Breaking News:

Sleman

Mengapa Begal Payudara Marak Terjadi? Begini Penjelasan Pakar Psikologi UGM

Menurut Pakar Psikologi UGM, Prof Drs Koentjoro MBSc PhD, hal ini sering terjadi lantaran pelaku begal payudara memiliki kepercayaan diri rendah.

TRIBUNJOGJA.COM / Alexander Ermando
Ketua Guru Besar UGM Profesor Koentjoro (memegang mikrofon) saat jumpa pers di Balairung Gedung Pusat UGM, Jumat (24/05/2019) 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Aksi begal payudara meresahkan warga di wilayah Sleman.

Seorang pria bernama Banu mengaku menjadi korban begal payudara tatkala dirinya sedang melintas di Jalan Banteng Raya, Ngaglik, Sleman pada Rabu (13/1/2021) lalu.

Ini bukan pertama kali kasus begal payudara terjadi di DIY.

Di tahun 2019, ada dua turis asing yang menginap di daerah Prawirotaman, Kota Yogyakarta juga menjadi korban begal payudara.

Menurut Pakar Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Drs Koentjoro MBSc PhD, hal ini sering terjadi lantaran pelaku sebenarnya memiliki kepercayaan diri rendah.

“Kepercayaan diri rendah, tapi nafsu seksual tinggi. Bisa juga karena pelaku bukan dari warga terdidik serta latar belakang agamanya rendah,” ungkap Prof Koentjoro ketika dihubungi Tribunjogja.com, Jumat (15/1/2021) siang.

Ia menjelaskan, pelaku begal payudara biasanya adalah anak-anak yang sedang menuju proses pendewasaan.

“Mereka banyak mencari sensasi. Sekarang kan zamannya prank, ketika viral, dia senang karena memang itu tujuannya,” bebernya.

Baca juga: Kesaksian Banu, Pemuda Korban Begal Payudara di Sleman, Berharap Tak Terulang

Selain sensasi, bisa juga pelaku mencari pengakuan dari kelompoknya. Semakin berani dia membegal payudara seseorang, semakin banyak juga dipuji teman-temannya.

“Anak-anak yang sukanya begal payudara itu indikasinya tidak memperoleh pujian dari rumah. Sehingga, ketika dipuji kelompoknya, dia tidak tahu mana yang baik dan buruk,” ucap Guru Besar Fakultas Psikologi itu.

Apabila begal ternyata orang yang cukup dewasa, mungkin saja dia memiliki kelainan seksual.

Maka dari itu, Prof Koentjoro meminta perempuan dan siapapun itu untuk meningkatkan gerak reflek jika ada orang yang akan menyentuh daerah sensitifnya.

“Perempuan jangan paranoid. Tingkatkan daya reflek. Sehingga kalau ada yang hendak memyentuh, bisa dihalau,” jelasnya.

Ditambahkan Prof Koentjoro, perempuan harus berani menghadapi hal seperti itu. Hal ini lantaran pelaku akan semakin senang jika melihat korbannya ketakutan.

“Kalau bisa kejar, kejar. Lakukan sesuatu. Bisa dipukul, pukul. Teriak pas begalnya sudah tertangkap. Lakukan bela diri,” tandasnya. (Tribunjogja/Ardhike Indah)

Penulis: Ardhike Indah
Editor: Hari Susmayanti
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved