Status Siaga Gunung Merapi
BPPTKG : Erupsi Diprediksi Melampaui Tahun 2006
Diprediksi erupsi yang akan terjadi ke depan memiliki karakter utama efusif, namun diiringi dengan letusan eksplosif dengan eksplosivitas kecil.
Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) pada hari ini (Kamis, 5/11/2020) pukul 12.00 WIB secara resmi menaikkan status Gunung Merapi dari waspada (level II) menjadi siaga (level III).
Kepala BPPTKG, Hanik Humaida mengatakan dasar ditetapkannya peningkatan status Gunung Merapi ini adalah intensitas kegempaan dan pengukuran deformasi atau penggembungan tubuh Gunung Merapi yang semakin meningkat.
Pada 4 November 2020 rata-rata gempa VB 29 kali/hari, MP 272 kali/hari, guguran (RF) 57 kali/hari, hembusan (DG) 64 kali/hari.
Baca juga: BPPTKG Naikkan Status Gunung Merapi Menjadi Siaga (Level III)
Adapun deformasi yang ditunjukkan oleh EDM Babadan mencapai 11 cm/hari.
Hanik memprediksi, erupsi yang akan terjadi ke depan memiliki karakter utama efusif, namun diiringi dengan letusan eksplosif dengan eksplosivitas kecil.
“Masih ada kemungkinan efusif, tapi sekarang ini potensi eksplosif lebih nyata karena sampai dengan pemantauan kubah lava pada 3 November kemudian dengan seismisitas dan energi yang lebih tinggi dari erupsi 2006, pada saat menjelang munculnya kubah lava sudah melampaui dari data 2006 untuk saat ini, padahal di puncak permukaan hingga 3 November belum muncul kubah lava,” papar Hanik.
Meskipun demikian, data yang ada hingga saat ini belum menunjukkan tanda-tanda erupsi Gunung Merapi seperti 2010.
Baca juga: Inilah Daerah Berbahaya di DIY-Jateng Setelah Status Siaga Merapi Menurut BPPTKG
“Sampai saat ini belum ada tanda erupsi seperti 2010,” imbuhnya.
Ditanya terkait prediksi kapan puncak erupsi Gunung Merapi akan terjadi, Hanik mengatakan ilmu eksakta tidak dapat menjawab hal itu.
“Puncaknya erupsi Merapi kami eksaktanya tidak tahu, belum ada teori yang menentukan kapan puncak suatu erupsi akan terjadi. Yang pasti data terus kami pantau, perkembangan terus kami sampaikan,” beber Hanik.
Sebelumnya, Gunung Merapi telah berstatus waspada (level II) sejak 21 Mei 2018.
Dengan meningkatnya status menjadi siaga, potensi bahaya yang semula berada dalam radius 3 km dari puncak Gunung Merapi, kini ditingkatkan menjadi 5 km. (TRIBUNJOGJA.COM)