Gejala Awal Covid-19 dan Tiga Gejala Baru Covid-19, Waspadalah
Pada awal Covid-19 menular, berbagai gejala menjangkiti mereka yang terpapar. Seperti demam, batuk dan sesak napas.
TRIBUNJOGJA.COM - Pada awal Covid-19 menular, berbagai gejala menjangkiti mereka yang terpapar. Seperti demam, batuk dan sesak napas.
Kini, vaksin Covid-19 di Indonesia mulai didistribusikan ke berbagai daerah.
Vaksinasi pun segera dilakukan. Untuk kesempatan pertama ini akan diberikan kepada mereka yang berada di garda terdepan yakni para tenaga kerja.
Sekalipun vaksin sudah ada dan giliran vaksin untuk masyarakat umum segera tiba, namun menjalankan protokol kesehatan Covid-19 menjadi penting.
Mulai dari mengenakan masker, cuci tangan pakai sabun di air mengalir, menjaga jarak dan menghindari kerumunan.
Di awal pandemi, kita tahu bahwa beberapa gejala umum Covid-19 di antaranya adalah demam, batuk kering dan kelelahan.
Namun, seiring berjalannya waktu, gejala infeksi Covid-19 pun bertambah sehingga banyak orang keliru dalam membedakannya dengan gejala penyakit lain.
Sebagian orang juga mencari tahu gejala awal apa saja yang umumnya muncul ketika seseorang terinfeksi Covid-19.
Menurut kandidat doktor USC Dornsife dan penulis utama studi tentang urutan gejala Covid-19, Joseph Larsen, mengetahui urutan gejala sangat penting untuk para dokter mengidentifikasi penyakit tersebut dengan cepat dan memberikan keputusan pengobatan yang tepat.
Setidaknya, ada enam gejala awal Covid-19 yang harus diwaspadai, yakni:
1. Demam
Anda perlu waspada jika mendapati suhu tubuh berada di atas 38 derajat Celcius. Sebab, demam adalah gejala awal Covid-19 yang paling umum terjadi di masyarakat.
Menurut pakar penyakit menular dan direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular (NIAID), Dr Anthony Fauci, infeksi Covid-19 umumnya disertai demam, batuk, kelelahan, kehilangan napsu makan, sesak napas, hingga mialgia atau nyeri otot.
2. Batuk dan nyeri otot
Batuk, umumnya jenis batuk kering, dan nyeri otot juga menjadi gejala awal yang umum terjadi pada pasien Covid-19.
Menurut penelitian, dua gejala tersebut sering kali muncul setelah demam. Beberapa orang juga mengalami sakit punggung yang menyiksa, seperti dialami oleh pembawa acara bincang-bincang, Ellen DeGeneres. Dia bahkan tidak tahu bahwa itu adalah gejala.
3. Mual atau muntah
Menurut sebuah penelitian, ini juga menjadi salah satu gejala yang umum terjadi pada pasien Covid-19, baik dewasa maupun anak-anak, ketika terinfeksi Covid-19.
Ada banyak alasan yang menyebabkan seseorang merasakan mual dan muntah, di antaranya karena infeksi virus, respons peradangan sistemik, efek samping obat, hingga tekanan psikologis.
4. Diare
Menurut laporan Johns Hopkins, Covid-19 dapat menghadirkan berbagai gejala. Namun, salah satu gejala yang berpotensi berbahaya bagi kebanyakan orang tapi tidak terlalu banyak dibicarakan adalah diare.
"Diperkirakan 20 persen pasien Covid-19 cenderung mengalami diare setelah tertular," ungkap laporan tersebut. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mencatat, orang dengan sistem kekebalan lemah, seperti mereka yang terinfeksi atau pulih dari Covid-19, memiliki risiko terbesar terkena diare dan gangguan saluran pencernaan lainnya, termasuk mual dan muntah.
5. Kehilangan kemampuan indera penciuman atau perasa
Menurut Fauci, saat ini semakin banyak pasien Covid-19 yang melaporkan mengalami kehilangan kemampuan indera penciuman dan perasa. Laporan tersebut cukup konsisten dan bahkan pada beberapa pasien muncul terlebih dahulu dibandingkan gejala pernapasan.
Bahkan, bagi beberapa pasien, gejala ini tak kunjung pergi meski mereka dinyatakan telah sembuh dari Covid-19.
Terbaru, dilaporkan sejumlah pasien mengalami parosmia. Gejala ini membuat seseorang berhalusinasi mencium bau menyengat seperti bau ikan yang amis, belerang, dan bau manis yang tidak enak.
6. Semua gejala atau tanpa gejala sama sekali
Satu hal yang membuat Fauci terkesima tentang virus ini adalah spektrum penyakitnya yang sangat luas.
Beberapa orang meeninggal karena Covid-19, beberapa orang lainnya menderita sindrom pasca-Covid yang membuat mereka masih merasakan gejala jauh setelah mereka sembuh, seperti kelelahan, migrain dan masalah kognitif.
Namun, beberapa orang malah tidak merasakan apapun sama sekali. "Sekitar 20-45 persen orang benar-benar asimtomatik (tanpa gejala) dan beberapa lainnya dapat menjadi pra-gejala. Sebagian lainnya juga hanya mengalami gejala ringan," tuturnya.
Pada akhirnya, jika Anda mengalami demam, batuk atau beberapa gejala lainnya, ada kemungkinan Anda sudah terinfeksi Covid-19.
Hubungi penyedia layanan kesehatan untuk melakukan pemeriksaan. Kebanyakan pasien Covid-19 menderita penyakit ringan dan dapat pulih di rumah dengan beristirahat.
Pemeriksaan sesegera mungkin setelah mengalami gejala akan membantu Anda mendapatkan penanganan yang tepat sekaligus membantu menekan penyebaran infeksi Covid-19.
Berikut 3 gejala baru yang diderita oleh pasien Covid-19:
1. Anosmia
Mengutip Kompas.com, 5 Desember 2020, anosmia adalah istilah yang merujuk pada menghilangnya kemampuan indera penciuman. Anosmia biasanya terjadi akibat cedera kepala, masalah dengan saluran hidung, atau infeksi virus yang parah pada saluran pernapasan bagian atas.
Melansir laman Harvard Medical School (HMS), anosmia merupakan gejala neurologis utama, dan merupakan salah satu indikator Covid-19 paling awal yang paling sering dilaporkan.
Para peneliti menemukan bahwa virus SARS-CoV-2 rupanya tidak menyerang neuron indera penciuman secara langsung, melainkan sel-sel pendukungnya.
“Penemuan kami menunjukkan bahwa Novel Coronavirus mengubah indera penciuman pada pasien tidak dengan langsung menginfeksi neuron tetapi dengan mempengaruhi fungsi sel pendukung,” kata Sandeep Robert Datta , profesor neurobiologi di Blavatnik Institute di HMS.
Menurutnya, anosmia pada kasus infeksi SARS-CoV-2 tidak akan merusak sirkuit penciuman secara permanen dan menyebabkan anosmia terus menerus.
Sehingga ketika sudah pulih, besar kemungkinan untuk indra penciuman pasien kembali. Sementara itu, beberapa penelitian mengisyaratkan bahwa anosmia pada Covid-19 berbeda dengan anosmia yang disebabkan oleh infeksi virus lain, termasuk oleh virus corona lain.
Pada pasien Covid-19 biasanya pemulihan indra penciuman terjadi dalam waktu beberapa minggu. Masa pemulihan ini jauh lebih cepat daripada waktu yang dibutuhkan untuk pulih dari anosmia yang disebabkan oleh infeksi virus lain yang diketahui secara langsung merusak neuron sensorik penciuman.
2. Delirium
Mengutip Kompas.com, 11 Desember 2020, para peneliti dari Universitas Oberta de Catalunya (UOC), Barcelona, Spanyol, merilis sebuah studi pada awal November 2020. Studi tersebut menyatakan bahwa delirium menjadi salah satu gejala yang muncul pada penderita Covid-19, terutama pada kelompok lanjut usia (lansia).
Delirium adalah perubahan tiba-tiba yang terjadi pada fungsi mental seseorang.
Gangguan ini menyebabkan perubahan cara berpikir dan perilaku serta tingkat kesadarannya. Delirium juga memengaruhi kemampuan berkonsentrasi, berpikir, mengingat, dan pola tidur seseorang.
Dokter Spesialis Saraf dari Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI), dr Rubiana Nurhayati mengatakan, delirium adalah keadaan ketika kesadaran seseorang menjadi terganggu.
"Keadaan ini disebabkan hypoxia atau kekurangan oksigen di otak. Kondisi ini sering terjadi pada pasien Covid-19, di mana saturasi oksigen menurun," kata dr Rubi, dikutip dari Kompas.com, 10 Desember 2020.
Dr Rubi mengungkapkan bahwa delirium sering terjadi pada penyakit-penyakit yang menganggu fungsi otak.
Namun, bisa juga terjadi pada pasien dengan kelainan metabolik, seperti hipoglikemia, hiponatremia dan lain sebagainya.
"Biasanya, gejalanya mudah mengatuk, bicara kacau, kadang tidak nyambung, kesadaran terganggu," jelas dia.
3. Parosmia
Mengutip Kompas.com, Minggu (3/1/2021) penderita Covid-19 yang berkepanjangan melaporkan adanya gejala baru yang mereka rasakan, yaitu parosmia.
Parosmia adalah gejala halusinasi mencium bau menyengat, seperti bau ikan yang amis, belerang, dan bau manis yang tidak enak.
Ahli bedah telinga, hidung dan tenggorokan (THT) di Edge Hill University Medical School, Profesor Nirmal Kumar menyebut parosmia sebagai gejala yang "sangat aneh dan sangat unik".
Kumar mencatat bahwa di antara ribuan pasien yang dirawat karena anosmia jangka panjang di seluruh Inggris, beberapa mengalami parosmia.
Melansir Healthline, parosmia biasanya terjadi setelah neuron pendeteksi aroma, atau yang juga disebut indra penciuman, mengalami kerusakan karena infeksi virus atau kondisi kesehatan lainnya.
Neuron-neuron itu melapisi hidung dan memberi tahu otak mengenai cara menafsirkan informasi kimiawi yang membentuk bau.
Kerusakan neuron pendeteksi aroma menyebabkan informasi kimiawi yang membentuk bau mencapai otak dengan cara berbeda, sehingga terjadi distorsi dan muncul dalam bentuk bau menyengat tidak sedap. (Kompas.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ilustrasi-vaksin-covid-19_1512.jpg)