Breaking News:

Penelitian Terbaru Ungkap Ukuran Lubang Hitam Lebih Besar dari Perkiraan

Lubang hitam terdekat yang diketahui itu ditemukan lebih jauh dari yang penghitungan sebelumnya, yakni dalam jarak 7.200 tahun cahaya.

Penulis: Sigit Widya | Editor: Sigit Widya
New York Post
Gambar terbaru memperlihatkan Lubang Hitam ternyata lebih besar dari perkiraan. 

TRIBUNJOGJA.COM  – Penelitian terbaru mengungkap detail terkini tentang lubang hitam, yang terlihat pada 1964 dan menjadi subjek perdebatan para ilmuwan terkenal.

Para peneliti mengatakan bahwa pengamatan baru lubang hitam Cygnus X-1, yang mengorbit dalam perkawinan bintang dengan bintang besar dan bercahaya, menunjukkan 21 kali massa matahari kita.

Secara perhitungan, ukurannya sekitar 50 persen lebih besar daripada perkiraan.

Lubang hitam terdekat yang diketahui itu ditemukan lebih jauh dari yang penghitungan sebelumnya, yakni dalam jarak 7.200 tahun cahaya.

Sekadar informasi, jarak yang ditempuh cahaya dalam setahun sama dengan 5,9 triliun mil (9,5 triliun kilometer) dari Bumi.

Lubang hitam sangat padat dengan tarikan gravitasi begitu kuat, bahkan cahaya pun tidak bisa lolos.

Beberapa lubang hitam "supermasif" sangatlah besar, seperti yang ada di pusat galaksi Bima Sakti dengan ukuran empat juta kali massa matahari.

Lubang hitam "bermassa bintang" yang lebih kecil memiliki massa satu bintang.

Dikutip Tribunjogja dari New York Post, Senin (22/2/2021), Cygnus X-1 adalah lubang hitam bermassa bintang terbesar di Bima Sakti.

Menurut astronom James Miller-Jones dari Curtin University dan International Center for Radio Astronomy Research di Australia, Cygnus X-1 adalah satu sumber sinar-X terkuat yang terlihat dari Bumi.

Lubang hitam tersebut berputar sangat cepat, hampir seperti kecepatan cahaya, sehingga mendekati kecepatan maksimum yang dibayangkan di bawah teori relativitas umum fisikawan Albert Einstein.

Ia melahap materi yang bertiup dari permukaan bintang pendamping yang diorbitnya erat, "raksasa super biru", sekitar 40 kali massa matahari kita.

Ia memulai keberadaannya empat juta hingga lima juta tahun lalu sebagai bintang hingga 75 kali massa matahari dan runtuh menjadi lubang hitam beberapa puluh ribu tahun silam.

Penelitian tersebut mencakup data dari teleskop radio Very Long Baseline Array yang terdiri atas 10 stasiun pengamatan Amerika Serikat. (Tribunjogja)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved