Erupsi Gunung Merapi

UPDATE Gunung Merapi : Senin Petang Terjadi 44 Guguran, Terjadi Peningkatan Aliran Air Sungai Boyong

Guguran material tersebut terjadi antara pukul 12.00 hingga pukul 18.00, Senin (8/3/2021) sore ini.

Penulis: Miftahul Huda | Editor: Gaya Lufityanti
Dok BPPTKG
Awan panas guguran Gunung Merapi 8 Maret 2021 pukul 04.51 WIB tercatat di seismogram dengan amplitudo 51 mm dan durasi 115 detik. Jarak luncur ±1.300 m ke arah barat daya. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Terjadi 44 kali guguran material di Gunung Merapi pada periode pengamatan Senin (8/3/2021) sore ini.

Menurut laporan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), guguran material tersebut terjadi antara pukul 12.00 hingga pukul 18.00.

Awan panas guguran tercatat di seismogram dengan amplitudo 3-25 mm dan durasi antara 9 hingga 90 detik.

Kepala BPPTKG, Hanik Humaida mengatakan, pada Senin petang ini teramati pula peningkatan aliran air di sungai Boyong akibat curah hujan dengan intensitas 122 mm per hari.

Baca juga: UPDATE Gunung Merapi: Awan Panas Guguran Meluncur Hingga 1,5 Km Pagi Ini, Senin 8 Maret 2021

"Akibat cuaca mendung hingga hujan ini, asap kawah tidak teramati," katanya melalui keterangan tertulis.

Secara meteorologi, cuaca berawan, mendung, dan hujan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur.

Suhu udara 17-23 °C, kelembaban udara 65-95 %, dan tekanan udara 568-705 mmHg. Volume curah hujan 122 mm per hari. 

Hanik menyampaikan, Gunung Merapi sampai saat ini masih berstatus siaga (level III).

Baca juga: UPDATE Gunung Merapi: Hingga Minggu Siang, Tercatat Ada 2 Kali Guguran Lava dari Puncak Merapi

Potensi bahaya saat ini, kata Hanik, berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya, meliputi sungai Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh maksimal 5 km.

Sedangkan, lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.

Hanik menyampaikan, daerah di luar potensi daerah bahaya saat ini kondusif untuk beraktivitas sehari-hari.

"Diharapkan dapat berlangsung seterusnya. Namun, jika terjadi perkembangan erupsi yang mengarah ke daerah tersebut setidaknya masyarakat sudah memanfaatkan waktu yang ada dengan baik. Hal ini sesuai dengan konsep living harmony dengan Merapi," pungkasnya.( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved