Pemda DIY: Masalah Terbesar UMKM di DI Yogyakarta adalah Pemasaran

Covid-19 telah memberikan dampak pada pelaku UMKM. Terkait itu, Pemerintah Daerah DIY terus memetakan permasalahan yang dihadapi oleh UMKM.

Penulis: Santo Ari | Editor: Kurniatul Hidayah
Tribunjogja/Yuwantoro Winduajie
Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekda DIY, Tri Saktiyana 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Covid-19 telah memberikan dampak pada pelaku UMKM. Terkait itu, Pemerintah Daerah DIY terus memetakan permasalahan yang dihadapi oleh UMKM.

Asisten Sekretaris Daerah DIY Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Tri Saktiyana menyatakan ada tiga rumus untuk menangani masalah perekonomian khususnya UMKM.

Yang pertama adalah pendataan. Dari pendataan tersebut akan diketahui permasalahan yang dihadapi para pelaku UMKM.  

Baca juga: Pembelian Hotel Mutiara Yogyakarta dan Peningkatan TPST Piyungan Disorot BPK RI

"Data sementara yang didapat dari SiBakul, ada 85 ribu UMKM di Yogyakarta dan dari jumlah tersebut ada 75 persen yang terdampak," ujarnya Kamis (22/4/2021).

Program selanjutnya adalah pengurangan beban. Ia menyatakan, setelah melakukan pemetaan, diketahui bahwa permasalah terbesar yang dialami UMKM adalah pemasaran sedangkan yang meminta bantuan pembiayaan sekitar 6-7 persen.

"Dalam pengurangan beban ini, kita lihat apa kesulitan yang mereka hadapi untuk bertahan. Mungkin beban terberatnya adalah masalah pembiayaan, itu akan kita bantu untuk restrukturisasi," ujarnya.  

"Jika hambatan di bidang pemasaran. Maka kita bantu pemasaran salah satunya adalah kita bantu ongkir. Karena kalau untuk pameran offline belum bisa. Selain itu kita juga bekerjasama dengan market place nasional yang sudah ada selain Jogja Plaza dari Disperindag," imbuhnya.

Langkah lainnya adalah meningkatkan konsumsi pemerintah dan masyarakat agar hasil produksi UMKM dapat terserap dengan baik.

Program ketiga adalah pemberdayaan. Program ini untuk mendorong UMKM yang tetap bertahan saat pandemi dan mendorong agar lebih meningkatkan lagi pemasarannya. Tri Saktiyana mengatakan, saat pandemi ini justru ada UMKM yang meningkat dari sisi penjualannya, yakni dari home deco dan pakaian dalam.  

Pihaknya pun akan berupaya untuk mempermudah ekspor agar semakin meningkatkan perekonomian di DIY.

Baca juga: Sempat Viral di Media Sosial, Rumput Fatimah Justru Tidak Disarankan Dikonsumsi Ibu Hamil

Di bidang ekspor, dikenal dengan pasar tradisional yakni negara yang paling banyak mendapatkan ekspor dari Indonesia seperti Amerika, negara-negara di Eropa dan Timur Tengah.

Namun ada pula pasar non-tradisional seperti Amerika Latin.

"Nah kita buka kerjasama dengan kedutaan besar-kedutaan besar yang ada di sana. Walaupun pasarnya belum setinggi Amerika, Eropa dan Timur Tengah, tapi peluang itu ada," tandasnya. (nto) 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved