Breaking News:

Jagongan Kalurahan, Obrolan KPH Yudanegara-Warga Pun Cair, Ide dan Gagasan dari Masyarakat Mengalir

Jagongan Kalurahan yang digelar setiap Jumat malam selama bulan Ramadan merupakan bentuk nyata dari Keistimewaan Yogyakarta.

Istimewa
KPH Yudanegara berdialog dengan warga dalam suasana yang cair dan akrab 

TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Jagongan Kalurahan yang digelar setiap Jumat malam selama bulan Ramadan merupakan bentuk nyata dari Keistimewaan Yogyakarta.

KPH Yudanegara, Ph.D sebagai Kepala Bagian Bina Pemerintahan Kalurahan/Kelurahan dan Kapanewon/Kemantren pada Biro Tata Pemerintahan Setda DIY sekaligus Pangeran dari Kasultanan Yogyakarta pun turun langsung menyerap aspirasi masyarakat

Penyerapan aspirasi dimana penjelasan terkait UU Keistimewaan dan regulasi Pemda DIY pun tersampaikan dengan baik.

Warga yang menjadi tuan rumah Jagongan Kalurahan seperti Kalurahan Salamrejo, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo pun antusias menyambut KPH Yudanegara.

Istimewanya lagi, KPH Yudanegara menginap di rumah warga pada Jumat malam Sabtu (17/4/2021).

KPH Yudanegara berdialog dengan warga, banyak ide dan gagasan mengalir
KPH Yudanegara berdialog dengan warga, banyak ide dan gagasan mengalir (Istimewa)

Dia kemudian melebur bersama warga, berbincang secara santai dan penuh keakraban, dimana pada akhirnya sekat-sekat yang ada kemudian cair dan berbagai masukan dan ide dari masyarakat secara spontan mengalir.

Bahkan KPH Yudanegara pun menikmati kesederhanaan kamar tidur salah satu rumah warga saat beristirahat sejenak setelah dialog di Masjid Darussalam bersama warga, sambil menyempatkan membaca buku.

KPH Yudanegara saat menginap di rumah warga di Salamrejo, Kulon Progo, sejenak menyempatkan membaca buku
KPH Yudanegara saat menginap di rumah warga di Salamrejo, Kulon Progo, sejenak menyempatkan membaca buku (Istimewa)

Di sela-sela istirahat sejenak masih berdatangan warga yang antusias untuk mengajak beliau berdialog, dan serta merta itu pula KPH Yudanegara, bergegas menemui beberapa warga di musala yang ada di samping rumah.

Selain aspirasi terkait pemerintahan, ternyata ada banyak kisah yang menarik disampaikan oleh warga, salah satunya adalah tentang mujahadah yang dilaksanakan masyrakat tiap malam Selasa di rumah yang dipakai oleh dia menginap.

Kegiatan mujahadah dilakukan oleh Imam Shodiq yang sejak tahun 90-an masih berlangsung sampai saat ini.

Mereka yang hadir tak hanya warga lokal tetapi berbagai warga luar daerah bahkan sampai dari berbagai pelosok Indonesia.

Selain itu ada pula kegiatan budaya yang diceritakan oleh warga secara antusias yaitu Ngirim Kemul.
Kegiatan Ngirim Kemul merupakan kegiatan untuk mendoakan pada arwah leluhur yang sudah tiada, kegiatan ini menjadi berbeda dengan sekedar doa bersama karena dalam Ngirim Kemul disyaratkan untuk menyiapkan kain kafan dan pisang raja dalam pembacaan doa bersama.

Ini adalah sebagai perwujudan rasa sayang dan penghormatan kepada leluhur karena tidak dapat diberikan secara langsung. 

Kanjeng Yudanegara secara cermat menyimak kisah-kisah dari beberapa warga dan memberikan apresiasi dengan memberikan saran terkait apa yang bisa Pemda DIY dan Keraton lakukan demi melestarikan adat istiadat yang merupakan pondasi dari identitas jati diri.
"Kebudayan merupakan hal yang penting bagi Keistimewaan Yogyakarta, " ucap Kanjeng Yudanegara menekankan hal ini kepada masyarkat Padukuhan Ngrandu.

"Keraton dan Pura beserta Pemda DIY akan terus menjaga kelestarian semua bentuk adat istiadat, budaya lokal serta mengembangkan potensi tersebut untuk kesejahteraan warga sekitar" tandasnya. (rls)

Editor: ribut raharjo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved