Breaking News:

Paket Makanan Misterius Berujung Maut

Kasus Sate Beracun, Jogja Police Watch Desak Aiptu T dan Istri Ikut Diperiksa

Pemeriksaan terhadap Aiptu T dan istrinya dianggap penting dilakukan guna memastikan kebenaran atau tidaknya pengakuan dari tersangka NA.

Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Gaya Lufityanti
Kolase Tribunjogja.com | Kompas.com | Miftahul Huda | Markus Yuwono
NA, pelaku pengirim sate beracun (kiri) dan Bandiman, ayah korban sate beracun (kanan) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kasus sate beracun hingga kini masih menjadi perhatian publik.

Polisi telah menetapkan NA sebagai tersangka.

Motif tersangka adalah sakit hati kepada seorang anggota Polisi Resor Kota Yogyakarta (Polresta) berinisial T dengan pangkat Aiptu dan dikenal sebagai penyidik dengan kinerja yang baik di bagian Reskrim Polresta Yogyakarta.

Jogja Police Watch (JPW) mengapresiasi Polres Bantul dan Polda DIY atas keberhasilan menangkap pelaku NA dengan motif sakit hati yang mengakibatkan anak seorang supir ojek online meninggal dunia.

Baca juga: Viral Foto NA Pengirim Sate Beracun Pakai Daster di Sel, Begini Penjelasan Polres Bantul

Kadiv Humas JPW, Baharuddin Kamba, mengatakan yang menarik dari kasus ini adalah pengakuan dari tersangka NA yang menyebut sakit hati kepada T karena menikah dengan perempuan lain.

Padahal, menurut pengakuan tersangka NA, T berjanji menikahi tersangka NA.

Hal yang menarik lainnya, lanjut Baharuddin, adalah tidak tercantumnya nama Aiptu T beserta istrinya dalam daftar nama saksi dalam kasus sate beracun ini.

"Ini sebuah kejanggalan sekaligus tanda tanya besar. Ada apa? Polisi harus menjelaskan secara transparan dan profesional kepada publik terkait tidak adanya nama Aiptu T beserta istrinya.  Jangan ada yang ditutup-tutupi," bebernya, Selasa (4/5/2021).

Baca juga: FAKTA-FAKTA Sosok R dan T yang Disebut dalam Kasus Sate Maut NA, Diburu Polisi dan Netizen

"JPW mendesak kepada Propam Mabes Polri dan Kompolnas untuk turun ke Yogya guna melakukan pemeriksaan terhadap Aiptu T beserta istrinya dalam kasus ini. Segera saja diperiksa," sambungnya.

Baharuddin melanjutkan, hal tersebut penting dilakukan guna memastikan kebenaran atau tidaknya pengakuan dari tersangka NA.

"Kasus sate beracun ini harus diusut tuntas," tambahnya.

Tanggapan Polda DIY 

Polisi belum memberikan keterangan secara gamblang terkait keberadaan Aiptu T, termasuk sejauh mana penyidik dari kepolisian memintai keterangan dari Aiptu T.

Desakan dari beberapa kalangan yang meminta Propam Mabes Polri dan Kompolnas agar melakukan pemeriksaan terhadap Aiptu T beserta istri pun muncul dari Jogja Police Watch.

Merespon hal itu, Kabid Humas Polda DIY Kombes Pol Yuliyanto menjelaskan, sampai saat ini dirinya belum mengetahui apakah pemeriksaan Aiptu T sudah dalam bentuk Berita Acara Pemeriksaan (BAP) atau belum.

"Dia (Aiptu) T sudah dalam bentuk BAP atau belum saya tidak tahu," kata Yuliyanto, di Polda DIY, Selasa (4/5/2021).

Yuliyanto juga belum memastikan apakah Aiptu T telah nikah siri dengan tersangka NA.

Namun demikian, berdasarkan penuturan Ketua RT tempat tersangka NA bermukim, yakni di Cempokojajar, Srimulyo, Piyungan, bernama Agus Riyanto mengatakan bahwa NA telah dinikahi Aiptu T secara siri.

Jika demikian adanya, Aiptu T bisa saja dikenai sanksi etika profesi karena telah berpoligami, karena dalam aturan yang ada TNI/Polri tidak diperkenankan berpoligami kecuali ada izin dari istri dan atasan.

Atura itu tertuang dalam Perkap (Peraturan Kapolri) nomor 6 tahun 2018 tentang perubahan Perkap 9 tahun 2010 tentang pernikahan seorang anggota polisi.

"Saya tidak tahu apa betul T ini nikah siri," tambah Yuliyanto.

Kabar Nikah Siri 

Fakta baru terkait NA (25), perempuan misterius pengirim sate maut terkuak.

Hubungan asmaranya dengan sosok bernama Tomy menarik perhatian lantaran menjadi alasan NA melakukan pembunuhan berencana. 

Ketua RT 03, Cempokojajar, Sitimulyo, Piyungan, Agus Riyanto mengatakan NA adalah warganya yang sudah satu tahun tinggal di Cempokojajar.

Ia pun mengenali sosok Tomy. Bagaimana tidak, NA dan Tomy rupanya telah menikah siri. 

"Tinggal di sini sudah satu tahun, NA kan istri sirinya Tomy. Dulu waktu silaturahmi ke sini berdua. Waktu itu mbak NA sempat telpon orangtuanya, kemudian orangtuanya bilang ke saya nitip anak saya mau tinggal," katanya, Selasa (04/05/2021).

Meski tak menunjukkan bukti keduanya telah menikah siri, Agus percaya keduanya telah menikah secara agama. 

"Ibuknya (NA) bilang kalau sudah menikah secara agama. Kalau menunjukkan bukti enggak, cuma menunjukkan KTP saja. Di sini kan ada peraturan, kalau warga baru wajib lapor," sambungnya.

Ia menyebut NA adalah sosok yang baik. Pria 40 tahun itu pun sempat kaget atas kasus yang menimpa NA.

Ia tidak menyangka NA bisa melakukan hal tersebut.

"Ya sempat kaget, karena kan mbak NA orang baik. Setahu saya kerjanya di kosmetik, bukan di salon. Karena kesibukannya, jadi jarang berkomunikasi dengan warga. Kemarin waktu menempati rumah pertama juga mengundang warga, untuk minta doa," ujarnya.

Pengakuan Keluarga

NA (25), warga asal Desa Buniwangi, Kecamatan Palasah, Kabupaten Majalengka kini harus berurusan dengan polisi.

Pasalnya, ia menjadi pelaku atas kematian anak pengemudi Ojol di Bantul, Yogyakarta setelah memakan sate beracun yang dikirimnya untuk seseorang. A

lih-alih diberikan ke sasaran yang tak lain mantan kekasihnya sebagai anggota polisi, makanan tersebut justru menjadi petaka bagi keluarga Ojol.

NA pun kini terancam hukuman mati atau maksimal 20 tahun penjara. Saat ditemui di Dusun Sukaasih, Desa Buniwangi, Kecamatan Palasah, Kabupaten Majalengka, ayah Na, Maman (45) mengatakan bahwa anaknya memang masih berstatus gadis atau single.

Ia tidak mengetahui, perkara asmaranya selama ini, terutama dengan polisi yang disebut-sebut menjadi sasaran pengiriman sate beracun tersebut.

"Belum berkeluarga, masih sendiri. Masih gadis keneh," ujar Maman saat berbincang dengan Tribun, Selasa (4/5/2021).

Selain keluarganya tidak mengetahui kisah asmara yang sedang dijalani anaknya, NA dianggap merupakan sosok gadis yang tertutup.

Jarang ayahnya atau anggota keluarga lainnya mendapatkan curhatan hati ketika berada di rumah.

"Tidak (cerita cinta dengan polisi), orangnya pendiam soalnya. Kalau di rumah diam saja, di rumah paling 3 hari terus berangkat lagi ke Yogyakarta," ucapnya.

Ia pun kembali menyebut, bahwa komunikasi terakhir dengan NA, yakni saat menjelang bulan puasa. Saat itu, anaknya pulang selama tiga hari.

"Rencana lebaran tuh mau pulang lagi, tapi kemarin saya lihat berita justru anak saya tersandung kasus. Kaget dan masih tidak menyangka sampai sekarang," jelas dia.n (maw/hda/tribunjabar)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved