Ini Alasan Film Disney Masih Digemari Orang Dewasa
Ternyata ini alasan mengapa masih banyak orang dewasa yang menyukai film garapan Disney.
Penulis: Alifia Nuralita Rezqiana | Editor: MGWR
TRIBUNJOGJA.com – Setiap orang memiliki hobi dan cara masing-masing untuk “beristirahat” dari rutinitas harian yang membuat mereka penat. Salah satunya adalah menonton film.
Cinemovie pada Jumat (27/7/2018) menyebutkan, film merupakan sebuah karya seni yang lengkap karena memuat seni rupa, fotografi, musik, seni peran, hingga seni artistik yang meliputi perancangan interior lokasi pengambilan gambar, properti, make up dan wardrobe.
Selain itu, menonton film memang dapat memungkinkan seseorang untuk “lari” sejenak dari kehidupan nyata. Karena selama beberapa jam menonton film, perhatian orang akan tersita dan fokus pada film yang ditontonnya.
Melalui film, orang juga dapat mempelajari sesuatu, baik itu pelajaran hidup, mengenal berbagai karakter tokoh, mengetahui beragam pekerjaan tokoh, memahami perasaan tokoh, dan sebagainya.
Baca juga: SINOPSIS Film Ali dan Ratu-Ratu Queens yang Tayang di Netflix, Ketika Anak Cari Ibu di New York
Namun, seperti halnya selera orang yang berbeda-beda terhadap pilihan media hiburan, selera pada film juga macam-macam.
Ada orang yang menyukai genre horor, komedi romantis, aksi atau laga, science fiction atau sci-fi, drama, musikal, dan lainnya.
Terlepas dari banyaknya genre yang ditawarkan para filmmaker untuk memanjakan penonton, The Walt Disney Company yang sudah ada sejak 1923 seakan tidak pernah gagal untuk menggaet penonton.
Hampir semua orang di dunia ini mungkin sudah pernah menyaksikan film garapan Disney. Sebut saja film animasi Beauty and The Beast (1991) atau Aladdin (1992) yang keduanya sudah dibuat ulang menjadi film live-action.
Namun, meskipun banyak orang masih menggemari film Disney, ada juga sebagian yang kurang suka dengan film garapan Disney.
Salah satu alasannya adalah stereotip perempuan “lemah” yang ditampilkan dalam film Disney.
Baca juga: SINOPSIS Film Adventureland Tayang Streaming di Mola TV
Seperti diketahui, film Disney era lama seperti Snow White (1937), Cinderella (1950), dan Sleeping Beauty (1959) misalnya, masih menggambarkan perempuan sebagai sosok baik hati dan lemah lembut yang menantikan kehadiran pangeran untuk menyelamatkan hidupnya.
Stereotip perempuan lemah di film Disney lambat laun mulai pudar. Seperti dilansir dari BBC pada Kamis (1/8/2019), pada era 1990-an, film Disney mulai menunjukkan perubahan melalui kemunculan film The Little Mermaid (1989), Aladdin (1992), Pocahontas (1995) dan Mulan (1998).
Keempat film populer tersebut memunculkan karakter perempuan yang cenderung “memberontak” dari aturan masyarakat.
Tokoh Pocahontas, Mulan, Ariel dalam The Little Mermaid, dan Jasmine dalam Aladdin, digambarkan sebagai sosok perempuan yang kuat, mandiri, serta penuh semangat untuk menggapai mimpi.
Hal baik tersebut terus berlanjut dengan hadirnya film Brave (2012), Frozen (2013), Moana (2016), dan Frozen II (2019). Film-film ini mampu menunjukkan bahwa perempuan dapat melakukan hal besar meski tanpa kehadiran sosok laki-laki.
Baca juga: Bikin Nangis! Inilah Rekomendasi Film dan Drama Korea Paling Sedih Tentang Keluarga
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/soundtrack-film-disney.jpg)