Kota Yogyakarta

Forpi Kota Yogyakarta Komentari Aduan Masyarakat Soal Harga Sundul Langit Pecel Lele di Malioboro

Warganet dihebohkan dengan adanya video pernyataan seorang remaja yang kaget dengan harga makanan pecel lele yang menurutnya tak wajar.

Penulis: Miftahul Huda | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Maruti Asmaul Husna
Anggota Forpi Kota Yogyakarta, Baharuddin Kamba. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Warganet dihebohkan dengan adanya video berdurasi sekitar 59 detik berisi tentang pernyataan seorang remaja yang terkaget-kaget dengan harga makanan pecel lele yang menurutnya di luar kewajaran.

Video tersebut diunggah oleh akun instagram @cetul.22 yang memperlihatkan seorang remaja putri menceritakan sedang berada di kawasan Malioboro Kota Yogyakarta.

"Hai semuanya sekarang aku di Jalan Malioboro. Terus di pinggiran sini banyak banget lesehan-lesehan yang menurut gue harganya tu di luar nalar. Yang kita kenal di Yogyakarta tuh makanannya murah-murah. Tapi terlepas ini daerah wisata, menurut gue ya okelah, lele sama nasi Rp20 ribu. Nasi biasanya berapa sih? Rp4 ribu, Rp7 ribu. Ternyata gaes, kita mau pesen lalap nambah Rp10 ribu lagi," kata remaja dalam video tersebut.

Video pernyataan itu pun sampai pukul 15.40 telah tayang 8.817 di instagram dengan 242 komentar dari netizen.

Baca juga: Viral Pedagang Nuthuk di Malioboro, Wawali Kota Yogya : Sanksinya Ditutup Selamanya

Sebuah akun @pantaubola2021 misalnya, ia merespon dan menceritakan pengalaman serupa seperti halnya yang dialami remaja dalam video tersebut.

"Pernah juga di Jalan Malioboro makan bebek ditembak gitu. Tapi syukurnya waktu itu ada orang kayaknya paguyuban atau apalah gak ngerti. Yang jelas pas lihat saya digetok harga langsung diomelin bahkan diancam suruh tak bisa jualan lagi di sana. Akhirnya jadi harga normal. Bayangin 6 orang kali Rp70 ribu seorang. Lumayan akhirnya cuma Rp25 ribu perorang," tutur akun @pantaubola2021.

Adanya video tersebut turut direspon anggota Forpi Kota Yogyakarta, Baharuddin Kamba yakni 'nuthuk' harga makanan atau menaikan tarif harga makan di luar kewajaran sudah sering terjadi. 

"Khususnya dimomen hari libur seperti libur Lebaran. Semacam penyakit tahunan yang kerap terjadi dan hingga saat ini tidak ada efek jera karena terjadi lagi dan lagi," katanya kepada Tribunjogja.com, Rabu (26/5/2021).

Kedua, menurut Kamba sanksi selama ini dengan menutup sementara warung lesehan yang 'nuthuk' harga sifatnya sementara.  

Sehingga lanjut Kamba, dimungkinkan hal tersebut (nuthuk) harga oleh pedagang kembali terulang. 

Baca juga: Dorong UKM Go Digital, Pemkot Yogya Bakal Maksimalkan Platform di JSS

"Kalaupun ditutup secara permanen bisa jadi yang jualan bukan pelaku 'nuthuk' harga melainkan kerabatnya atau bisa juga warungnya dijual ke orang lain," ungkapnya.

Ketiga, ia mengatakan memasang harga  makanan di luar kewajaran sama halnya dengan 'nuthuk' tarif parkir, dan itu menurutnya jelas merusak citra Kota Yogyakarta sebagai kota wisata. 

"Sanksi tegas harus dilakukan dapat berupa, misalnya bantuan sosial, dicabut. Dengan catatan perbuatannya  (nuthuk) harga makanan termasuk 'nuthuk' tarif parkir dilakukan secara berulang selama tiga kali," katanya.

Yang terakhir, Kamba menekankan kanal-kanal aduan termasuk petugas Jogoboro maupun SatPol PP Kota Yogyakarta agar dapat bertindak responsif terhadap aduan atau keluhan dari warga. 

"Karena selama ini aduan maupun keluhan warga lebih banyak disampaikan di media sosial," pungkasnya.( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved