Jokowi Justru Minta Polisi Jangan Reaktif Hadapi Kritik
Presiden Joko Widodo ternyata tidak terlalu sreg dan tidak berkenan dengan sikap polisi yang terlalu responsif menindak kritik masyarakat.
Reza menuturkan, jika mural dianggap sebagai ekspresi permusuhan, berarti pembuat mural adalah matang secara psikologis. Sebab, pembuat mural telah melakukan proses sublimasi yakni menyalurkan perasaan "mentah" yaitu bermusuhan ke wujud yang lebih beradab berupa karya seni.
"Kalau dikatakan bahwa mural itu tak berizin, bagaimana dengan parpol yang tanpa izin memajang bendera dan baliho di pinggir jalan? Mau diperkarakan juga?" ujar Reza.
Dia juga mempertanyakan kepolisian jika kelak menangkap pembuat mural tersebut, lalu pelaku akan dijerat dengan pasal apa. "Polisi menangkap pakai pasal apa?" tutur Reza.
Adapun Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko sebelumnya mengungkapkan, bahwa Presiden Jokowi selalu terbuka terhadap kritikan. Hanya saja, kata Moeldoko, kritik itu perlu dilakukan dengan cara yang baik.
"Sebenarnya dari awal Presiden selalu mengatakan dan ini lebih bersikap edukatif ya. Presiden sangat terbuka dan enggak pernah pusing dengan kritik itu," kata Moeldoko di kantornya, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (18/8/2021).
”Tetapi beliau (Jokowi) menyisipkan sebuah kalimat yang indah, 'Kita orang timur memiliki adab'. Jadi kalau mau mengkritik, ya, sesuatu yang beradab, tata krama ukuran-ukuran culture kita itu supaya dikedepankan, bukan hanya selalu berpikir antikritik," tambahnya. (Tribun Network)