Yogyakarta

Galakkan Pendampingan, Pemda DIY Pertahankan Eksistensi Jamu di Tengah Pandemi Covid-19

Popularitas obat tradisional seperti jamu justru melejit di tengah merebaknya pandemi Covid-19. 

Penulis: Yuwantoro Winduajie | Editor: Gaya Lufityanti
Tangkapan layar Youtube Paniradya Kaistimewan
Tangkapan layar acara Rembag Kaistimewan bertajuk tema Jamu, Mempertahankan Eksistensi di Masa Pandemi, Kamis (29/7/2021) yang ditayangkan Youtube Paniradya Kaistimewan. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Popularitas obat tradisional seperti jamu justru melejit di tengah merebaknya pandemi Covid-19

Hal ini juga dapat menjadi momentum untuk mempertahankan eksistensi jamu tradisional dalam kehidupan masyarakat.

Melalui pemanfaatan Dana Keistimewaan (Danais), Paniradya Kaistimewan DIY terus mendorong upaya pengembangan dan pemberdayaan pada kelompok-kelompok produsen obat tradisional di DI Yogyakarta.

Kepala Puskesmas Banguntapan II, Bantul, Wahyu Pamungkasih menjelaskan, mengacu hasil Riskesdas dari tahun 2010 hingga 2018, masyarakat yang menggunakan upaya kesehatan tradisional makin meningkat menjadi sebesar lebih dari 40 persen.

Baca juga: Tingkatkan Daya Tahan Tubuh, Dinkes Sleman Ajak Budayakan Minum Jamu

Hal ini menunjukkan bahwa selain memanfaatkan pengobatan konvensional, masyarakat masih mengandalkan pengobatan tradisional untuk menyembuhkan penyakitnya.

"Misalnya saat batuk pilek, sudah berobat ke dokter habis itu minum jahe, kencur dan lain-lain. Itu sebenarnya mereka melakukan pengobatan tradisional. Jadi sejak dulu sudah ada," terangnya dalam Rembag Kaistimewan bertajuk tema Jamu, Mempertahankan Eksistensi di Masa Pandemi, Kamis (29/7/2021). 

Menurutnya, popularitas obat tradisional semakin melejit di awal masa pandemi Covid-19.

Karena masyarakat takut mengunjungi fasilitas layanan kesehatan, kini makin banyak orang yang beralih ke pengobatan tradisional.

Untuk mengembangkan potensi obat tradisional di DIY, Puskesmas Banguntapan II pun telah melakukan berbagai upaya pendampingan dan pembinaan pada kelompok produsen jamu di wilayahnya.

"Kita sudah ada pembinaan ke kelompok jamu-jamu yang ada. Kami punya puncaknya saat pandemi ini dan ada dukungan Danais jadi kami lebih memacu kelompok yang ada," terangnya.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Sedayu Bantul, Sistia Utami mengatakan, pihaknya terus berupaya untuk mengembangkan potensi obat tradisional jamu di Dusun Watu, Kalurahan Argomulyo, Sedayu.

Baca juga: Pameran Temporer Bojakrama, Suguhkan Tradisi Jamuan Kenegaraan Keraton Yogyakarta

Masyarakat di sana memiliki komitmen untuk melestarikan warisan leluhur dengan berjualan dan memproduksi jamu sebagai jalan mencari rezeki.

Kesetiaan itu masih ada sampai sekarang. Bahkan, usaha para ibu rumah tangga di sana yang tergabung dalam kelompok pengelola jamu Jati Husada Mulya (JHM) ini semakin berkembang seiring semakin majunya pengelolaan jamu.

"Kami melihat di padukuhan di Watu itu banyak penjual jamu tradisional turun temurun. Dulu pakai sepeda, motor, terus sekarang pakai online ya," jelasnya.

Demi mengoptimalkan produksi jamu di kawasan itu, pihaknya telah melakukan upaya pendampingan.

Salah satu tujuannya untuk menjaga higenitas dan sanitasi pada jamu yang diproduksi. 

"Kemudian kini kita dapat pendanaan dari Danais dan kita kembangkan pendampingannya. Kita ajak ibu-ibu menularkan ilmunya ke padukuhan dan desa lain," tambahnya. ( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved