Mutiara Ramadan Kerja Sama LDNU DIY
Hikmah Bulan Ramadan
Ramadan adalah bulan keberkahan dan hikmah, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis dari Abu Hurairahra.
Oleh: Abdel Baseer SThI MPd, Pengurus LD PWNU DIY
TRIBUNJOGJA.COM - Ramadan adalah bulan keberkahan dan hikmah, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis dari Abu Hurairahra. ia berkata: Rasulullah saw. memberikan kabar gembira kepada para sahabat beliau.
Beliau bersabda: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, yaitu bulan yang diberkahi, Allah telah memfardhukan (mewajibkan) atas kalian berpuasa di bulan itu. Di bulan itu dibukalah pintu-pintu surga dan ditutuplah pintu-pintu neraka, dan di bulan itu pula ada Lailatul Qadar (Malam Qadar) yang lebih baik dari seribu bulan, siapa saja yang terhalang dari kebaikan malam itu maka ia terhalang dari rahmat Tuhan.”(HR. al-Nasa’i)
Di antara hikmah bulan Ramadan adalah adanya pengabulan doa bagi orang yang berdoa; penerimaan tobat orang yang bertobat, dan pengampunan bagi orang yang mohon ampunan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis Qudsi yang panjang, yang diriwayatkan dari Ibn Abbas ra.
Di dalam bagian hadis ini disebutkan:“Dalam setiap malam bulan Ramadan Allah ‘azza wajalla berseru sebanyak tiga kali: Adakah orang yang meminta maka aku penuhi permintaannya? Adakah orang yang bertobat maka aku terima tobatnya? Dan adakah orang yang memohon ampunan maka aku ampuni dia?” (HR. Al-Thabrâni dan al-Baihaqî).
Sementara itu, hikmah berpuasa Ramadan antara lain adalah mensyukuri nikmat Tuhan yang diberikan kepada kita selama ini. Karena makna ibadah secara mutlak, termasuk ibadah puasa, merupakan ungkapan syukur dari seorang hamba kepada Tuhannya atas nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya.
Dalam puasa Ramadan setidaknya ada 3 faedah (manfaat), yaitu fâ’idahrûhiyyah (manfaat psikologis/spiritual/kejiwaan), fâ’idahijtimâ’iyyah (manfaat sosial-kemasyarakatan) dan fâ’idahshihhiyyah(manfaat kesehatan).
Faedah kejiwaan dari berpuasa Ramadan adalah pembiasaan diri kita agar berlaku sabar, ajaran agar kita mengekang hawa nafsu, dan ekspresi atau ungkapan mengenai karakteristik takwa yang tertanam dalam hati. Takwa itulah yang menjadi tujuan khusus dalam berpuasa Ramadan.
Adapun faedah sosial-kemasyarakatan dalam puasa Ramadan ini adalah pembiasaan kita, umat Islam, untuk tertib, disiplin dan bersatu padu, cinta keadilan dan kesetaraan di antara umat Islam: antara yang kaya dan yang miskin, antara pejabat dan rakyat, antara pengusaha dan karyawan, dan seterusnya.
Tidak ada perbedaan di antara mereka, semuanya wajib berpuasa ketika telah memenuhi persyaratannya. Dan faedah sosial dari puasa juga sebagai pembentukan rasa kasih sayang dan berbuat baik di antara kaum Muslim, sebagaimana puasa Ramadan ini melindungi masyarakat dari keburukan-keburukan dan kemafsadatan.
Dalam hadis Nabi saw Ramadan disebut juga sebagai Syahrul Muwasah, bulan yang penuh dengan kedermawanan dan saling tolong menolong.
Sedangkan faedah kesehatan dari berpuasa Ramadan adalah untuk membersihkan usus-usus dan pencernaan, memperbaiki perut yang terus-menerus beraktivitas, membersihkan badan dari lendir-lendir/lemak-lemak, kolesterol yang menjadi sumber penyakit, dan puasa dapat menjadi sarana diet atau pelangsing badan.
Oleh karena itu, marilah Bulan Ramadan ini, kita jadikan bulan kesederhanaan, bulan peribadatan, bulan memperbanyak berbuat kebajikan kepada orang-orang fakir dan orang-orang yang membutuhkan bantuan; bulan perlindungan badan kita, ucapan kita dan hati kita dari hal-hal yang dilarang agama, seperti perkataan keji (qaulaz-zûr), ghibah, menebar hoaks, fitnah, hatespeech (ujaran kebencian); adu domba, baik secara langsung maupun melalui media-media digital, media elektronik, televisi, radio, internet, dan media sosial (medsos).
Intinya, kita jadikan bulan Ramadan ini bulan penyucian badan dan rohani kita dari segala keburukan, agar kita mendapatkan hikmah yang berharga dan keberkahan hidup.
Hakikat dari puasa adalah ketakwaan kepada Allah secara paripurna.Inisepertipesan sahabat Jabir ra.: “Jika kamu berpuasa, maka puasakanlah pendengaran, penglihatan, dan lidahmu dari kebohongan. Tinggalkanlah menyakiti tetangga, buatlah mereka tenang dan tenteram. Dan janganlah engkau menjadikan hari-harimu sama, antara ketika berpuasa maupun tidak.”
Pernyataan sahabat Jabir ini merupakan penjelas dari sabda Rasulullah saw:“Banyak sekali orang-orang yang berpuasa, namun mereka tidak mendapatkan apa pun selain daripada lapar dan haus saja.”
Sebagaimana hubungan antara kata Ramadan dan Shaum. Shaum adalah menahan dari makan dan minum serta dari berbagai hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari.