Filosofi Perajin Gerabah Tradisional Borobudur Magelang
JARI-jemari wanita paruh baya asal Desa Karanganyar, Kecamatan Borobudur, Magelang nampak sibuk memilin tanah liat (lempung)
Penulis: Nanda Sagita Ginting | Editor: Iwan Al Khasni
JARI-jemari wanita paruh baya asal Desa Karanganyar, Kecamatan Borobudur, Magelang nampak sibuk memilin tanah liat (lempung) yang dibuat memanjang untuk dibentuk menjadi sebuah kendi.
Tribunjogja.com | Magelang | Nanda Sagita Ginting
HAMPIR 30 tahun lamanya, Paryati (47) seorang perajin gerabah menjalani aktivitas ini setiap harinya.
Dengan dibantu alat sederhana, yakni perbot (meja putar kecil).
Tanah liat itu, diputar-putar di atasnya hingga memiliki bentuk yang diinginkan.
"Saya mulai buat ini (gerabah), sejak kecil. Karena, orangtua juga seorang pembuat gerabah,
"Jadi belajarnya di situ, dengan melihat langsung. Bisa dibilang, keahlian ini sudah turun temurun," jelasnya kepada Tribunjogja.com.
Proses pembuatan gerabah milik Paryati terbilang tidak sedeharna.
Semua proses pembuatan masih dilakukan dengan cara tradisional.
Mulai dari proses pembentukan hingga pembakaran dibuat tanpa bantuan alat modern atau masih manual.
"Dari dulu sampai sekarang memang tetap mempertahankannya (gerabah) harus dibuat secara tradisional sesuai warisan leluhur.
"Karena, bagi saya membuat gerabah itu bukan hanya semata untuk mencari uang. Melainkan, juga untuk menjaga warisan para nenek moyang terdahulu," tuturnya.
Adapun pembuatan gerabah, pada proses awal saja harus melewati tiga tahap mulai dari pengolahan tanah liat (Ngeleler) yang memakan waktu hingga 2 jam.
Kemudian, tanah liat harus dipukul-pukul (Ngelambung) dengan bantuan batu agar didapatkan bentuk yang lebih padat.
Setelah itu, tanah baru bisa dibentuk sesuai yang diinginkan seperti kendi, wajan, cangkir, hingga piring.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/lestarikan-warisan-leluhur-wanita-asal-magelang-ini-geluti-profesi-perajin-gerabah-selama-30-tahun.jpg)