Gaspol 52

Dayang DY 125 T, Trail Jadul Rasa Honda XR

MOTOR trail seolah tak pernah mati. Bahkan, belakangan motor penggaruk tanah ini naik daun lagi.

Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Agus Wahyu
Dayang DY 125 T, Trail Jadul Rasa Honda XR - gaspol-dayang1.jpg
TRIBUNJOGJA.COM/HANIF SURYO NUGROHO
CUSTOM & Classic Motorcycle Enthusiast asal Kulon Progo, Kus Yanuardi dan motor Dayang DY 125 T miliknya.
Dayang DY 125 T, Trail Jadul Rasa Honda XR - gaspol-dayang2.jpg
TRIBUNJOGJA.COM/HANIF SURYO NUGROHO
CUSTOM & Classic Motorcycle Enthusiast asal Kulon Progo, Kus Yanuardi dan motor Dayang DY 125 T miliknya.
Dayang DY 125 T, Trail Jadul Rasa Honda XR - gaspol-dayang3.jpg
TRIBUNJOGJA.COM/HANIF SURYO NUGROHO
CUSTOM & Classic Motorcycle Enthusiast asal Kulon Progo, Kus Yanuardi dan motor Dayang DY 125 T miliknya.
Dayang DY 125 T, Trail Jadul Rasa Honda XR - gaspol-dayang4.jpg
TRIBUNJOGJA.COM/HANIF SURYO NUGROHO
CUSTOM & Classic Motorcycle Enthusiast asal Kulon Progo, Kus Yanuardi dan motor Dayang DY 125 T miliknya.

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA -  Di Indonesia, hampir semua daerah memiliki kelompok komunitas pecinta motor trail.

Belakang, selain trail keluaran terbaru, motor-motor lawas juga diburu penggemar lagi. Sekadar informasi, motor trail mencapai masa jayanya pada era 1970-1980 an. Beberapa pabrikan dunia baik Jepang, China, dan bahkan Eropa melansir berbagai model.

Satu di antara motor lawas bergenre trail yang pernah dirilis di tanah air, ialah Dayang DY 125 T. Motor pabrikan China ini merupakan motor lawas bergenre trail yang kini diburu lagi.

"Ini bukan motor custom, melainkan motor trail pabrikan Dayang DY 125 T. Apabila dilihat sekilas, menyerupai Honda XL 185 S. Meski tetap memiliki detail yang berbeda," ujar Custom & Classic Motorcycle Enthusiast asal Kulon Progo, Kus Yanuardi (29).

Benar saja, tampilan Dayang DY 125 T ini sangat identik Honda XL 185 yang merupakan satu varian dari lini XL yang jadi andalan Honda untuk segmen dual sport atau enduro, baik dari bodi maupun frame.

Adapun Dayang DY 125 T milik Yanu merupakan motor produksi 2006, yang ia dapat dari Pacitan, Jawa Timur. Kondisi motor orisinil masih ia pertahankan, termasuk tangki berikut stiker bodi.

Makin menunjukkan kesan trail lawas pada tampilan Dayang DY 125 T ini, kelir kuning pada tangki dan striping body, mempertegas tampilan menjadi lebih segar. Posturnya jangkung dengan kaki-kaki tinggi dan bodi yang ramping, juga dimiliki Dayang DY 125 T ini.

Headlamp dan sein-seinnya masih berdesain bulat yang populer pada zamannya. Tangki penyimpanan bahan bakarnya juga berdesain mungil dipadu dengan jok panjang dan berbusa tebal yang memberikan kenyamanan tersendiri untuk para pengendaranya.

Berbeda dengan motor trail yang sudah modern untuk zaman sekarang ini yang sudah monoshock, bagian suspensi belakangnya masih menggunakan dua shock, memberikan karakter lembut pada suspensi tak didapatkan sama pada jenis suspensi monoshock. Begitu juga lengan arm dari pipa besi terlihat sangat kokoh .

Sistem rem belakang yang masih menggunakan tromol. Sedangkan, bagian knalpot menonjolkan kesan lagi pada motor era 80-an, menggunakan model undertail.

"Mulanya memang menggeluti motor kustom, dari japstyle, hingga chopper. Namun lantaran makin menjamur, terbesit keinginan untuk beralih ke motor trail lawasan. Apalagi ketika ditunggangi di jalanan, penampilannya terlihat sangat gagah," ujarnya.

"Menurut saya motor trail lawas ini menarik. Sebab, saya juga cari tunggangan untuk dipakai harian, saya merasa trail lawasan ini sangat fungsional. Di samping menambah kegantengan di jalanan," tambahnya.

Jadi Incaran Pecinta Trail Lawasan
DAYANG DY 125 T menjadi satu di antara trail lawas yang diincar para pecinta motor penggaruk tanah. Sebab, populasi motor ini pun jumlahnya tak banyak dan kini semakin langka dijumpai di jalanan.

Tak heran, motor yang dulunya dipandang sebelah mata ini, harganya semakin tinggi. "Harganya semakin kesini semakin naik, yang jelas disebabkan langkanya unit Dayang DY 125 T, apalagi dalam kondisi utuh. Di samping unit yang tak lagi diproduksi, ketika itu rentang produksi Dayang DY 125 T juga tak panjang. Sehingga, motor yang dulunya berpusat industrinya di Surakarta ini sudah jarang ditemui," ujar pemilik akun instagram @OWNDISASTER ini.

Sebagai salah satu varian model trail yang mengisi pasar otomotif saat itu, Dayang DY 125 T berani bersaing dengan produk keluaran jepang, semisal Suzuki TS 125 dan Yamaha YT 135. Serta beberapa merk keluaran China lainnya yang juga mengeluarkan jenis yang sama di antaranya pabrikan Jialing.

Dengan harga yang lebih kompetitif, dibanding produk keluaran Jepang yang pada saat itu ada, Dayang DY 125 T sudah menggunakan mesin jenis 4-tak, serta dilengkapi elektrik starter. Dayang DY 125 T mampu merebut sedikit pasar penggemar sepeda motor varian trail yang pada saat itu, meski jenis merek suzuki TS mendominasinya pasarnya.

"Secara teknologi , Dayang 125 T dengan mesin 4-tak, lebih efisien dalam konsumsi BBM dibanding jenis mesin 2 tak," terang Yanu.

Selain itu, elektrik starter yang sudah disematkan pada motor ini juga memberikan kemudahan dalam pengoperasian-nya. "Kalau soal sparepart, saya rasa bukan jadi kendala karena bisa disubstitusi menggunakan merk Honda seperti GL Series," tandasnya. (han)

Selengkapnya baca Tribun Jogja edisi Minggu (06 Juni 2021) halaman 08

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved