Dua Bulan Belum Terungkap, Keluarga Agung Setyobudi Berharap Pelaku Klitih Segera Tertangkap
Dua Bulan Belum Terungkap, Keluarga Agung Setyobudi Berharap Pelaku Klitih Segera Tertangkap
Penulis: Miftahul Huda | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Meski sudah masuk massa pemulihan, keluarga korban menolak lupa kejadian klitih pagi buta di barat Fly Over Jombor, sekitar dua bulan lalu yang menimpa Agung Setyobudi.
Baru hari ini, Minggu (4/10/2020) Agung mulai kembali ke gereja. Sudah hampir dua bulan sejak kejadian tragis itu menimpanya, ia sama sekali tidak bisa melakukan aktivitas apa-apa.
Maklum saja, jahitan operasi pada perut dan bagian tubuh lainnya harus betul-betul pulih sepenuhnya.
Sebagaimana diberitakan pada Jumat (21/8/2020) lalu, pria berusia 33 tahun ini mendapat enam hingga tujuh sabetan benda tajam oleh rombongan tak bertanggung jawab yang kerap disebut Klitih.
"Luka yang diperut itu infeksi. Saya bersyukur hari ini anaknya sudah kembali ke gereja. Meski masih merasakan trauma," kata ayah korban, Sih Wiyanto kepada Tribunjogja.com.
Infeksinya tersebut tepat disayatan bagian perut. Melebar sekitar 3 hingga 4 sentimeter.
Menurut dia, anaknya mulai merasakan adanya infeksi sejak September lalu. Sejak itu, Agung pun selalu rutin memeriksakan bekas jahitannya tersebut ke dokter yang menangani.
"Sekarang puji Tuhan sudah membaik. Ya ini yang kami harapkan. Semenjak infeksi itu ya anak kami selalu rutin periksa. Kata dokternya bilang, mas Agung jangan terlalu stress nanti pengaruh pada proses pemulihannya," ujarnya.
• Update Penyelidikan Klitih di Sleman, Polisi Terkendala Saksi dan CCTV
• Ditangani Polres Sleman, Sih Berharap Pelaku Klitih Segera Ditangkap
Akibat tujuh luka sabetan yang menimpanya itu, Agung harus menunda rencana pernikahannya pada September lalu.
"Harusnya kan nikah dia, sudah persiapan. Akhirnya kan ditunda. Ya mungkin kepikiran itu. Karena harusnya menikah, terus jadi korban klitih akhirnya tertunda," urainya.
Pihak keluarga masih ingat jelas peristiwa yang menimpa Agung Setyobudi.
Warga Sangrahan, Depok, Kecamatan Condongcatur, Sleman itu tiba-tiba dihajar oleh sekelompok orang tak dikenal menggunakan senjata tajam sepulangnya dari tempat kerja.
Hingga kini, pihak keluarga terus berharap agar pelaku kejahatan tersebut segera ditangkap.
"Supaya tidak ada korban selanjutnya. Kami ya berharap itu segera ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku," tegas Sih Wiyanto.
Kini Agung masih mengalami trauma yang belum bisa dipulihkan. Menurut keterangan Sih Wiyanto, Agung masih merasa ketakutan saat keluar malam.
"Masih trauma anaknya. Kalau malam mau beli bakso atau apa, dia selalu minta saya untuk menemani. Pak, ayo kancani, wis bengi wegah dewean," tutup Sih Wiyanto.(Tribunjogja/Miftahul Huda)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/akhir-tragis-preman-kampung-di-tulungagung-kesaktian-yatno-luntur-setelah-celananya-dipelorotkan.jpg)