Breaking News:

Menilik Sejarah dan Natah Timbul Kerajinan Kulit di Manding, Bantul

Manding merupakan sentra kerajinan kulit yang terletak di Padukuhan Manding, Kalurahan Sabdodadi, Kapanewon Bantul.

Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Ikrob Didik Irawan
Tribun Jogja/Hamim Thohari
Berada di Jalan Dr. Wahidin Sudiro Husodo Manding Sabdodadi , Bantul, kawasan ini telah dikenal sebagai penghasil kerajinan kulit sejak tahun 1957. 

Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Berkunjung ke Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta tidak lengkap jika tidak mampir ke Manding.

Manding merupakan sentra kerajinan kulit yang terletak di Padukuhan Manding, Kalurahan Sabdodadi, Kapanewon Bantul.

Banyak sekali kerajinan dari kulit yang ditawarkan, mulai dari aksesoris, tas, jaket, sepatu, dan lain-lain. Untuk kualitas, tidak diragukan lagi, kualitas jempolan yang awet bertahun-tahun.

Yang unik dari kerajinan kulit Manding ialah bahan dan teknik ukirnya. Ketua Pokdarwis Manding, Jumakir, mengatakan ciri khas kerajinan Manding ialah bahannya yang dari kulit nabati. Kekhasan lainnya adalah ukiran yang dihasilkan dengan teknik tatah timbul.

"Kalau tidak ada ukiran tatah timbulnya berarti bukan dari Manding. Satu lagi yang menjadi ciri khasnya adalah jahitannya, jahitannya menggunakan tangan. Bentuknya berbeda sekali dengan produk lain," katanya, Kamis (15/04/2021).

Jumakir menceritakan Padukuhan Manding dulunya hanya sebuah perkampungan biasa, yang mengandalkan sawah dan ladang untuk bertahan hidup. Namun karena minimnya lapangan pekerjaan, akhirnya pemuda setempat berniat untuk membuka lapangan pekerjaan.  Salah satunya ialah Ratno Suharjo yang menjadi pendiri kerajinan kulit generasi pertama.

Manding merupakan sentra kerajinan kulit yang terletak di Padukuhan Manding, Kalurahan Sabdodadi, Kapanewon Bantul.
Manding merupakan sentra kerajinan kulit yang terletak di Padukuhan Manding, Kalurahan Sabdodadi, Kapanewon Bantul. (ist)

"Jadi dulu sekitar 1947, Ratno dan dua temannya pergi ke Yogyakarta. Kemudian sampai ke Museum Kereta Kencana, di sana melihat perajin membuat pelana dari kulit, kemudian tempat duduk dari kulit. Nah kemudian minta izin boleh tidak bekerja di museum," terangnya.

"Mereka pergi 10 tahun, sudah bisa membuat pelana dan lain-lain. Tetapi kemudian berpikir, pelana dan tempat duduk keret tidak relevan di Manding. Lalu mengumpulkan kulit bekas dan berkreasi. Yang pertama dibuat adalah ikat pinggang, kemudain tas segi empat. Dan kemudian diukir," sambungnya.

Setelah berhasil membuat ikat pinggang dan tas, lanjut Jumakir, Ratno mencari pasar untuk menjual. Di temukanlah Pasar Ngasem, yang menjadi pintu masuk para pembeli dari luar negeri. Ternyata pembeli dari luar negeri menyukai kerajinan buatan Ratno.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved