INSPIRING BEAUTY
Galuh Ingatkan 'Urip Iku Wang Sinawang'
URIP iku wang sinawang. Setidaknya peribahasa Jawa inilah yang dijadikan satu acuan dara cantik bernama Galuh Paskamagma dalam menjalani hidup.
Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Agus Wahyu
TRIBUNJOGJA.COM - Urip iku wang sinawang. Setidaknya peribahasa Jawa inilah yang dijadikan satu acuan dara cantik bernama Galuh Paskamagma dalam menjalani hidup.
Galuh, begitu ia akrab disapa menuturkan, kerap seseorang dilihat khalayak dari sisi saat di tangga puncak kesuksesan karier. Namun, saat proses menuju tangga tersebut dan keseharian menghadapi situasi pekerjaan, jarang terungkap.
Bagi Galuh, apa yang terlihat enak dijalani orang lain belum tentu enak saat kita yang menjalani. Sebaliknya, apa yang kita anggap sulit atau mudah dilakukan, bisa jadi justru lebih mudah atau lebih sulit dialami orang lain.
"Urip iku wang sinawang. Apa yang kita miliki sepatutnya kita syukuri dan kita usahakan yang terbaik ketika diberi amanah," ungkap Galuh.
Dara yang saat ini menjadi praktisi pendidikan vokasi ini, sebelumnya diberi amanah mengelola sebuah restoran milik keluarga sendiri. Bagi Galuh, kepercayaan yang diberikan padanya ini adalah sebuah peluang sekaligus tantangan besar, karena menyangkut hajat hidup banyak orang.
Apalagi, saat itu, posisi Galuh sedang skripsi. Ia pun sudah mewanti-wanti bahwa risiko yang diambil salah satunya masa studinya lebih lama.
Benar saja, Galuh memang lulus lebih lama dari jadwal yang ia rencanakan. Namun, ia justru merasa beruntung karena bisa belajar mempraktikkan ilmu yang ia dapatkan di bangku kuliah secara langsung.
"Umurku termasuk masih muda ya, sudah jadi manajer, kelihatannya enak gitu ya, tapi di balik itu perjuangan. Kudu maintenance karyawan, ada yang bermasalah ini itu, harus berani ambil keputusan dan itu tidaklah mudah," tutur Galuh.
Menghadapi situasi itu, Galuh justru berpikir dirinya harus menimba ilmu di tempat lain dulu supaya lebih matang dalam menghadapi situasi kerja yang lebih kompleks. Setelah menyelesaikan studinya di jurus manajemen, ia pun melamar pekerjaan di Djarum Foundation dan diterima.
Di balik kabar baik ini, Galuh sempat berdoa agar ia suatu saat bisa lebih memberikan manfaat kepada orang banyak. "Sebelum tes aku berdoa, Ya Tuhan jika memang peserta lain lebih membutuhkan pekerjaan ini dari pada aku, bantulah mereka agar mendapatkan pekerjaan ini. Tapi jika memang aku yang mendapatkan pekerjaan ini, semoga memberi manfaat bagi banyak orang," kata Galuh.
Doa Galuh pun terkabul, kini ia menjadi praktisi pendidikan vokasi dan menjadi bagian dari Djarum Foundation. Galuh mendapatkan kesempatan dan tantangan yang jauh lebih besar.
Setelah menjalani pekerjaannya tersebut, Galuh baru menyadari bahwa doa yang ia panjatkan waktu mengikut tes terkabul dan setidaknya ia menjadi bagian upaya memajukan pendidikan tingkat SMA melalui program program Djarum Foundation.
Jadi Hobi Memasak
DARA kelahiran Yogyakarta, 3 Desember 1994 ini selama pandemi jadi gemar memasak. Selain menjadi kegiatan untuk mengisi waktu luang, memasak juga bagi Galuh juga sebuah seni.
"Kalau pas pulang aku masak apa aja buat keluarga. Kalau pas ngga pulang masak untuk dinikmati sendiri aja," ungkap Galuh.
Bicara soal mimpi atau cita-cita, Galuh mengaku tak ada hal khusus yang ia ingin wujudkan. Hanya saja, ia ingin apa yang ia kerjakan, apapun itu, bisa membawa manfaat untuk banyak orang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/galuh-paskamagma2.jpg)