Breaking News:

Bisnis

Wacana Pembukaan Penerbangan Internasional, 10 Hotel di Yogya Ajukan Verifikasi Jadi Tempat Isolasi

Sejumlah hotel di Kota Yogyakarta mulai mengajukan verifikasi kepada pemerintah setempat, untuk dijadikan tempat karantina mandiri.

Penulis: Azka Ramadhan
Editor: Gaya Lufityanti
Pixabay.com / Engin_Akyurt
ilustrasi hotel 

TRIBUNJOGJA.COM - Sejumlah hotel di Kota Yogyakarta mulai mengajukan verifikasi kepada pemerintah setempat, untuk dijadikan tempat karantina mandiri bagi pelaku perjalanan dari luar negeri.

Hal tersebut, seiring keluarnya wacana pembukaan kembali penerbangan internasional.

Kepala Dinas Pariwisata (Dinpar) Kota Yogyakarta, Wahyu Hendratmoko menjelaskan, wacana dari pemerintah pusat memang akan membuka penerbangan internasional di YIA dalam waktu dekat.

Namun, pihaknya belum mendapat kepastian tanggal dan masih menunggu instruksi.

"Karena harus melihat perkembangan COVID-19 dunia juga. Tapi, ada peraturannya, setiap penumpang yang baru saja melakukan perjalanan internasional wajib karantina mandiri selama tiga hari empat malam. Baik dia WNI, maupun WNA," ungkap Wahyu, Rabu (26/5/2021).

Baca juga: Hotel di DI Yogyakarta Akan Dimanfaatkan untuk Tempat Karantina bagi WNA dan WNI dari Luar Negeri

Menurutnya, peraturan tersebut menjadi semacam ceruk pasar tersendiri bagi para pengusaha jasa akomodasi atau perhotelan. Terang saja, saat ini beberapa hotel pun telah mengajukan izin ke Dinpar DIY dan disyaratkan untuk memperoleh rekomendasi dari daerah tingkat II.

"Jadi, Dinpar DIY mensyaratkan rekomendasi dari Dinpar kabupaten atau kota, serta Satgas Covid-19. Kalau di Kota Yogyakarta sendiri, sudah ada 10 hotel yang mengajukan verifikasi, semua hotel berbintang," terangnya.

"Dari kesepuluh hotel tersebut, sekarang ada yang masih proses verifikasi. Kemudian, ada juga yang beres, dan mau ditandatangani (rekomendasinya)," lanjut Wahyu.

Menurutnya, proses verifikasi harus ditempuhnya, karena Dinpar wajib memastikan ruangan isolasi bagi para pelaku perjalanan internasional itu benar-benar terpisah dengan layanan tamu hotel yang lain. Sehingga, karantina yang dilakukan bisa efektif, tidak sekadar menginap.

Baca juga: Pandemi Tak Kunjung Berakhir, Puluhan Hotel dan Restoran di DIY Pilih Gulung Tikar

"Misalnya, hotelnya ada 8 lantai. Nah, yang lantai 8 nanti dikhususkan untuk isolasi. Mereka harus terisolir dulu dari dunia luar. Tidak boleh keluar, tidak boleh ada tamu, makan diantar 3 kali sehari, interaksi cuma dengan room service. Terus, keluarnya juga harus swab test," ujarnya.

Wahyu menuturkan, para pelaku perjalanan internasional sudah terskrining sejak masuk YIA. Karena itu, di airport, mereka bakal langsung mendapat penawaran hotel dan tempat penginapan yang bisa dijadikan tujuan untuk karantina, dengan berbagai harga dan fasilitas.

"Nanti di sana disampaikan alternatifnya. Misal, Hotel A dengan biaya segini, bisa dijemput dan sebagainya. Kami serahkan pada hotel harganya, karena mereka harus menyiapkan makanan, biar dihitung," katanya.

"Sementara (biaya akomodasi) dibebankan pada pelaku penerbangan internasional. Hotel tetap diperbolehkan menerima tamu lain, tapi harus dipastikan semuanya, fasilitasnya, dipisahkan," pungkas Wahyu. ( Tribunjogja.xom )

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved