Breaking News:

Dinas Pariwisata DI Yogyakarta: Anarkisme Mencederai Sektor Pariwisata

Kepala Dinas Pariwisata DI Yogyakarta (DIY) Singgih Raharjo tak keberatan jika ada demonstrasi karena itu adalah hak untuk mengutarakan pendapat

TRIBUNJOGJA.COM / Santo Ari
Kepala Dinas Pariwisata DIY, Singgih Raharjo saat ditemui Rabu (30/9/2020). 

YOGYA,TRIBUN - Banyak pihak yang menyesalkan demonstrasi yang berujung kisruh beberapa waktu lalu. Tak terkecuali dari sektor pariwisata.

Kepala Dinas Pariwisata DI Yogyakarta (DIY) Singgih Raharjo tak keberatan jika ada demonstrasi karena itu adalah hak untuk mengutarakan pendapat, namun ia menyayangkan aksi demonstrasi itu berujung anarkis dan merusak.

Singgih mengatakan bahwa kerusuhan saat demonstrasi beberapa hari lalu membuat situasi tidak kondusif dan mencoreng Yogyakarta sebagai kota yang dikenal adem ayem dan menjunjung sopan santun yang tinggi. Ini juga akan mempengaruhi citra Yogyakarta sebagai kota pariwisata.

"Ini mencederai di saat sektor pariwisata baru gencarnya mengkampanyekan CHSE atau Clean, Health, Safety environment. Jadi tidak hanya kebersihan dan kesehatan tapi juga keamanan," ujarnya Minggu (11/10/2020).

Sebagaimana diketahui Malioboro adalah destinasi wisata utama di Yogyakarta.

Singgih mengatakan orang yang berkunjung ke Yogyakarta pasti akan datang ke Malioboro.

Maka dari itu, ia berharap semua pihak dapat saling menjaga kawasan ini.

Singgih juga menyinggung terkait banyaknya vandalisme atau coret-coretan di area Malioboro.

Ia berharap pihak terkait baik dari kota, provinsi maupun pemilik dari tempat yang dicoret-coret dapat bergerak cepat melakukan pengecatan.

"Agar pemandangannya indah, dan orang yang menikmati Malioboro semakin nyaman.
Pada malam pasca demonstrasi juga telah dilakukan bersih-bersih gotong royong, itu merupakan ciri khas Yogyakarta. Yang bukan ciri kas Yogyakarta adalah yang anarkis kemarin, saya berharap tidak terulang lagi," tuturnya.

Dalam kesempatan itu ia juga menerangkan bahwa dirinya mendapat keluhan dari berbagai pihak industri. Pasalnya Malioboro merupakan selling point yang dapat mendongkrak perekonomian Yogyakarta.

Terlebih di akhir pekan sebelumnya, kunjungan wisata di Yogyakarta sempat turun.

Dari pantauannya melalui aplikasi Visiting Jogja, pada hari Sabtu (3/10/2020) terdapat 17 ribu kunjungan dan pada hari minggu (4/10/2020) sebanyak 30 ribuan kunjungan.

Padahal di pekan sebelumnya lagi, kunjungan wisata di hari Sabtu mencapai 20 ribu dan hari Minggu lebih dari 40 ribu kunjungan.

"Banyak faktor yang mempengaruhi seperti kondisi di daerah masing-masing, dan keengganan melakukan perjalanan. Yang bisa kita promosikan adalah protokol kesehatan, semakin kita bagus menangani Covid-19 dan menerapkan protokol, semakin banyak orang percaya diri untuk berkunjung ke Yogyakarta," tutupnya. (nto)

Penulis: Santo Ari
Editor: Kurniatul Hidayah
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved