Breaking News:

ADVERTORIAL

Pengawasan Pangan Jelang Nataru, BBPOM Yogyakarta Temukan Pangan Tak Penuhi Ketentuan

BBPOM di Yogyakarta melakukan intensifikasi pengawasan pangan menjelang Natal tahun 2020 dan Tahun Baru 2021 (nataru).

TRIBUNJOGJA.COM / Maruti Asmaul Husna Subagio
Kepala Balai Besar POM di Yogyakarta, Dra Dewi Prawitasari, Apt MKes (kedua dari kiri) sedang melakukan pengawasan pangan, Selasa (15/12/2020). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Yogyakarta melakukan intensifikasi pengawasan pangan menjelang Natal tahun 2020 dan Tahun Baru 2021 (nataru).

Hal ini berlangsung sejak 23 November sampai 8 Januari 2021.

Kepala Balai Besar POM di Yogyakarta, Dra Dewi Prawitasari, Apt MKes mengungkapkan kegiatan ini merupakan salah satu pengawasan post-market yang dilakukan BBPOM di Yogyakarta untuk lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya produk pangan yang Tidak
Memenuhi Ketentuan (TMK). 

"Kegiatan intensifikasi pengawasan pangan ini rutin dilakukan untuk mengantisipasi beredarnya produk yang tidak memenuhi syarat. Hal ini dilakukan melalui pengawasan pangan olahan kemasan berfokus pada pangan Tanpa lzin Edar (TlE)/ilegal, pangan kadaluwarsa, dan pangan rusak. Serta pengawasan pangan yang berpotensi
mengandung bahan berbahaya yang dilarang digunakan dalam pangan," ungkap Dewi saat ditemui di Jogja City Mall, Selasa (15/12/2020). 

Baca juga: BBPOM Yogyakarta Terima 1.164 Permintaan Informasi dan Pengaduan Selama 2020

Ia menambahkan, permintaan produk pangan yang meningkat umumnya terkait dengan sejumlah bahan pokok kebutuhan sehari-hari, seperti air minum dalam kemasan, tepung, maupun pangan sajian hari raya, seperti aneka jenis minuman, makanan ringan, permen, dan sebagainya. 

"Situasi ini seringkali digunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk mengedarkan pangan yang tidak aman dan/atau tidak layak dikonsumsi, antara lain pangan Tanpa lzin Edar (TIE) atau ilegal, pangan kadaluwarsa, pangan rusak (penyok, kaleng berkarat, rusak, dan bolong/bocor)," tuturnya. 

lntensifikasi pengawasan pangan menjelang Natal tahun 2020 dan Tahun Baru 2021 yang
dilakukan BBPOM di Yogyakarta bekerja sama dengan lintas sektor terkait, telah memeriksa 108 sarana distribusi pangan. 

Hasil pengawasan sejak 24 November sampai dengan 11 Desember 2020 menghasilkan temuan sarana distribusi atau penjual produk yang tidak memenuhi kriteria di Kota Yogyakarta sebanyak 1 sarana, Kabupaten Sleman 9 sarana, Kabupaten Bantul 4 sarana, Kabupaten Kulon Progo 5 sarana, dan Kabupaten Gunung Kidul sebanyak 5 sarana. 

Sarana distribusi yang diperiksa terdiri atas distributor, pasar modern (hypermart, supermarket, swalayan), toko, pasar tradisional, pembuat/penjual parsel.

Baca juga: Pemda DIY dan BBPOM Bekerjasama Tingkatkan Potensi UMKM Melalui Edukasi Keamanan Produk

Dari sarana distribusi pangan yang diperiksa, ditemukan 85 item (1.327 pcs) produk pangan TMK yang terdiri atas 22,91 persen pangan kadaluwarsa, 74,76 persen pangan ilegal, dan 2,34 persen pangan rusak. 

"Nilai ekonomis temuan tersebut sebesar Rp4.030.750. Temuan jenis produk pangan
tanpa ijin edar terbanyak adalah bahan tambahan pangan, seperti pewarna, vanilli, baking powder, essence, dan ovalet. Seluruh produk pangan yang TMK telah diturunkan dari rak pajang/display, diamankan setempat, diperintahkan untuk tidak diedarkan kemudian dilakukan pemusnahan," beber Dewi. 

Lebih lanjut, ungkapnya, komitmen BBPOM di Yogyakarta untuk mengawal keamanan pangan dan melindungi kesehatan masyarakat terus dilakukan meskipun dalam masa darurat pandemi COVID-19 dengan tetap berpedoman pada protokol kesehatan.

BBPOM di Yogyakarta juga akan menindak oknum pelaku usaha yang tidak memenuhi ketentuan dalam rangka menjamin peredaran pangan yang aman dan bermutu. ( Tribunjogja.com

Penulis: Maruti Asmaul Husna
Editor: Gaya Lufityanti
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved