Jawa

BPCB Jawa Tengah : Temuan Struktur di Magelang Diduga Dibangun Antara Abad ke-9 dan 10

BPCB Provinsi Jawa Tengah menindaklanjuti temuan struktur dan bangunan yang ditemukan di lahan tambang pasir manual di Dusun Windusabrang, Desa Wonol

Tayang:
Penulis: Rendika Ferri K | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Rendika Ferri
Struktur dan batuan yang menyerupai bagian candi ditemukan di lahan tambang pasir manual di tepi Sungai Pabelan di Dusun Windusabrang, Desa Wonolelo, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Kamis (1/10/2020). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Rendika Ferri K

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Jawa Tengah menindaklanjuti temuan struktur dan bangunan yang ditemukan di lahan tambang pasir manual di Dusun Windusabrang, Desa Wonolelo, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang.

Belum diketahui struktur tersebut merupakan bagian candi atau petirtaan, tetapi diduga bangunan tersebut dibangun sekitar abad ke-9 dan ke-10.

Semasa dengan candi-candi di bawahnya seperti candi asu, lumbung dan pendem.

Struktur masuk ke masa klasik Indonesia.

Staf Kelompok Kerja Pemanfaatan, Pengembangan dan Publikasi, BPCB Provinsi Jawa Tengah, Putu Dananjaya, mengatakan, pihaknya mendapat laporan temuan tersebut dari masyarakat.

Petugas pun datang ke lokasi pada Senin (28/9/2020) lalu. Mereka meninjau temuan tersebut.

BREAKING NEWS : Struktur Menyerupai Bagian Candi Ditemukan di Tepi Sungai di Magelang

"Kami mengetahui temuan itu dari pelaporan, setelah ada masyarakat, kemudian masuk ke kantor BPCB Provinsi Jawa Tengah. Kami diminta atasan untuk meninjau temuan dan kemarin Senin (28/9/2020), kami ke lokasi. Sebelumnya kami meminta izin ke lurah dan perangkat desa. Kami laporkan tentang penemuan struktur di pinggir sungai. Pak lurah mendampingi dan kita cek di lokasi ditemani pihak pelapor juga," ujarnya, saat dihubungi Kamis (1/10/2020).

Lokasi temuan berada di tengah penambangan pasir manual.

Petugas melihat beberapa bongkahan batuan andesit yang sudah dipindahkan oleh penambang pasir.

Batuan tersebut dikumpulkan.

Selain itu, petugas BPCB Jateng juga menemukan temuan yang masih di tempat atau in situ.

Susunan batu tersebut belum dilepas dari strukturnya dan belum terbuka secara keseluruhan.

"Kami melihat ada beberapa bongkahan batu andesit yang sudah dipindahkan dari letak oleh penambang pasir dan dikumpulkan. Kami observasi juga, selain itu yang masih di tempat, atau in situ, ada susunan batu yang masih in situ, belum dilepas dari strukturnya. Baru keliatan seberapa, belum terekspos semua," katanya.

Warga Penghayat Gelar Ritual atas Penemuan Situs Baru di Magelang

Berdasarkan observasi temuan, pahatan, dan lainnya, struktur tersebut diduga semasa dengan candi-candi di bawahnya, seperti Candi Asu, Candi Lumbung dan Candi Pendem.

Struktur tersebut diduga dibangun sekitar abad ke-9 dan ke-10, termasuk masa klasik Indonesia. Pengaruh Hindu Buddha.

"Kalau kita lihat temuannya dan pahatannya, kita duga itu hampir sama, semasa dengan candi di bawahnya jadi candi asu, candi lumbung, candi pendem. Di situ pernah ada prasasti yang intinya sih dibangun sekitar abad ke-9. Kita duga seperti itu. Antara abad ke-9 dan ke-10. Itu masuk dalam masa klasik indonesia. Klasik indonesia masa pengaruh hindu buddha," tutur Putu.

Struktur yang sudah terekspos ini terdapat bagian seperti struktur lantai dan pinggiran struktur.

Kendati demikian, belum dapat ditentukan bangunan tersebut termasuk petirtaan maupun candi. Dugaan sementara temuan itu adalah struktur.

"Kebetulan kami ke sana, yang masih sudah terekspos itu ada bagian seperti struktur lantai, struktur seperti pinggiran struktur. Kita belum bisa menentukan itu petirtaan atau itu candi. Yang jelas, kalau dugaan sementara itu struktur saja. Struktur. Ketika kita cek di lapangan belum ada yang bagian-bagian atap, makanya kita belum bisa menentukan itu candi atau petirtaan dan lainnya. Kita sebut struktur," katanya.

BPCB Jawa Tengah tengah mendalami soal temuan ini. Temuan ini sangat berpotensi dan diharapkan ada tindak lanjut.

Tindak lanjut berupa proses ekskavasi entah tahun ini maupun tahun depan.

Melihat dari Dekat Situs Masjid Kauman Pleret

"Kami proses laporanya, kita sudah sampai ke atasan, kalau rekomendasi kami temuan itu sangat berpotensi. Kalau bisa nanti ada tindakan lanjutan, biasanya proses ekskavasi entah jika memungkinkan tahun ini, kalau nggak tahun depan. Kita sudah sampaikan ke atasan dan atasan menerima laporan kami. Kita harapkan ada tindakan selanjutnya," katanya.

"Kami langkah pertama, kita sudah matur dengan pak lurah, nanti ada penggalian menemukan sesuatu jangan diapa-apakan, dipindah, dibongkar semisal dalam bentuk tatanan. Penggalian manual bisa dilakukan tapi menghindari dari struktur yang ditemukan. Tak dibagian struktur. Sehingga bisa terselamatkan sementara. Kami komunikasikan ke pemilik lahan, masyarakat penambang untuk seperti itu," tambah Putu.(TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved