Breaking News:

Penjualan Bakpia Menurun Drastis saat Libur Lebaran karena Penyekatan dan Larangan Mudik 2021

Pelarangan dan penyekatan pada libur Lebaran 2021 berdampak pada bisnis bakpia. Tak banyak wisatawan dari luar daerah yang datang, membuat penjualan

Penulis: Santo Ari | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA/ Santo Ari
Aktivitas membuat bakpia di salah satu produsen di kampung Pathuk, Yogyakarta 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pelarangan dan penyekatan pada libur Lebaran 2021 berdampak pada bisnis bakpia. Tak banyak wisatawan dari luar daerah yang datang, membuat penjualan bakpia menurun drastis.

Sumiyati, Ketua Koperasi Bakpia Sumekar di Kampung Pathuk, Yogyakarta mengatakan bahwa pangsa pasar terbesar dari bakpia adalah para wisatawan dari luar daerah.

Mereka yang datang akan membeli bakpia untuk keperluan oleh-oleh.

Baca juga: SALUT! Tak Emosi, Ini Reaksi Kang Mus Preman Pensiun Saat Kena Cegatan Petugas di Nagrek

Maka dari itu, dengan adanya pelarangan dan penyekatan ini membuat para produsen bakpia di kampung Pathuk kehilangan para pelanggan mereka.

"Penurunan juga terjadi di Lebaran tahun kemarin. Tapi kalau tahun kemarin, kami maklum dan tidak terlalu berharap karena saat itu awal pandemi. Nah setelah satu tahun, timbul harapan, kami berharap Lebaran tahun ini dapat meningkatkan penjualan, tapi ternyata tahun ini ada penyekatan dan pelarangan mudik," ujarnya Senin (17/5/2021).

Sumiyati menjelaskan, di saat sebelum pandemi penjualan bakpia memang turun saat puasa. Namun hal itu akan tergantikan saat libur hari raya Idul Fitri. Di mana pemesanan bisa sampai 500 dos per hari, bahkan bisa lebih.

"Kalau saya sendiri, biasanya hari pertama lebaran bisa keluar 500 dos. Tapi sekarang dengan adanya pandemi dan penyekatan, hanya bisa menjual paling banyak 50 dos per hari," ujar pemilik dari Bakpia Pathuk 543 Sonder ini.

Walaupun produsen bakpia juga melakukan penjualan via online, namun jumlah penjualan dengan sistem tersebut juga tidak terlalu banyak dan tidak menambah pendapatan secara signifikan.  

"Memang ada yang minta untuk dikirim, tapi tidak seberapa. Para produsen lebih banyak menitipkan bakpianya di toko oleh-oleh. Toko oleh-oleh inilah yang memasarkan bakpia secara online. Tapi biasanya jika ada pemesanan akan digabung dengan makanan lain seperti yangko atau ampyang," jelasnya.

Baca juga: BREAKING NEWS: Balon Udara Misterius Meledak di Klaten, Warga Sempat Dengar 4 Kali Ledakan

Sementara bagi mereka yang melakukan sistem penjualan langsung dan tidak melalui toko oleh-oleh, maka akan terasa sekali penurunannya di kondisi saat ini.

"Lebaran hari pertama kemarin paling bisa keluar 50 dos. Di mana satu dos dijual Rp 24 ribu. Hasilnya untuk menutup biaya produksi saja masih kurang," tandasnya.

Ia dan para pelaku usaha bakpia berharap ada solusi dari pemerintah, setidaknya ada kelonggaran bagi wisatawan untuk datang ke DIY. (nto) 

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved