Perhotelan DI Yogyakarta Mengalami Okupansi Terendah dalam Sejarah Libur Pergantian Tahun

Perhimpunan Hotel dan Resotoran (PHRI) DIY menyatakan bahwa okupansi dari 31 Desember sampai 2 Januari mencapai 18 persen.

Tayang:
Penulis: Santo Ari | Editor: Kurniatul Hidayah
Tribunjogja/ Santo Ari
Ketua PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono 

TRIBUNJOGJA.COM - Perhimpunan Hotel dan Resotoran (PHRI) DIY menyatakan bahwa okupansi dari 31 Desember sampai 2 Januari mencapai 18 persen.

Jumlah ini adalah angka terendah di dalam sejarah perhotelan.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Resotoran (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono menyatakan bahwa menjelang akhir tahun, tingkat okupansi di DIY hanya mencapai 8 persen saja.

Angka itu mulai naik dan pada 2 Januari kemarin, ia mencatat tingkat okupansi hotel di DIY mencapai 18 persen.

Baca juga: Akses Layanan Administrasi Kependudukan di Kabupaten Magelang Kini Cukup Menggunakan Whatsapp

"Tahun ini adalah sejarah rekor terendah di perhotelan di DIY. Di tahun-tahun sebelumnya, okupansi belum pernah di bawah 40 persen," ujarnya Minggu (3/1/2020).

Ia menyatakan, untuk di DIY bagian tengah mengalami peningkatan sampai 40-50 persen. Namun jika dilakukan rata-rata semua wilayah, okupansi hotel hanya sampai di 18 persen saja.

"Kemarin hotel-hotel sudah menurunkan harga, meski diturunkan ternyata okupansi masih segitu. Masih banyak cancelan," imbuhnya.

Kebijakan pemerintah yang terkesan mendadak disebutnya menjadi alasan okupansi tersebut turun drastis. Saat disinggung tentang rencana strategi di tahun 2021, Deddy menyatakan bahwa pihaknya akan menunggu kebijakan pemerintah terbaru, sebelum melakukan rapat koordinasi.

Selain itu, jumlah kasus Covid-19 yang tinggi juga akan mempengaruhi strategi PHRI ke depan.

Baca juga: Tren Kasus Covid-19 Meningkat, Sebanyak 36 Tenaga Kesehatan di Kulon Progo Dinyatakan Positif

"PHRI masih trauma dalam mengatur strategi. Tiga bulan lalu kami sudah mengatur strategi, ternyata ada kebijakan yang mendadak yang menghancurkan strategi kami semua. Maka sekarang kami hanya akan menunggu sehingga dapat mengatur strategi lebih lanjut, terutama untuk menghadapi low season di Januari-Maret," bebernya.

Karena low season tersebut, maka PHRI berharap dengan adanya peningkatan dari kegiatan meetings, incentives, conferences and exhibitions (MICE).

Ia berharap dari pemerintah daerah hingga pusat bisa memanfaatkan fasilitas yang dimiliki PHRI untuk perputaran uang.

Pun demikian, kegitan MICE pun dapat dilakukan rata dari hotel non-bintang hingga berbintang. (nto)  

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved