FEATURE
Situs Mintorogo Diduga Reruntuhan Era Peradaban Buddha Mataram Kuno Tertinggi di Yogyakarta
TEMPAT untuk pertapaan. Tidak banyak yang tahu, sebenarnya apa struktur batuan menyerupai candi yang berada di ketinggian 414 mdpl itu.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Agus Wahyu
Situs Mintorogo sudah tidak asing lagi bagi warga Dusun Gayam, Kalurahan Gayamharjo, Prambanan, Sleman. Warga setempat, secara turun-temurun menjadikan susunan batuan putih di Bukit Mintorogo itu sebagai tempat sakral.
TEMPAT untuk pertapaan. Tidak banyak yang tahu, sebenarnya apa struktur batuan menyerupai candi yang berada di ketinggian 414 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu.
"Situs ini sudah lama ditemukan. Kepercayaan penduduk, Mintorogo ini adalah tempat yang disakralkan. Tempat pertapaan Begawan Ciptoning. Jadi orang-orang mengaggap ini sakral," kata Pak Brewok, Ketua Pengelola Situs Mintorogo, saat mengantar Pandita Marsudi Kusumo melakukan pradaksina di situs tersebut, Kamis (2/9/2021).
Pradaksina adalah kegiatan penghormatan dengan meditasi dan mengelilingi objek pemujaan. Kegiatan ini diyakini dapat "menghidupkan kembali" Situs Mintorogo.
Selama ini, Situs Mintorogo, ucap Pak Brewok, sering dikunjungi orang dari luar daerah, terutama pada Selasa dan Jumat Kliwon untuk bertapa, karena tempatnya sejuk, tenang, sepi, dan diyakini memiliki aura luar biasa.
Awalnya, semua yang orang yang datang dibiarkan begitu saja. Namun, seiring banyaknya kerusakan yang ditimbulkan, maka sejak 2013 dibentuklah pengelola.
Pak Brewok ditunjuk sebagai ketua. Setiap pengunjung yang datang harus sepengetahuan dan melalui pengelola. Menurut dia, banyak yang datang karena menginginkan sesuatu.
"Keinginannya macam-macam. Kalau yang mampir ke rumah saya, meminta hidup tenteram, maupun derajat pangkat. Tapi, umumnya ingin hidup tenteram," kata dia.
Tertinggi
Mintorogo diyakini menjadi situs peninggalan era kerajaan Mataram Kuno pada Abad 8-10 Masehi. Struktur batuan menyerupai stupa tunggal candi. Berada di puncak Bukit Mintorogo dengan ketinggian 414 mdpl.
Karena itu, diyakini menjadi temuan situs tertinggi di Yogyakarta. Lokasinya berada di sisi timur Candi Ijo.
Keberadaan Situs Mintorogo beriringan dengan cerita atau legenda yang menyelimutinya.
Dikatakan Pak Brewok, situs dengan ketinggian sekitar 7 meter itu, menurut cerita turun temurun adalah tempat pertapaan dari Begawan Ciptoning atau dikenal juga Mintorogo. Kala itu, terjadi kejadian hebat. Kemudian sang begawan naik ke atas bukit untuk bertapa.
Tempat keberadaan situs, oleh warga setempat hingga sekarang, disakralkan. Meski belum diketahui struktur bangunan itu, baru-baru ini warga mulai menaruh curiga bahwa situs Mintorogo itu adalah sebuah bangunan candi peninggalan Buddha dengan melihat ciri-ciri batuan yang ditemukan.
Pegiat purbakala, Hari Wahyudi, bersama Pandita Marsudi Kusumo, lalu datang melakukan Pradaksina untuk "menggali" situs Mintorogo. Prosesi Pradaksina berlangsung khidmat.
Diawali meditasi. Tak berselang lama, sang Pandita, atau tokoh pemimpin bagi umat Buddha itu, berjalan mengelilingi objek sambil mencipratkan air.
"Air ini sebagai lambang sumber kehidupan," kata Pandita Marsudi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/pandita-marsudi-kusumo-sedang-menjalani-pradaksina.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/situs-mintorogo-di-bukti-mintorogo-dusun-gayam-prambanan-sleman.jpg)