Sleman
Tiga Cabup-cawabup Sleman Miliki Cara Berbeda untuk Kampanye
Tiga calon bupati (cabup) dan calon wakil bupati (cawabup) Sleman memiliki strategi masing-masing untuk melakukan kampanye.
Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Tiga calon bupati (cabup) dan calon wakil bupati (cawabup) Sleman memiliki strategi masing-masing untuk melakukan kampanye.
Calon Bupati Sleman Nomor Urut 1, Danang Wicaksana Sulistya mengatakan keinginan konstituen saat ini masih secara konvensional yaitu tatap muka.
Untuk menghormati keinginan konstituen, pihaknya masih mengutamakan kampanye via luring.
"Kondisi inilah yang membuat tim untuk mempersiapkan semuanya, agar sesuai dengan peraturan dan protokol kesehatan di tengah pandemi ini," katanya pada Tribun Jogja, Rabu (07/10/2020).
• Jelang Pilkada, Disdukcapil Sleman Buka Posko Perekaman KTP el
Disinggung strategi pemenangan, Danang enggan menyebut secara gamblang.
"Untuk strategi khusus itu konsumsi internal kami,"celotehnya.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Calon Wakil Bupati Sleman Nomor Urut 2, Amin Purnama.
Ia menyebut kampanye yang dilakukan adalah kampanye silaturahmi.
Pihaknya akan bertemu dengan tokoh-tokoh masyarakat di Kabupaten Sleman.
Dengan demikian, pihaknya tidak mengadakan pertemuan yang bersifat umum.
"Kami silaturahmi terbatas, mohon doa restu, dukungan, mohon nasihat agar kami menjalani kompetisi Pilkada diberi dukungan dan dipercaya rakyat Sleman,"terangnya.
Ia mengakui ada keterbatasan dalam melakukan kampanye.
Namun menurut dia, justru kendala tersebut menjadi peluang agar kampanye lebih efektif.
• Bawaslu Minta Jajaran Pengawas Daerah Jadi Teladan Hidup Sehat bagi Peserta dan Pemilih di Pilkada
"Secara umum terbatas komukasi dengan banyak orang. Tetapi banyak jalan, banyak peluang. Justru kondisi ini kami manfaatkan untuk lebih dekat dengan tokoh masyarakat. Karena tokoh masyarakat adalah ujung tombak komunikasi dengan masyarakat,"lanjutnya.
Meski lebih banyak melakukan kampanye secara luring, paslon nomor urut 2 tersebut juga akan melakukan kampanye daring.
Sementara itu, Calon Bupati Sleman Nomor Urut 3, Kustini Sri Purnomo mengungkapkan metode kampanye yang dilakukan adalah daring dan luring.
Menurut dia, metode daring dan luring saling melengkapi.
Metode luring digunakan untuk menjangkau konstituen yang belum bisa mengakses teknologi.
Sedangkan, daring dimanfaatkan untuk menjaring suara generasi muda.
• Pilkada di Tengah Pandemi, Bahan Kampanye Lebih Baik Dicetak dalam Bentuk APD
"Kami manfaatkan metode daring dan luring. Kalau orang yang sudah sepuh-sepuh kan tidak semua bisa mengakses teknologi. Ya tetap harus kita sapa. Tetapi tentu saja protokol kesehatan harus tetap ditaati,"ungkapnya.
"Metode daring juga kami manfaatkan, memakai media sosial yang sudah ada. Terutama untuk menjaring aspirasi anak muda. Di Sleman itu 10 sampai 15 persen adalah anak muda, tentu kami harus mengakomodasi keinginan anak muda,"sambungnya.
Selain itu, pihaknya juga menggandeng kader-kader agar upaya pemenangan berjalan optimal.
Menurut dia, setiap kapanewon di Sleman memilik karakter yang berbeda-beda.
Dengan begitu, metode kampanye yang digunakan juga harus berbeda.
Ia optimis dengan kekuatan jejaring yang sudah ada, dapat menjaring suara dan dapat memenangkan di Pilkada Sleman 2020. (TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/berita-sleman_20180731_185753.jpg)