Berita Kesehatan

Penting ! Ini Alasan Kenapa Antibiotik Harus Dihabiskan Sesuai Resep Dokter

Antibiotik umumnya diberikan dokter dalam bentuk sirup, tablet, kapsul, krim, salep, atau obat suntik.

Tayang:
Editor: Mona Kriesdinar
Ilustrasi antibiotik 

TRIBUNJOGJA.COM - Anda mungkin sudah mengenal benar dengan istilah antibiotik. Ini merupakan kelompok obat yang digunakan untuk mengobati infeksi bakteri dan parasit tertentu.

Antibiotik tidak dapat digunakan untuk mengatasi infeksi virus. Semisal virus influenza, Covid-19, dsb, serta infeksi jamur semisal sariawan, gatal karena jamur, dll.

Obat yang punya nama lain antimikroba ini umumnya diberikan dokter dalam bentuk sirup, tablet, kapsul, krim, salep, atau obat suntik.

Alasan Kenapa Resep Antibiotik Harus Dihabiskan

Melansir laman resmi Patient, penggunaan obat antibiotik yang tepat dapat membantu mengatasi penyakit.

Obat ini tidak boleh sembarangan digunakan atau dikonsumsi, tanpa pengawasan dokter.

Jika tidak tepat digunakan, kuman biang penyakit bisa kebal atau resisten terhadap antibiotik.

Dampaknya, penyakit jadi sulit diobati di kemudian hari.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut, resistensi antibiotik akibat penggunaan obat antibiotik sembarangan kini menjadi ancaman kesehatan global.

Dokter umumnya sangat berhati-hati saat memberikan antibiotik untuk mengatasi infeksi bakteri dan parasit yang serius.

Melansir NHS, antibiotik baru diberikan apabila infeksi sulit sembuh tanpa obat, menular, sulit sembuh tanpa bantuan pengobatan, berisiko memicu komplikasi parah.

Orang yang rentan terkena infeksi parah terkadang juga diberi obat antibiotik sebagai langkah pencegahan atau profilaksis antibiotik. Jadi, Anda jangan heran apabila para dokter tidak memberikan antibiotik untuk penyakit akibat infeksi virus, jamur, atau infeksi bakteri yang sifatnya ringan.

Pilihan antibiotik yang diberikan dokter, tergantung infeksi kuman yang menyerang tubuh. Karena, satu jenis antibiotik hanya efektif untuk melawan bakteri atau parasit tertentu.

Dokter juga menimbang kondisi kesehatan penderita, tingkat keparahan penyakit, kondisi ginjal, dampaknya saat dipadukan dengan obat lain, riwayat alergi, persebaran penyakit di suatu daerah. dll.

Itulah alasan kenapa saat memberikan antibiotik, dokter biasanya meminta agar pasien menghabiskan sesuai dengan dosis yang diberikan.

Penggunaan antibiotik yang berlebihan, termasuk yang kurang atau di bawah dosis yang dianjurkan oleh dokter, akan menciptakan mikroorganisme yang resistan terhadap obat antibiotik dan bahkan dapat menyebabkan kematian.

Sayangnya, antibiotik tidak selalu mampu membunuh semua bakteri jahat.

Sama seperti bentuk kehidupan genetik lainnya, bakteri juga bisa bermutasi dari waktu ke waktu.

Bakteri buruk yang berhasil bertahan hidup dapat mengubah DNA mereka agar menjadi lebih kuat dari obat antibiotik.

Inilah yang disebut sebagai resistensi antibiotik.

Umumnya, mikroorganisme yang resisten ini disebut sebagai "superbug".

Setiap kali Anda mengonsumsi antibiotik, Anda juga membunuh beberapa bakteri yang menguntungkan di dalam tubuh Anda.

Karena ada kekosongan "ruang" yang ditinggalkan oleh bakteri baik, bakteri resisten akan cepat berkembang biak, dan mentransfer resistensi obat kepada bakteri lain.

Untuk alasan ini, penggunaan antibiotik yang serampangan, secara pasti akan berkontribusi terhadap perkembangbiakan suberbug.

Yang dimaksud penggunaan antibiotik serampangan adalah;

  • Penggunaan melebihi
  • Penggunaan yang di bawah dosis (tidak menghabiskan obat sesuai anjuran dokter)
  • Terlalu mudah menggunakan antibiotik padahal tubuh masih bisa menyembuhkan dirinya sendiri
  • Penggunaan antibiotik untuk infeksi viral padahal diketahui obat itu kurang efektif, dan bentuk-bentuk penyalahgunaan lainnya.

Jika bakteri dalam tubuh menjadi resistan terhadap obat, Anda bisa mendapat infeksi berulang, yang akan lebih sulit untuk diobati karena jenis obat yang sama tidak akan bekerja, sehingga dokter terpaksa meresepkan antibiotik baru yang lebih kuat dan berspektrum lebih luas.

Di Amerika Serikat, CDC melaporkan ada sekitar 23.000 kematian setiap tahuannya yang disebabkan oleh penyalahgunaan antibiotik.

Ketika dokter menyarankan Anda untuk menghabiskan obat yang dia berikan, dokter berharap semua bakteri jahat dalam tubuh Anda akan hancur dan tidak ada yang tersisa kemudian menjadi resisten.

Sebuah artikel di New York Times menyebutkan, masing-masing dokter akan mengeluarkan standar yang berbeda untuk penggunaan antibiotik dan meresepkan durasi yang berbeda dari setiap pengobatan.

Artikel ini juga melaporkan mengenai data dari beberapa studi yang mengatakan bahwa dosis antibiotik yang lebih rendah, akan lebih baik dan akan mengurangi kecenderungan terjadinya resistensi.

Sebagai pasien, tentu saja sebaiknya Anda mematuhi nasehat dari dokter tapi Anda juga berhak untuk mendiskusikan keinginan dan kekhawatiran Anda mengenai kemungkinan terjadinya resistensi bakteri.

Menambah wawasan dan komunikasi yang terbuka dengan dokter adalah kunci untuk mencegah sesuatu yang buruk terjadi.

Setelah itu, Anda diharapkan mematuhi kesepakatan dengan dokter untuk mengonsumsi obat sesuai anjuran.

Jenis-jenis antibiotik

Terdapat ratusan obat antibiotik dengan nama berbeda-beda. Berikut beberapa jenis-jenis antibiotik yang umum beserta fungsinya:

1. Penisilin

Fungsi antibiotik ini jamak digunakan untuk mengobati infeksi umum misalkan infeksi umum, infeksi kulit, dada, dan saluran kencing. Jenis antibiotik penisilin contohnya penisilin dan amoksisilin.

2. Cephalosporin

Fungsi antibiotik ini jamak digunakan untuk mengobati infeksi yang sifatnya serius, seperti septikemia dan meningitis. Jenis antibiotik cephalosporin contohnya cephalexin.

3. Aminoglikosida

Fungsi antibiotik ini untuk mengobati infeksi yang sangat berbahaya seperti septikemia.

Penggunaan antibiotik ini perlu ekstra hati-hati dan hanya dilakukan tenaga kesehatan di rumah sakit.

Pasalnya, obat ini memiliki efek samping serius seperti gangguan pendengaran dan kerusakan ginjal.

Obat ini biasanya berupa obat suntik. Tapi, ada juga yang berupa obat tetes untuk infeksi telinga dan mata. Jenis antibiotik aminoglikosida contohnya gentamisin dan tobramycin.

4. Tetrasiklin

Fungsi antibiotik ini untuk mengobati beragam infeksi seperti jerawat membandel dan penyakit kulit rosacea.

Jenis antibiotik tetrasiklin contohnya tetrasiklin dan doksisiklin.

5. Makrolida

Fungsi antibiotik ini untuk mengatasi penyakit infeksi paru-paru dan dada. Antibiotik ini juga bisa menjadi obat alternatif untuk orang yang alergi antibiotik jenis penisilin, atau mengobati penyakit infeksi bakteri yang restisten antibiotik penisilin.

Jenis antibiotik makrolida contohnya eritromisin dan klaritromisin.

6. Fluoroquinolones

Fungsi antibiotik ini untuk mengatasi beragam penyakit infeksi, terutama infeksi saluran pernapasan dan infeksi saluran kencing.

Antibiotik ini jarang diberikan untuk pengobatan rutin jangka panjang karena memiliki efek samping yang serius. Jenis antibiotik fluoroquinolones contohnya ciprofloxacin dan levofloxacin.

Saat diberi obat antibiotik dari dokter, Anda wajib mengonsumsinya dengan cara yang benar.

Perhatikan cara mengonsumsi obat apakah perlu dalam kondisi perut kosong atau perlu makan terlebih dahulu, dosisnya, dan petunjuk lain.

Hal yang tak kalah penting, pastikan Anda menghabiskan seluruh antibiotik agar pengobatan benar-benar tuntas. Hindari menghentikan pengobatan di tengah jalan tanpa persetujuan dokter.(*)

==

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ini Sebabnya Antibiotik Harus Dihabiskan"

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved