Tantangan Pembinaan Sepak Bola Usia Muda di Tengah Pandemi

Di samping kompetisi sepak bola profesional yang tak kunjung ada kejelasan, dampak lain yang dirasakan ialah pembinaan pemain

Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Kurniatul Hidayah
Istimewa
Pengamat sepakbola usia dini sekaligus pemilik SSB Bintang Putra Mlati (BPM) Sleman. 

TRIBUNJOGJA.COM - Tantangan besar kini tengah dihadapi insan sepak bola Tanah Air di tengah situasi pandemi saat ini.

Di samping kompetisi sepak bola profesional yang tak kunjung ada kejelasan, dampak lain yang dirasakan ialah pembinaan pemain di level usia muda.

Meski demikian, pengamat sepakbola usia dini sekaligus pemilik SSB Bintang Putra Mlati (BPM) Sleman, Ariono menilai, pembinaan usia dini tidak boleh terhenti dengan situasi sulit di masa pandemi Covid-19 saat ini. 

Menurunya, para pelaku sepakbola di Sekolah Sepakbola (SSB) hendaknya tidak menyerah, tetap bersemangat melakukan pembinaan.

Baca juga: Pemkot Yogyakarta Tetap Optimalkan Layanan Publik Meski Pegawai 75 Persen WFH

"Di masa sebelum pandemi ini terjadi, kita tetap melakukan pembinaan bagi anak-anak yang mempunyai hobi bermain sepakbola. Bermimpi menjadi pemain yang baik. Semangat itu hendaknya tetap terjaga," ujar Ariono, Rabu (13/1/2021).

Lebih lanjut ia mengatakan, prestasi suatu tim sepakbola sangat tergantung dari kualitas pemain di dalam tim tersebut.

Sedangkan pemain yang berkualitas membutuhkan keterampilan atau teknik bermain, kondisi fisik, kemampuan taktik dan mental yang baik.

Berbagai kemampuan tersebut akan dapat dimulai dari usia muda 7-17 tahun hingga usia senior.

Di sinilah peran SSB menjadi krusial, sangat strategis dalam menentukan kemajuan prestasi sepakbola Indonesia.

Mengelola SSB, lanjut Ariono, tidaklah ringan. Iklim pembinaan usia muda di Indonesia berbeda jauh dengan di Eropa.

Di Eropa, pemerintah dan klub-klub profesional punya kepedulian tinggi terhadap pengembangan sepakbola usia dini.

Tak heran, jika beberapa pemain sudah mendapatkan kontrak professional agar bakat istimewanya dapat dikembangkan secara optimal.

Sayangnya di Indonesia pembinaan pemain dini masih banyak dilakukan oleh pihak swasta dan swadaya masyarakat yang peduli pada pengembangan sepakbola usia dini.

Perhatian PSSI baik di tingkat pusat, provinsi atau kabupaten masih dapat dikatakan belum optimal. Bisa dikatakan induk organisasi sepakbola Indonesia itu masih minim perhatiannya pada kompetisi usia dini.  

Padahal, kata Ariono, permasalahan pembinaan usia dini tak hanya pada masalah kualitas kompetisi.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved