Belajar Membatik di Media Kayu di Desa Wisata Krebet

Desa wisata yang terletak di Padukuhan Krebet, Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pajangan tersebut membuat batik dengan media kayu

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Ikrob Didik Irawan
ist
Batik Kayu di Desa Wisata Krebet, Bantul 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Membatik biasanya menggunakan media kain. Hasil batik bisa digunakan untuk kemeja, celana, dan lain-lain. Namun ada yang berbeda dengan Desa Wisata Krebet, Bantul.

Desa wisata yang terletak di Padukuhan Krebet, Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pajangan tersebut membuat batik dengan media kayu.

Warga Krebet membatik dengan media kayu ternyata sudah sejak 1988. Awalnya warga Krebet banyak yang bekerja sebagai perajin kayu yang hasil produksinya dipasarkan di kampung-kampung sekitar.

Hingga suatu hari seorang perajin bernama Anton mencoba membatik dengan media kayu. Seiring berjalannya waktu, batik kayu menjadi kekhasan Padukuhan Krebet.

Ketua Desa Wisata Krebet, Agus Jati Kumara, mengatakan proses menjadi desa wisata tidaklah singkat. Warga mulai merintis desa wisata sejak tahun 1995.

Perjuangan warga Krebet pun tidak mudah. Tidak sekadar menyusun kepengurusan saja, tetapi juga mengembangkan potensi yang ada di Krebet.

"Resmi menjadi desa wisata baru tahun 2000, jadi prosesnya memang sangat panjang. Kriteria menjadi desa wisata dulu mungkin lebih banyak daripada sekarang," katanya.

Ia melanjutkan saat ini ada 57 sanggar batik kayu di Krebet. Perkembangan sanggar batik kayu di Krebet cukup pesat. Dari awalnya hanya ada dua sanggar dan berkembang hingga sekarang.

"Dulu ada dua sanggar, yaitu sanggar Punokawan dan sanggar Peni. Karyawan dari sanggar tersebut kemudian mandiri, sehingga saat ini berkembang menjadi 57 sanggar, dan saat ini menjadi kekhasan Krebet," lanjutnya.

Batik kayu buatan warga Krebet memang juara, pemasarannya pun tak main-main.

Berkat kerja keras warga itu pula, batik kayu buatan Krebet bisa menembus berbagai negara, seperti Tiongkok, Amerika Serikat, Irlandia, Jepang, Korea Selatan, dan lain-lain.

Kebanyakan topeng dan hiasan dinding adalah kerajinan yang banyak dipesan negara-negara tersebut. Namun saat ini perajin batik kayu lebih banyak menerima pesanan yang lebih fungsional, seperti nampan dan lain-lain.

Tak heran banyak kelompok yang ingin belajar di Desa Wisata Krebet. Tak hanya untuk belajar seni batik kayu, tetapi juga untuk belajar kesenian tradisional, hingga bercocok tanam. 

"Paling banyak yang datang ke sini rombongan dari sekolahan, tetapi ada juga dari dinas. Kebanyakan ingin belajar membatik kayu, karena memang batik kayu adalah produk unggulan Desa Wisata Krebet. Tetapi kami menawarkan banyak paket wisata," ujarnya.

Sebelum pandemi COVID-19, kunjungan wisata dalam satu tahun bisa mencapai 5.000 hingga 10.000 pengunjung.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved