Cerita Relawan DI Yogyakarta di Masa Pandemi Covid-19, Beban Berat Setara Nakes

Relawan menjadi salah satu kelompok yang kerap terlupakan di masa bencana, termasuk pandemi Covid-19. Kiprahnya tetap dibutuhkan

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA/ Ardhike Indah
Inisiator Sonjo, Rimawan Pradiptyo 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Relawan menjadi salah satu kelompok yang kerap terlupakan di masa bencana, termasuk pandemi Covid-19.

Kiprahnya tetap dibutuhkan dengan beban berat setara tenaga kesehatan (nakes) yang sama-sama berjuang membantu kesembuhan pasien dengan virus corona.

Apalagi di DI Yogyakarta yang setiap hari ada saja orang yang terkonfirmasi positif Covid-19. Kebutuhan relawan untuk membantu menyelamatkan lebih banyak nyawa manusia pun sangat dibutuhkan.

Baca juga: KEJUTAN, Ketiban Rezeki dari JNE Yogyakarta, Dua Warga DIY Ini Dapat Kambing Kurban

“Kadang kalau berbicara pandemi, fokusnya nakes dan pasien, tapi di tengah-tengah itu ada relawan. Mereka ini juga membantu pasien Covid-19. Adanya selter ini kan juga dibantu oleh relawan,” ungkap Inisiator Organisasi Kemanusiaan Sambatan Jogja (Sonjo), Rimawan Pradiptyo kepada Tribun Jogja, Kamis (22/7/2021).

Tentu saja, peningkatan jumlah pasien Covid-19 di DI Yogyakarta membuat mereka kewalahan.

Bahkan, di Kabupaten Sleman, setidaknya ada lebih dari 200 orang yang meninggal karena Covid-19 saat isolasi mandiri (isoman).

Hal-hal seperti ini wajib dipikirkan oleh orang yang mampu memikirkan, tidak hanya pemerintah.

Relawan menjadi komponen tidak terelakkan di masa pandemi agar beban rumah sakit tidak semakin banyak.

“Di kampung-kampung ini ada relawan-relawan yang siap membantu pemulasaraan jenazah warga terjangkit Covid-19. Bagaimana mereka akan dimakamkan kalau meninggal di rumah. Ini tugas relawan,” jelasnya lagi.

Maka dari itu, pihaknya berupaya untuk mendukung relawan secara konsisten. Sonjo menghubungkan relawan dengan para donatur yang ingin membantu, khususnya terkait fasilitas yang dibutuhkan.

“Kalau di selter, relawan butuh kasur, ada yang butuh APD, wearpack, itu semua kami coba untuk carikan pemberi donasi. Donasi langsung kami berikan kepada mereka. Kami tidak sepeserpun mencari untung,” kata Rimawan.

Situasi Tidak Baik

Bukan sebuah rahasia jika situasi pandemi di DI Yogyakarta tidak baik-baik saja.

Catatan resmi pemerintah, ada lebih dari 2.000 orang yang meninggal akibat Covid-19 di DIY.

"Tidak, situasinya tidak baik-baik saja. Kadang, mulai jam 20.00 WIB itu malah mulai sibuk, entah yang menguburkan jenazah, mencarikan RS,” tambahnya.

Baca juga: Angka Kasus Positif dan Sembuh Covid-19 Menunjukkan Tren yang Membaik

Para relawan itu seperti tak kenal waktu berjibaku dengan keadaan. Demi rasa kemanusiaan, mereka rela tidur larut agar warga yang terjangkit Covid-19 bisa sembuh.

“Banyak kisah menyedihkan. Kadang kalau ada warga yang minta dicarikan bantuan medis karena saturasi turun, ya kami semua berdoa. Sering juga, sudah berdoa, berapa jam kemudian, warganya meninggal. Sedih,” beber Rimawan lagi.

Itu sering terjadi apabila saturasi warga ada di angka di bawah 90. Dengan saturasi senilai itu, warga sulit untuk masuk ke selter dan tetap harus menunggu apabila dirujuk ke RS.

“Ya kalau sudah begitu, kami tinggal berdoa saja, semoga diberi keselamatan, bisa terkendali di RS,” tandasnya. (ard)

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved