Bisnis
Pasang-surut Produksi Peyek Kacang di Pelemadu Bantul
Para perajin rumahan pembuat camilan peyek kacang, saat ini memilih tetap bertahan di tengah pasang-surut penjualan.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL- Sudah puluhan tahun, Kampung Pelemadu, Desa Sriharjo, Imogiri, Bantul dikenal luas sebagai sentra penghasil peyek kacang atau dikenal juga rempeyek.
Para perajin rumahan pembuat camilan renyah dan gurih itu, saat ini memilih tetap bertahan di tengah pasang-surut penjualan.
Termasuk di tengah situasi pandemi.
Tumirah, seorang pembuat Rempeyek di Pelemadu mengungkapkan, produksi rempeyek sekarang lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya.
Hal itu, menurut dia, dirasakan juga oleh rekan-rekannya dalam satu kelompok Sedyo Rukun.
Baca juga: Produsen Peyek Kacang di Bantul, Keluhkan Harga Bahan Baku yang Kian Meroket
Penurunan produksi paling kentara dirasakan saat awal pandemi Coronavirus Disease (Covid-19).
Sebelum pandemi, kata dia, dirinya sanggup memproduksi sampai 80 kardus dan semuanya laku terjual.
"Masing-masing kardus berisi sekitar 120 bungkus," terang dia, belum lama ini.
Untuk memproduksi sebanyak itu, sedikitnya membutuhkan tenaga 10 orang.
Mereka bertugas dalam lima tungku produksi. Namun sekarang, perlahan produksi menurun.
Jumlah tenaga yang dibutuhkan otomatis menyusut.
Dari yang awalnya 10 orang terus mengalami pengurangan, hingga menjadi 5 orang saja.
Mereka kini hanya memproduksi rempeyek sekitar enam ember atau setara dengan enam kilogram tepung.
"Sekarang, seminggu goreng. Tiga minggu setelahnya libur tidak produksi," kata Tumirah.
Baca juga: Liburan ke Jogja, Jangan Lupa Beli Oleh-oleh Peyek dan Geplak Mbok Tumpuk
Perempuan berusia 60 tahun itu mengungkapkan, ketika masa produksi biasanya akan menggoreng Rempeyek mulai pukul 08.00 pagi hingga selesai pukul 16.00 sore.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/pasang-surut-produksi-peyek-kacang-di-pelemadu-bantul.jpg)