Yogyakarta
Sri Sultan HB X Berharap Kongres Aksara Jawa Berkontribusi dalam Pelestarian
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X berharap Kongres Aksara Jawa tersebut harus dapat menaikkan minat baca dan tulis aksara Jawa.
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM - Digelarnya kembali Kongres Aksara Jawa di Yogyakarta untuk yang pertama sejak 1922 silam, pada Senin (22/3/2021), diharapkan bisa membangkitkan eksistensi dan menghindarkannya dari ancaman kepunahan.
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan, gelaran tersebut harus dapat menaikkan minat baca dan tulis aksara Jawa.
Sebab, jika kondisi seperti ini terus dibiarkan, bukan mustahil, kepunahan itu segera terjadi.
"Jika bahasa daerah hanya digunakan oleh penutur berusia 25 tahun ke atas dan yang lebih muda tidak menggunakannya, jangan disesali jika 75 tahun ke depan, atau tiga generasi, bahasa itu akan terancam punah," ujarnya.
Baca juga: Kongres Aksara Jawa Kembali Digelar Setelah 1922
Untuk itu, imbuhnya, digitalisasi aksara Jawa telah dilakukan di Yogyakarta pada 5 Desember 2020.
Sebelumnya, 2013 dan 2014, diluncurkan aplikasi Baca-Tulis Aksara Jawa Versi 1.0 dan Versi 2.0.
Sampai dengan akhir tahun 2020, aplikasi tersebut telah diunduh sekira 10 ribu peminat.
Menurut Ngarsa Dalem, Pemerintah Daerah (Pemda DIY) pun tidak henti-hentinya mengampanyekan penggunaan aksara di instansinya.
Satu di antaranya, dengan menaruh aksara Jawa, di papan-papan penanda di suatu lokasi.
"Selain wajib menuliskan aksara Jawa untuk nama setiap kantor, juga penggunaan busana dan bahasa Jawa di kantor pemeritahan setiap Kemis-Paing," ungkapnya.
Sekadar informasi, lebih kurang 1.000 peserta turut ambil bagian dalam Kongres Aksara Jawa, yang digulirkan di Grand Mercure, Yogyakarta, 22-26 Maret.
Selain Gubernur DIY, Gubernur Jateng dan Jatim hadir secara daring.
Baca juga: Pertama Sejak 1922, Kongres Aksara Jawa Kembali Digelar di Yogyakarta
"Teknisnya, peserta luring sejumlah 110 orang, yang terdiri dari wakil akademisi, praktisi, budayawan, birokrat, sampai masyarakat umum," ungkap Kepala Dians Kebudayaan DI Yogyakarta, Sumadi, ketika dijumpai di venue.
"Kemudian untuk peserta daring, ada sekitar 800 orang. Itu terbagi menjadi 200 peserta di komisi I, 200 peserta di komisi II, 200 peserta di komisi III dan 200 peserta di komisi IV, semua dengan bahasan berbeda," tambahnya.
Yakni, Komisi I membahas tentang transliterasi aksara Jawa-Latin, Komisi II membahas soal tata tulis aksara Jawa, Komisi III tentang digitalisasi aksara Jawa dan Komisi IV membahas kebijakan-kebijakkan mengenai aksara Jawa.
"Kongres ini diharapkan mampu menghasilkan keputusan strategis terkait semua pembahasan yang dibicarakan, serta pengakuan negara atas keberadaan aksara Jawa dan aksara nusantara lainnya," pungkas Sumadi. ( Tribunjogja.com )
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/sri-sultan-hb-x-berharap-kongres-aksara-jawa-berkontribusi-dalam-pelestarian.jpg)