Pendidikan
Dewan Pendidikan DIY Dukung Pembelajaran Tatap Muka di SD dan SMP Kota Yogyakarta
Pemkot Yogyakarta akan kembali menyelenggarakan simulasi Pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas pasca libur lebaran.
Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta akan kembali menyelenggarakan simulasi Pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas pasca libur lebaran.
Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, menyampaikan PTM yang akan digulirkan per 20 Mei nanti masih mencakup 10 sekolah.
Kesepuluh sekolah tersebut sebelumnya telah menjalani uji coba pelaksanaan PTM pada 28 April-7 Mei 2021.
Ketua Dewan Pendidikan DIY, Prof Danisworo mendukung kebijakan tersebut.
Baca juga: Rencana Uji Coba Pembelajaran Tatap Muka Dilakukan 20 Mei, Sejumlah Sekolah Lakukan Skrining Siswa
Namun, ia memberi catatan bahwa hasil evaluasi simulasi PTM terbatas yang telah berlangsung sebelumnya harus baik.
"Sebelumnya kan sudah ada simulasi PTM, tergantung hasil evaluasi itu. Kalau bisa tetap disiplin dan tidak ada klaster (COVID-19) itu menjadi modal untuk diteruskan, menjadi percontohan untuk sekolah lain. Paling tidak di kota dulu, tempat lain saya juga masih khawatir," ujarnya saat dihubungi Tribunjogja.com, Selasa (18/5/2021).
Ia pun mendukung penerapan PTM terbatas yang tidak melibatkan murid dari semua kelas, melainkan baru kelas 4 dan 5 terlebih dahulu yang notabene lebih mudah diatur dan diarahkan.
Selain itu, pembelajaran tidak dilakukan sehari penuh dan tidak setiap hari.
"Kelas juga hanya diisi separuhnya. Saya pikir ini diteruskan saja. Tidak ada masalah," imbuhnya.
Baca juga: Pembelajaran Tatap Muka Bertahap di Kota Yogyakarta Dimulai 20 Mei 2021, Mobilitas Murid Didata
Ditanya terkait screening perjalanan murid yang akan dilakukan oleh sekolah, Danisworo mengatakan, hal itu bagus dilakukan.
"Karena mungkin mereka berinteraksi dengan OTG (orang tanpa gejala), kita tidak tahu. Guru saya kira sudah divaksinasi. Juga perlu dukungan orang tua, misalnya dalam antar jemput. Kalau transportasi umum saya juga khawatir," lanjutnya.
Danisworo menambahkan, pihak komite sekolah juga perlu memberi informasi terbuka kepada para orang tua.
"Komite harus persuasif kepada orang tua bahwa ini (PTM) aman, tidak ada klaster baru. Misalnya mengabarkan bahwa di kelas saat ada istirahat atau hari lain harus disemprot dulu dengan disinfektan. Saling menginformasikan yang terjadi di sekolah, dengan kejujuran dan tidak menutup-nutupi," ungkapnya. ( Tribunjogja.com )
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ilustrasi-guru.jpg)