Pakar Pendidikan UNY Jelaskan Penanaman Pendidikan Karakter Selama Pandemi

Pakar Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta, Prof Suwarsih Madya menyebutkan, nilai-nilai karakter yang perlu ditanamkan selama pembelajaran

Tayang:
Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Kurniatul Hidayah
Tangkapan Layar
Pakar Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta, Prof Suwarsih Madya 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pandemi Covid-19 telah mengubah semua bidang.

Yang langsung teramati adalah dampak pada 3 bidang penopang indeks pembangunan manusia (IPM), yaitu ekonomi, kesehatan, dan pendidikan.

Pakar Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta, Prof Suwarsih Madya menyebutkan, nilai-nilai karakter yang perlu ditanamkan selama pembelajaran dilakukan secara daring tetap sama, yakni 18 nilai karakter sebagai prioritas. 

Baca juga: INTER MILAN vs JUVENTUS: Prediksi & Link Live Streaming Coppa Italia di TVRI Kick-off 02.45 WIB

Baca juga: UPDATE Covid-19 Indonesia Selasa 2 Februari 2021, Tambah 10.379 Pasien, Berikut Rincian Wilayahnya

Namun demikian, menurutnya, terdapat tiga aspek karakter yang perlu mendapatkan porsi lebih, yakni kemandirian, kejujuran, dan literasi digital.

Jika ketiganya sudah tercapai, maka dapat memfasilitasi penanaman nilai-nilai lainnya. 

"Dari pembelajaran luring menjadi pembelajaran daring sangat berubah. Kemandirian, kejujuran, dan literasi digital diberi porsi lebih untuk memfasilitasi penanaman nilai-nilai lainnya," ungkap Suwarsih dalam webinar Sonjo Angkringan #42, Minggu (31/1/2021). 

Tantangan terberat saat ini, lanjutnya, adalah membuat guru mandiri dan anak tidak tergantung dalam pembelajaran. 

Suwarsih menambahkan, pendidikan terbagi menjadi dua, yakni karakter dan kecerdasan. 

Ia menuturkan, untuk dimensi karakter, kondisi pandemi sendiri adalah media alami untuk pendidikan karakter bagi guru dan siswa. 

Misalnya, lewat memikirkan hakikat pandemi, mengekspresikan pemikiran dan sikap dilandasi nilai solidaritas sosial/profesional/kerja sama, menentukan tindakan, serta membangun komitmen bersama yang solutif. 

Baca juga: Kenaikan Harga Indeks Konsumen Picu Terjadinya Inflasi di DI Yogyakarta

Baca juga: DAFTAR Transfer Liga Inggris: Arsenal, Chelsea, Liverpool, Man United, Man City & Spurs

Sementara, untuk kecerdasan, bisa dengan cara menyodorkan tantangan yang dapat dijawab dengan berpikir tingkat tinggi bagi guru dan siswa. 

"Misalnya, penerapan pedagogi humanistik-kritis untuk mengembangkan berpikir analitik, kritis, evaluatif, dan kreatif lewat pembelajaran daring. Pelatihan guru, pengawas, dan kepala sekolah tentang pembelajaran daring dari segi teknis. Juga pelatihan guru dengan penilaian berbasis TIK, serta pelatihan orang tua sebagai pendamping pembelajaran daring," bebernya. (uti) 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved