Breaking News:

Covid 19

Kisah Nakes Wisma Atlet: Pantang Pulang Sebelum Corona Tumbang

Evi bercerita, saat bulan puasa hingga Idul Fitri, tingkat keterisian tempat tidur isolasi tidak penuh, banyak kosong.

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Hendy Kurniawan
*Warta Kota/Henry Lopulalan
Petugas mempersiapkan ruang rawat inap pasien Covid-19 di tower 8 Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (15/6/2021). Tower 8 RSD Wisma Atlet Kemayoran dapat menampung 1.569 pasien Covid-19. 

TRIBUNJOGJA.COM. JAKARTA - Penambahan angka positif Covid-19 harian Indonesia kembali meningkat. Per Rabu (16/6/2021), angkanya bertambah nyaris menyentuh angka 10 ribu. Kasus Covid-19 di Indonesia mencapai 1.937.652.

Presiden Joko Widodo kerap menjadikan fasilitas darurat Wisma Atlet sebagai acuan mengenai bagaimana situasi Covid-19 di Indonesia. Kini, Wisma Atlet penuh. Tingkat keterisian mencapai 75,05 persen atau sudah dihuni 5.551 pasien dari total 7.394 tempat tidur.

Salah satu tenaga kesehatan (nakes) di Wisma Atlet, Evi Ina Sasauw (27), menceritakan video viral mengenai kondisi darurat di Wisma Atlet, memang seperti itu realitanya. Ramai antrean pasien, bahkan sampai duduk di lantai. "Memang itu kondisi riil Wisma Atlet, IGD tower 4 dan tower 6 memang seperti itu kondisinya. jadi yang kita hadapi sekarang pasien membeludak banyak," ujarnya kepada Tribun Network, Rabu (16/6/2021).

Evi bercerita, saat bulan puasa hingga Idul Fitri, tingkat keterisian tempat tidur isolasi tidak penuh, banyak kosong. Namun, selang sepekan usai Lebaran, jumlah pasien mulai memperlihatkan peningkatan. "Seminggu belakangan (naik) drastis," ucapnya.

Dia berkisah, saat ini perawat bisa menangani 40-60 pasien per lantai, karena tingkat keterisian yang hampir penuh. "Kalau sekarang kan dibuka semua karena penuh. Karena lonjakan pasien. Tambahan SDM (sumber daya manusia) baru berjalan. Semoga lancar, sehingga bisa bantu teman-teman," tuturnya.

Meski Wisma Atlet tengah penuh, Evi tak mengendurkan semangatnya untuk tetap merawat para pasien. Karena sejak 15 bulan lalu, ia telah meneguhkan dirinya untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat.

"Komandan lapangan kami begitu memotivasi dan memberikan contoh kalau kita relawan di sini harus bisa memberikan pelayanan yang baik, pantang pulang sebelum corona tumbang. Kita diberikan contoh dan pimpinan yang memotivasi," ucap Evi.

Sempat Ditentang

Jiwa Evi terpanggil. Sejak 16 Maret tahun lalu, ia memilih untuk pergi dari Manado ke Jakarta. Terutama untuk membantu para pasien Covid-19 di Wisma Atlet. "Saya terpanggil untuk membantu sesama. Sebagai nakes, kami perawat disumpah untuk melayani sesama atau pasien," ucapnya.

Awalnya, lanjut dia, orang tua tidak mengizinkan karena Covid-19 adalah sesuatu yang baru terdengar. Namun, lantaran memiliki niat baik untuk membantu, orang tuanya pun memberikan izin. "Di sini mau jadi relawan membantu sesama, saya nekat berangkat ke sini," ucap Evi.

Dengan adanya lonjakan kasus, Evi berharap masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan. Dan menyadari bahwa pandemi Covid-19 belum selesai. Penting kerja sama antarseluruh pihak untuk memutus rantai Covid-19. "Dan jangan sekali-sekali mengucilkan yang kena (positif Covid-19) karena akan berdampak kepada pasien yang di sini. Imun pun jadi turun," kata Evi. (*)

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved