Breaking News:

Program AI Bisa Prediksi Angka Kematian Covid-19 dengan Akurasi 90%

Mereka menemukan bahwa indeks massa tubuh atau BMI, usia, tekanan darah tinggi, dan jenis kelamin laki-laki adalah faktor risiko tertinggi.

Penulis: Sigit Widya | Editor: Sigit Widya
Kompas.com
Gambar mikroskop elektron pemindai menunjukkan virus corona di antara sel manusia. 

TRIBUNJOGJA.COM - Tim peneliti Denmark menciptakan perangkat lunak kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang diklaim bisa memprediksi dengan akurasi 90 persen apakah orang tidak terinfeksi akan meninggal dunia karena Covid-19.

Peneliti Universitas Kopenhagen memberi data kesehatan program, termasuk kondisi medis yang mendasari, dari 3.944 pasien virus corona di Denmark.

Menurut laporan New York Post, Selasa (9/2/2021), mereka "melatih" program komputer untuk mengenali pola penyakit pasien sebelumnya.

Mereka menemukan bahwa indeks massa tubuh atau BMI, usia, tekanan darah tinggi, dan jenis kelamin laki-laki adalah faktor risiko tertinggi.

Komputer juga dapat memprediksi dengan akurasi 80 persen apakah pasien memerlukan respirator atau tidak.

“Kami mulai mengerjakan model AI untuk membantu rumah sakit,”  kata Profesor Mads Nielsen dari Departemen Ilmu Komputer Universitas Kopenhagen.

“Sebab, selama gelombang pertama, mereka takut tidak memiliki cukup respirator untuk pasien perawatan intensif,” imbuhnya.

“Temuan baru kami dapat digunakan untuk mengidentifikasi secara cermat siapa yang membutuhkan vaksin,” lanjut Nielsen.

“Hasil kami menunjukkan, tidak mengherankan bahwa usia dan BMI adalah parameter paling menentukan seberapa parah seseorang akan terpengaruh oleh Covid-19,” paparnya.

Kendati demikian, ia mengemukakan, kemungkinan seseorang meninggal dunia atau berakhir dengan penggunaan respirator juga meningkat jika pasien adalah laki-laki, memiliki tekanan darah tinggi, atau menderita penyakit saraf.

Berdasarkan urutan prioritas, kondisi yang paling berpengaruh terhadap apakah pasien berakhir menggunakan alat pernapasan setelah terinfeksi Covid-19 adalah usia, tekanan darah tinggi, berjenis kelamin laki-laki, punya penyakit saraf, punya penyakit paru obstruktif kronik, asma, diabetes, dan penyakit jantung.

“Bagi mereka yang dipengaruhi oleh satu atau lebih dari parameter itu, kami telah menemukan bahwa mungkin masuk akal untuk menaikkannya dalam antrean penerima vaksin,” kata Nielsen.

Pemberian vaksin bertujuan untuk menghindari risiko mereka terinfeksi Covid-19 dan akhirnya menggunakan alat bantu pernapasan.

“Kami sedang bekerja untuk bisa memprediksi kebutuhan respirator lima hari ke depan dengan memberikan akses komputer ke data kesehatan tentang semua positif Covid-19 di suatu wilayah,” tuturnya.

“Komputer tidak akan pernah bisa menggantikan penilaian dokter, tetapi dapat membantu rumah sakit melihat banyak pasien yang terinfeksi Covid-19 sekaligus dan menetapkan prioritas berkelanjutan,” kata Nielsen. (Tribunjogja)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved