BPS DIY Sebut Ekspor DIY Naik 18,72 Persen

Kepala BPS DIY, Sugeng Arianto, menuturkan terdapat 3 negara sebagai penyumbanv ekspor terbesar dan menjadi tujuan utama pasar produk-produk DIY

The Indian Wire
Ilustrasi ekspor impor 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Badan Pusat Statistik (BPS) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatatkan adanya kenaikan ekspor di DI Yogyakarta sebesar 18,72 persen atau US$46,3 juta per Februari 2021.

Kenaikan angka tersebut, lebih baik dibandingkan dengan periode Januari 2021 yang hanya mencapai 14,29 persen atau US$39,0 juta.

Kepala BPS DIY, Sugeng Arianto, menuturkan terdapat 3 negara sebagai penyumbanv ekspor terbesar dan menjadi tujuan utama pasar produk-produk DIY.

"Ya, ada tiga negara dengan kontribusi terbesar pada ekpor di DIY yakni Amerika Serikat dengan total nilai ekspor mencapai US$17,9 juta disusul Jerman dengan total nilai US$4,8 juta dan Jepang dengan total nilai US$4,4 juta," jelasnya melalui konferensi pers di kanal resmi BPS DIY, pada Kamis (01/04/2021).

Adapun jenis produk yang paling banyak di ekpor yaitu, pakaian jadi bukan rajutan, perabot, penerangan rumah, dan barang-barang dari kulit.

Masing-masing sebesar US$14,2 juta, US$7,2 juta, dan US$4,6 juta.

Ekspor barang tersebut dirinci menurut sepuluh negara tujuan dan komoditas utama menunjukkan bahwa Amerika Serikat merupakan negara tujuan ekspor terbanyak.

Sebanyak 9 (sembilan) dari  sepuluh komoditas utama dikirim ke negara tersebut.

"Sedangkan kebalikannya nilai impor mengalami penurunan mencapai 8,8 juta atau turun 42,48 persen per Februari 2021. Saat ini, negara pemasok barang impor terbesar berasal dari Tiongkok dengan nilai US$3,7 juta. Kemudian disusul Hongkok 
US$2,1 juta, dan Taiwan US$0,8 juta," terangnya.

Adanya kenaikan ekspor produk  DIY juga dibenarkan oleh Kepala Seksi Fasilitasi Eskpor dan Impor, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Daerah Istimewa Yogyakarta, Theresia Sumartini.

Ia mengatakan, perkembangan ekspor di DIY Yogyakarta sudah memperlihatkan geliat sejak 3 bulan lalu.

"Untuk ekspor memang sudah mulai ada pergerakan sejak Desember tahun lalu. Di mana, para negara buyer perlahan mulai membuka pasar. Sehingga, alurnya mulai berproses kembali," ujarnya.

Meskipun, kondisinya belum normal seperti dulu. Pihaknya yakin ke depannya ekspor di DI Yogyakarta akan mengalami kenaikan.

"Situasinya memang belum stabil, masih ditemui kendala  terhadap isu-isu yang menghambat ekspor seperti mahalnya biaya transportasi hingga pengetatan yang dilakukan oleh negara-negara tertentu. Namun, kami tetap optimis ekspor akan terus bergerak naik dan pelaku eskspor bisa tetap jalan," ujarnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved