Breaking News:

GASPOL 52

Nostalgi Motor Sport Dua Silinder dengan Restorasi Yamaha AS3 Twin 125

TREN sepeda motor sport tanpa fairing (naked) ala motor zaman dulu kini tengah melanda.

Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Agus Wahyu
TRIBUN JOGJA/HANIF SURYO
WANI PERIH - Yanuar Trianto (44), owner Yamaha AS3 Twin 125 sekaligus pemilik bengkel motor klasik, Jogja Jadoel Garage. 

TRIBUNJOGJA.COM - Tren sepeda motor sport tanpa fairing (naked) ala motor zaman dulu kini tengah melanda. Selain memodifikasi motor masa kini menjadi motor jadul, efek dari tren tersebut ialah diburunya lagi motor-motor lawas yang masih dalam kondisi orisinil.

Satu di antaranya Yamaha AS3 Twin 125, motor sport lawas pabrikan Yamaha yang kini menjadi buruan para collector item dan tak tanggung-tanggung banderol harganya pun kini fantastis.

Hal tersebut diamini Yanuar Trianto (44), owner Yamaha AS3 Twin 125, sekaligus pemilik bengkel motor klasik, Jogja Jadoel Garage. Yanuar bercerita, Yamaha AS3 Twin 125 berkelir biru-putih miliknya ia dapat dalam kondisi bahan, dan merupakan sebuah 'proyek' tantangan dari kakak pertamanya, Andre, seorang kolektor motor asal Kediri, Jawa Timur.

"Motor ini awalnya merupakan sebuah tantangan yang diberikan kakak saya. Saya dikirimi motor dalam kondisi bahan, bahkan mesinnya dalam kondisi mati saat itu," ujar Yanuar.

"Saya ditantang untuk menggarap Twin, setelah sebelumnya berhasil merestorasi motor-motor bebek maupun 2-tak lawas. Saya bangun motor ini tentu saja melalui proses panjang dan wani perih," tambahnya.

Diungkapkan Yanuar, proses restorasi bukan tanpa kendala. Apalagi, part-part Yamaha AS3 Twin cukup sulit ditemui di pasaran. Hal ini tentu saja beralasan, sebab nenek moyang motor sport Yamaha di Indonesia ini singkat mengaspal di Tanah Air, sejak 1973 hingga 1977 saja.

Adapun Yamaha AS3 Twin dibekali mesin 2tak dengan berpendingin udara serta ukuran bore x stroke 43 x 43, yang menjanjikan tenaga sebesar 16 daya kuda (dk) pada rentang 9.800 rpm, torsi puncak sebesar 12,7Nm pada 8000 Rpm dengan rasio kompresi 6,8:1. Kemudian berat kosong hanya 105 kg, sedangkan kapasitas bahan bakar muat 9 liter.

Mesin yang dikawinkan dengan transmisi lima percepatan ini memiliki kecepatan maksimum 127 km per jam, sektor pengabutan tentu menggunakan 2 buah karburator 18mm dan pengapiannya pun masih platina.
Suspensi depan teleskopik dan belakang lengan ayun dengan dua shockbreaker. Ban menggunakan velg jari-jari berdiameter 18 inci dengan rem tromol.

Motor ini termasuk motor kalangan berpunya pada zaman itu, karena sudah jelas boros busi juga boros bensin dan kudu pas setel karbu sama platinanya. "Yamaha AS3 Twin ini kami garap mati-matian, cari partnya susah, kemudian kalau ada pun harganya selalu perih," ujar pemilik bengkel motor klasik yang terletak di Demangan, Selomartani, Kalasan, Sleman ini.

"Kalau part yang paling mahal mungkin speedometer, kemudian karbu orisinil bisa tembus Rp6 juta, satu set kanan-kiri. Untuk piston, stang piston, bisa cari lewat online atau komunitas. Bahkan kita cari hingga ke luar negeri, sebab part Yamaha AS3 Twin itu sama dengan versi luar Yamaha RD," lanjutnya.

"Saya katakan membangun motor klasik ini semacam seni, jadi tak heran apabila dihargai mahal. Apalagi kalau restorasi full orisinil, pastinya butuh waktu dan kesabaran untuk hunting tiap partnya," tambahnya.

Sedikit flashback, Yanuar menceritakan Jogja Jadoel Garage yang melayani jual beli, serta restorasi motor klasik ini berdiri sekira tiga tahun lalu dan tak lepas dari jasa sang kakak.
"Justru sebelum menekuni motor klasik, saya lebih dulu menekuni usaha jual-beli mobil klasik. Kemudian ada tawaran menarik yakni sebagai driver online, dan kebetulan waktu itu saya memiliki beberapa sopir, dan saya sendiri menjalankan satu unit," buka Yanuar. (han)

Baca Tribun Jogja edisi Minggu 8 Agustus 2021 halaman 06.

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved