Harga Emas Batangan Akhir Pekan Plus Analisis Investasi Tahun Baru 2021
harga pecahan satu gram emas Antam berada di Rp 973.000. pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2021 yang tumbuh sebesar 6,1% d
Tribunjogja.com -- Harga emas batangan bersertifikat Antam keluaran Logam Mulia PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) stagnan pada Minggu (27/12/2020).Mengutip situs Logam Mulia, harga pecahan satu gram emas Antam berada di Rp 973.000.

Harga emas Antam ini sama seperti harga Sabtu (26/12) yang juga ada di posisi Rp 973.000 per gram.
Sementara harga buyback emas Antam juga tetap di level Rp 861.000 per gram, sama seperti hari sebelumnya.
Berikut harga emas batangan Antam dalam pecahan lainnya per Minggu (27/12) dan belum termasuk pajak:
1. Harga emas 0,5 gram: Rp 536.500
2. Harga emas 1 gram: Rp 973.000
3. Harga emas 5 gram: Rp 4.640.000
4. Harga emas 10 gram: Rp 9.225.000
5. Harga emas 25 gram: Rp 22.937.000
6. Harga emas 50 gram: Rp 45.795.000
7. Harga emas 100 gram: Rp 91.512.000
8. Harga emas 250 gram: Rp 228.515.000
9. Harga emas 500 gram: Rp 456.820.000
10. Harga emas 1.000 gram: Rp 913.600.000
Keterangan:
Logam Mulia Antam menjual emas dan perak batangan dalam beberapa ukuran berat (misalnya 1 gram, 2 gram, dan 500 gram).
Biasanya harga per gram emas Antam akan berbeda tergantung berat batangnya.
Perbedaan ini terjadi karena ada biaya tambahan untuk pencetakan, sehingga harga per gram emas Antam batang kecil lebih mahal dari batang yang lebih besar.
Harga yang ada di sini adalah harga per gram emas batang 1 kilogram yang biasa dijadikan patokan pelaku bisnis emas.
Analisis Investasi 2021

Tahun 2020 akan segera berakhir dalam waktu dekat. Para investor pun sudah harus segera menyiapkan portofolio investasinya untuk tahun depan.
Infovesta Utama dalam laporan mingguannya telah memberikan beberapa faktor yang perlu diperhatikan investor menyambut 2021.
Dalam laporan yang rilis pada pekan ini, Infovesta Utama, menyebutkan salah satu faktor yang akan mendukung proses pemulihan ekonomi dan kinerja pasar modal tahun depan adalah besarnya likuiditas dari bank sentral Indonesia maupun global.
Salah satu kebijakan moneter ekspansif adalah pemangkasan tingkat suku bunga acuan ke level terendahnya di 3,75% dan dipertahankan tetap di level tersebut pada Rapat Dewan Gubernur pada 17 Desember silam.
Hal tersebut bisa menjadi insentif bagi masyarakat karena kredit konsumtif yang rendah sehingga mendorong masyarakat untuk lebih sering berbelanja.
Di sisi lain, tingkat suku bunga rendah juga mendukung perusahaan melakukan ekspansi yang sempat terhambat di tahun 2020 dengan cost of fund yang lebih murah.
Hal ini tercermin dari ekspektasi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2021 yang tumbuh sebesar 6,1% dari -1,5% di akhir tahun 2020.
“Insentif lain yang disediakan adalah adanya kebijakan pemerintah seperti restrukturisasi kredit yang diperpanjang hingga 2022, serta Omnibus Law yang mendorong investor asing untuk berinvestasi di Indonesia melalui Sovereign Wealth Fund (SWF),” seperti dikutip dari laporan Infovesta Utama.
Sementara itu, selain faktor pendukung, terdapat juga faktor penghambat yang dapat diperhatikan investor, yakni soal perkembangan vaksin di Indonesia. Apakah efektivitasnya terbukti, tersedia atau tidaknya kemudahan distribusi, serta efek samping dari penggunaan vaksin itu sendiri.
Selain itu, terdapat sentimen global seperti perang dagang Amerika-China dan situasi geopolitik di dunia, serta Brexit yang masih belum juga mencapai perjanjian dagangnya.
Dari Indonesia sendiri investor perlu memperhatikan pemulihan ekonomi yang mungkin sedikit terhambat karena prediksi akan rendahnya kenaikan gaji di tahun 2021 serta tingkat pengangguran di Indonesia yang meningkat pesat selama 2020 (2,66 juta - 9,77 juta) sehingga menyebabkan penurunan daya beli masyarakat.
Melihat ekspektasi pemulihan ekonomi tahun 2021, maka reksadana berbasis saham menjadi pilihan yang menarik.
Hal ini dikarenakan, pasar modal Amerika (DJIA) dan Shanghai sudah mencatatkan kinerja positif masing-masing sebesar 6,03% dan 11.67% secara year to date. Sedangkan, pasar modal Indonesia masih tercatat negatif, sehingga peluangnya masih besar. (*)