang terhadap virus setelah mendapatkan vaksin dan terpapar.
Profesor yang merupakan bagian dari tim yang mengembangkan vaksin Oxford-AstraZeneca, mengatakan kepada Times Radio bahwa Inggris telah melewati fase terburuk pandemi Covid-19.
"Keadaan seharusnya akan baik-baik saja setelah musim dingin (Desember-Februari) berlalu.
Dia berbicara setelah Prof Sarah Gilbert, yang merancang vaksin Oxford, mengatakan Covid kemungkinan akan menjadi seperti virus corona musiman lainnya yang menyebabkan flu biasa.
Hal itu karena kekebalan pada populasi telah meningkat dengan baik dan virus juga berevolusi.
"Jika Anda melihat kurva yang saat ini, kami jauh lebih baik daripada enam bulan lalu. Jadi tekanan pada NHS sebagian besar mereda.
Prof Sir John Bell menambahkan, jika masih ada kasus kematian, kemungkinan besar pemicunya adalah karena mereka telah berumur dan tidak semata karena Corona.
“Jika Anda melihat kematian akibat Covid, mereka cenderung orang yang sangat tua, dan tidak sepenuhnya jelas bahwa Covid yang menyebabkan semua kematian itu.
"Dan saya pikir apa yang akan terjadi adalah, akan ada cukup banyak paparan varian Delta, kita dapat melihat jumlah kasusnya cukup tinggi, terutama pada orang yang sudah dua kali vaksin.
“Mereka akan mengalami gejala terbaru atau mungkin juga tanpa simtomatologi dan itu akan menambah kekebalan kita.
“Jadi saya pikir kita sedang menuju posisi yang Sarah (Gilbert) gambarkan, mungkin pada musim semi berikutnya adalah perkiraan saya.
"Kita harus melewati musim dingin untuk sampai ke sana, tetapi saya pikir itu akan baik-baik saja."
Virus tidak hilang
Sementara itu menurut analisis koresponden jesehatan BBC, Nick Triggle, apa yang dikatakan dua ahli tentang virus yang memicu kematian hingga 4,7 juta orang di seluruh dunia itu mungkin tampak seperti klaim yang terlalu berani.
Tetapi apa yang ditunjukkan oleh pandemi di masa lalu adalah bahwa virus itu datang secara bergelombang.
Gelombang awalnya besar, menyebabkan sejumlah besar penyakit serius, tetapi kemudian menjadi lebih kecil dan lebih kecil.
Ini bukan karena virusnya hilang, tetapi karena memang kekebalan yang kita bangun mengurangi dampaknya.
Penyakit yang ditimbulkan kemudian menjadi tidak terlalu parah meskipun kita terinfeksi berulang kali.
Vaksin-vaksin yang telah dikembangkan pada dasarnya telah memberikan sistem kekebalan tubuh kita sebagai permulaan, mengajari mereka cara melawan virus.
Perlindungan terhadap infeksi mungkin berkurang seiring waktu, tetapi tetap lebih kuat terhadap penyakit serius.
Itu berarti sementara kita menghadapi kemungkinan terinfeksi lagi di masa depan, mereka secara umum akan cenderung lebih ringan.
Dan yang paling penting adalah bahwa dalam proses kita terpapar, itu akan menjaga sistem kekebalan kita tetap tinggi.
Seperti yang kita lihat dengan virus lain, orang tua dan mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah akan tetap berada pada risiko yang lebih besar.
Itulah sebabnya mereka kemungkinan akan ditawari vaksinasi ulang di tahun-tahun mendatang.
Ini tidak berarti tidak akan ada kematian akibat Covid di masa depan tetapi akan mencapai tingkat yang dianggap dapat diterima oleh masyarakat.
Namun yang menjadi pertanyaan besarnya adalah adalah seberapa cepat kita sampai di sana.
Indonesia nomor 7 soal korban Covid
Menurut Worldometers.com per Kamis 23 September 2021, jumlah total kematian akibat Covid-19 I seluruh dunia mencapai 4.734.567 kasus.
Dari jumlah itu, Amerika Serikat adalah negara dengan kasus kematian tertinggi yang mencapai 699.748 kasus.
Kemudian Brasil di posisi kedua dengan total kematian sebanyak 592.357, disusul India di peringkat ketiga untuk kasus kematian yang mencapai 446.080.
Sementara itu, Indonesia berada di urutan ketujuh untuk total kasus meninggal dunia akibat virus Corona yang mencatatkan sebanyak 141.114 kasus.
Sedangkan negara tentangga Malaysia di urutan 31 dalam hal tingkat kematian Covid-19 dengan total 24.565 kasus.
Singapura bahkan di peringkat 177 dunia dengan total korban meninggal sebanyak 68 orang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/riwayat-perjalanan-tiga-kasus-covid-19-terbaru-di-daerah-istimewa-yogyakarta.jpg)