Inilah Pesan Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan HB X Saat Gelar Sapa Aruh

Raja Keraton Yogyakarta sekaligus Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X ema Jogja Eling lan Waspodo, Wilujeng Nir In

Tayang:
Penulis: Yuwantoro Winduajie | Editor: Iwan Al Khasni
Dok TRIBUNJOGJA.COM |
Sri Sultan Hamengku Buwono X 

Pesan Raja Keraton Yogyakarta Saat Gelar Sapa Aruh

Sri Sultan Hamengkubuwono X
Sri Sultan Hamengkubuwono X (Dok TRIBUNJOGJA.COM)

TRIBUNJOGJA.COM Yogyakarta - Raja Keraton Yogyakarta sekaligus Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X menggelar lagi Sapa Aruh atau menyapa warga.

Sapa Aruh adalah cara Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk menyampaikan pesan khusus kepada masyarakat Yogyakarta.

Pada awal Februari 2021, Sri Sultan HB X sempat menggelar Sapa Aruh di Bangsal Kepatihan.

Raja Keraton Yogyakarta ini, kala itu mengajak masyarakat untuk bahu-membahu dan terlibat aktif dalam upaya penanganan pandemi Covid-19.

Sedangkan kali ini Sapa Aruh adalah acara keempat empat sejak pandemi Covid-19 menerpa wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta pada Maret 2020.

Selasa (22/16/2021), sapa aruh digelar untuk merespons fenomena lonjakan kasus positif selama sepekan terakhir.

Data terakhir kasus konfirmasi positif di Daerah Istimewa Yogyakarta sempat menempati rekor tertinggi dalam dua hari terkahir.

Ada penambahan sebanyak 665 kasus pada Minggu (20/6/2021) dan pada Senin (21/6/2021)  sebanyak 662 kasus baru

Mengusung tema Jogja Eling lan Waspodo, Wilujeng Nir Ing Sambikala ( Ingat dan Waspada, selamat dari segala rintangan, marabahaya, atau malapetaka)

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X saat menyampaikan pidato dalam kegiatan sapa aruh yang digelar di Bangsal Kepatihan pada Selasa (22/16/2021)
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X saat menyampaikan pidato dalam kegiatan sapa aruh yang digelar di Bangsal Kepatihan pada Selasa (22/16/2021) (Tibun Jogja/Yuwantoro Winduajie)

Pada intinya Sultan berharap agar pandemi di DIY ini bisa dilalui bersama dan masyarakat dapat menjadi subjek kebijakan sehingga dapat berperan aktif mencegah penyebaran Covid19 di DIY.

Masyarakat perlu menjadi subjek dalam sebuah kebijakan karena sebaik dan sekuat apapun regulasi bisa menjadi tak berarti apabila kebijakan itu diabaikan dan tidak dilaksanakan dengan kerelaan warga.

"Kita harus Lilo lan Legowo (rela dan Ikhlas) dengan menyadari sedikit kelengahan dapat memperparah dampak pageblug ini," ungkap Sri Sultan dalam pidatonya.

Sultan pun menyinggung wacana karantina wilayah atau lockdown yang dulu sempat dilontarkannya.

Menurutnya, kebijakan tersebut dapat diberlakukan, sebagai upaya terakhir dalam mencegah meluasnya pandemi di DIY.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved