Breaking News:

Atlet Balap Sepeda DI Yogyakarta Adakan Kompetisi Dengan Cara Latihan Bersama

Cabang olahraga balap sepeda DIY diklaim sebagai yang terbaik, namun pada tahun ini sedang mengalami guncangan lantaran tidak memilik dana

TRIBUNJOGJA.COM / Hanif Suryo
ILUSTRASI Aksi pebalap sepeda yang tampil di nomor MTB Downhill cabang olah raga balap sepeda Porda DIY 2019 di Bukit Turgo, Kamis (17/10/2019) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Cabang olahraga balap sepeda DIY diklaim sebagai yang terbaik, namun pada tahun ini sedang mengalami guncangan lantaran tidak memilik dana cukup untuk regenerasi atlet.

Hal ini diungkapkan oleh pelatih balap sepeda Sleman, Purwanto kepada Tribun Jogja, Minggu (7/3/2021).

"Balap sepeda itu masuk terbaik di DIY, di Pra PON aja kita peringkat tiga di bawah Jawa Barat dan DKI Jakarta," katanya.

Baca juga: Saling Support Saat Pandemi, Pelaku Ekraf dan Pariwisata Gelar Pameran di Galeria Mall Yogyakarta

"Cuma tahun ini kita lagi minim ada kompetisi, dana untuk latihan juga kurang karena harus pakai uang sendiri," tambah Purwanto.

Pria yang juga pernah menjadi atlet DIY ini juga mengatakan, semenjak balap sepeda tidak masuk Puslatda, tidak ada dana dari KONI untuk menunjang latihan atlet.

Terlebih dengan kondisi pandemi ini, kompetisi yang seharusnya dijalani Purwanto dan kawan-kawan tidak bisa berjalan baik.

Alih-alih didukung, kompetisi yang digelar beberapa minggu ke belakang hampir dibubarkan Satgas Covid19 Sleman, lantaran peminat perlombaannya mencapai batas maksimum.

"Kemarin itu kita ngadain kompetisi, langsung di pantau terus sama Satgas Covid-19 Sleman, padahal kita sudah izin," ujarnya.

Dengan kasus tersebut, pihaknya tidak lagi bisa mendapat izin keramaian untuk mengadakan perlombaan balap sepeda.

Siasatnya, Purwanto dan kolega bersepakat untuk melaksanakan latihan bersama, namun pelatihan itu dibuat dengan sistem kompetisi.

"Biasanya kalau gak ada pandemi, dalam satu bulan bisa dua sampai empat kompetisi kita ikuti, kalau nasional ada namanya National Championship, nanti yang internasional bisa sampe tiga kali setahun," paparnya.

Baca juga: Kriminolog UGM Khawatir Remaja di DI Yogyakarta Terlibat Kejahatan Jalanan Karena Diperalat Oknum

Purwanto juga menambahkan, para atletnya sempat akan mengikuti laga internasional, namun terkendala dengan dana yang minim, yang akhirnya urung berangkat.

"Kalau waktu Pra PON malah try out-nya ke luar negeri," ucapnya.

Minimnya dana itu diperkirakan Purwanto, lantaran anggaran untuk cabor dialokasikan untuk penanganan Covid-19 di DIY.

"Tahun-tahun sebelumnya KONI Sleman  punya anggaran lima milyar aja masih terbata-bata kok, uang hadiah Porda aja dibuat dua termin, apalagi sekarang cuma 1.5 milyar," ujar Purwanto. (tsf)

Penulis: Taufiq Syarifudin
Editor: Kurniatul Hidayah
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved