Cerita Mereka yang Berhasil Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

Pandemi covid-19 memang memukul berbagai sendi kehidupan. Tapi ada pula yang berhasil bertahan dengan berbagai inovasi yang mereka lakukan

Tayang:
Penulis: Mona Kriesdinar | Editor: Mona Kriesdinar
TRIBUNJOGJA.COM | Mona Kriesdinar
Edi Santoso pemilik brand SIJI 

TRIBUNJOGJA.COM - Pradiyanto Datu Jatmiko boleh dibilang termasuk salah seorang pengusaha tour dan travel yang berhasil di Yogyakarta. Ia pernah mengoperasikan hingga 10 armada untuk melayani tamu yang datang silih berganti. Ke-10 armada itu memang bukan semua miliknya, tapi dikerjasamakan dengan rekanan lainnya. Sudah terbayangkan olehnya, libur Natal dan Tahun Baru 2021 tak akan jauh berbeda dengan kondisi tahun 2019-2020 lalu.

"Dulu sampai kuwalahan, tidak bisa lagi menerima order," ungkap warga Bromonilan, Purwomartani, Kalasan ini saat menceritakan kembali pengalamannya banjir order pada libur akhir tahun 2019 lalu.

Namun, awal tahun 2020, terjadi hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Sesuatu yang membuat usahanya benar-benar limbung dan terpuruk.

Di awal tahun 2020 itu, dunia dicengkeram pandemi covid-19 yang menghantam berbagai sektor kehidupan. Banyak usaha yang gulung tikar hingga terjadi pemutusan hubungan kerja di berbagai perusahaan. Daya beli masyarakat pun menurun seiring dengan pemberlakukan pembatasan sosial skala besar alias lockdown di beberapa daerah.

Dampak pandemi covid-19 mulai ia rasakan sekitar bulan Juli 2020. Atau setelah liburan lebaran. Saat itu, praktis tidak ada sama sekali wisatawan yang menggunakan jasa tour dan travel. Situasinya benar-benar sepi, tak ada penghasilan sama sekali.

"Sekarang ada armada tinggal 1," katanya saat ditemui di acara pameran produk UKM di Sleman City Hall, Senin (28/12/2020).

Namun ia tak menyerah. Ia sadar bahwa usaha tour dan travel tak bisa lagi diandalkan paling tidak untuk sementara ini. Sehingga ia harus memutar otak mencari peluang lain yang bisa membuat dapurnya kembali mengepul.

Akhirnya ia menemukan ide untuk terjun ke bisnis penjualan plastik kemasan. Inspirasinya tak lain hasil dari analisa pasar dan tren kecenderungan pola konsumsi masyarakat.

"Sekarang banyak yang jual beli online, otomatis kan butuh kemasan. Syukurlah ini bisa bertahan sampai sekarang," katanya.

Ke depan, ia akan terus menekuni usaha tersebut sambil menunggu situasi kembali normal sehingga usaha tour dan travelnya bisa kembali beroperasi.

"Saya sih optimis 2021 nanti akan membaik," tandasnya.

Danik Ubah Strategi Penjualan

Danik Damayanti, UKM dari Sendangadi, Mlati, Sleman yang menjual aneka macam frozen food dan aneka minuman tradisional
Danik Damayanti, UKM dari Sendangadi, Mlati, Sleman yang menjual aneka macam frozen food dan aneka minuman tradisional (TRIBUNJOGJA.COM | Mona Kriesdinar)

Tak hanya Jatmiko, situasi yang sama juga dirasakan oleh Danik Damayanti seorang pelaku UKM di Sleman yang menekuni usaha penjualan frozen food.

Danik merasakan benar adanya penurunan daya beli masyarakat. Dari situasi itu, pemilik brand Fazza Food ini mulai menyesuaikan diri. Frozen Food yang biasanya dijual per paket dengan harga Rp 35 ribu, kini dijual eceran dengan target konsumen anak-anak. Meski tidak banyak, namun langkah itu bisa membuat usahanya tetap berjalan.

"Dijualnya ada yang Rp 5 ribuan," tambah warga Sendangadi, Mlati, Sleman ini.

Tak hanya itu, ia pun menambah produk yang ternyata tren di era pandemi, yakni produk rempah-rempah yang berkhasiat untuk meningkatkan imunitas. Di Yogyakarta, minuman ini dikenal dengan istilah Wedhang Uwuh. Sebuah minuman tradisional dengan berbagai macam rempah di dalamnya. Kemudian, produk ini dikemas dengan wadah yang higienis dan menarik sehingga membuat produk itu kian menawan dan tentu saja terjamin keamananya.

"Memang berat, tapi saya pun optimis nanti di tahun 2021 situasinya akan membaik. Yang penting terus berjuang dan terus berinovasi," tandasnya.

Purnomo Lebarkan Sayap Merambah Pasar Luar Negeri

Aneka produk sambal dari UKM 'Dapur SIP'
Aneka produk sambal dari UKM 'Dapur SIP' (TRIBUNJOGJA.COM | Mona Kriesdinar)

Lain halnya dengan Purnomo, warga Wedomartani, Sleman yang merupakan pemilik brand Dapur SIP. Purnomo tak begitu merasakan dampak dari pandemi secara signifikan. Ini terjadi lantaran produknya termasuk salah satu bahan makanan yang diminati banyak orang. Yakni produk aneka macam sambal, dari mulai sambal ikan pari, sambil ikan manyung, sambil cumi hingga sambal bawang.

"Ada penurunan tapi tidak begitu signifikan," katanya.

Selama ini, tambahnya, ia tak begitu mengambil pusing dengan situasi pandemi. Yang penting menurut dia tetap menerapkan protokol kesehatan, tetap waspada namun tidak mengendurkan semangatnya dalam mencari rezeki. Terbukti, bisnisnya selama ini terus berjalan. Bahkan di tahun 2021 mendatang, tepatnya bulan Februari ia siap dengan rencana besar untuk melebarkan sayap merambah pasar luar negeri.

Aneka produk sambal dari UKM 'Dapur SIP'
Aneka produk sambal dari UKM 'Dapur SIP' (TRIBUNJOGJA.COM | Mona Kriesdinar)

"Ada rekanan yang membantu untuk memasarkan, hanya tinggal kesiapan skala produksi saja. Insyaallah kami sudah siap," tandasnya penuh keyakinan.

Oleh karena itu, tak ada sedikit pun kekhawatiran dalam menyongsong tahun 2021. Meskipun pandemi covid-19 masih belum bisa diprediksi kapan akan berakhir.

"Saya ada rencana untuk memaksimalkan penjualan melalui media digital juga, tapi memang harus dedicated. Selama ini kami jalani saja, dan ternyata hasilnya pun tidak mengecewakan," tambahnya.

Edi Siapkan Skenario Terburuk

Edi Santoso pemilik brand SIJI
Edi Santoso pemilik brand SIJI (TRIBUNJOGJA.COM | Mona Kriesdinar)

Sementara itu rencana besar lainnya juga sudah dipersiapkan oleh Edi Santoso, pemilik brand SIJI. Ia merupakan produsen berbagai macam produk minuman kemasan mulai dari Teh Siji yakni teh hijau dan teh merah, kopi arabika kemasan, kopi robusta juga ada wedhang uwuh. Menariknya, minuman-minuman ini didesain dengan kemasan yang premium dengan menggunakan kaleng. "Ada strategi-strategi yang akan dijalankan di 2021, merambah pasar online yang lebih luas dan melihat peluang-peluang pemasaran lainnya di toko-toko buah tangan offline," terangnya.

Ia menambahkan, kunci keberhasilan dalam menyiasati situasi sulit ini adalah dengan mengembangkan jaringan usaha melalui komunitas. Lantaran melalui komunitas, mereka bisa saling mempromosikan, saling mendukung bahkan saling menjualkan. Namun permasalahannya belum semua pengusaha UKM yang bergabung dengan komunitas, padahal banyak manfaat yang bisa diperoleh.

Produk UKM 'SIJI' milik Edi Santoso
Produk UKM 'SIJI' milik Edi Santoso (TRIBUNJOGJA.COM | Mona Kriesdinar)

Bagaimana jika situasi tak kunjung membaik, atau bahkan memburuk? Edi dengan mantap menjawab akan menggencarkan strategi penjualan online. Ia juga sudah mempersiapkan diri dengan memenuhi kebutuhan bahan baku mulai dari sekarang. Sehingga jika situasinya memburuk, minimal dia tak mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan bahan baku.

"Waktu parah-parahnya kemarin saya mengalami, bahan baku kaleng untuk kemasan sama sekali tidak ada, karena pabriknya tutup," ungkapnya.

Kini usahanya mulai berangsur pulih meskipun belum sepenuhnya normal. Tapi memang sudah ada peningkatan yang bisa ia syukuri. Di tahun 2021 mendatang, ia berharap situasinya kian membaik. Seandainya pun situasinya memburuk, ia sudah mempersipkan berbagai strategi bisnis yang relevan dengan situasi tersebut.

"Pokoknya optimis, kami yakin UKM semakin tangguh dan mampu beradaptasi dengan situasi ini," tandasnya. (mon)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved