Breaking News:

Yogyakarta

Pengamat Politik Sebut Angka Golput Pilkada di Tengah Pandemi Diprediksi Tinggi

Tantangan besar akan dihadapi Komisi Pemilihan Umum (KPU) jika 9 Desember nanti tetap menggelar pesta demokrasi Pilkada 2020 secara serentak.

TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
ilustrasi 

Laporan Reporter Tribun Jogja Miftahul Huda

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Tantangan besar akan dihadapi Komisi Pemilihan Umum (KPU) jika 9 Desember nanti tetap menggelar pesta demokrasi Pilkada 2020 secara serentak.

Pencapaian target partispan masyarakat dalam menyumbangkan suaranya akan cukup berat dicapai.

Pengamat Politik menilai akan muncul kelompok Golput yang lebih besar pemilu-pemilu sebelumnya.

Sebagai contoh data KPU Sleman menyebut tingkat Golput pemilu 2010 di Kabupaten Sleman saat itu mencapai 35-40 persen dari jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) sebanyak 759.062.

"Apalagi sekarang di tengah pandemi Covid-19. Sebagian orang tentu menilai terlibat dalam kampanye hingga datang ke TPS sangat lah berisiko," kata Pengamat Politik Universitas Gajah Mada (UGM) Arie Sujito kepada Tribunjogja.com, Kamis (24/9/2020).

Pakar UGM: Penting Dipantau Seksama Kemungkinan Klaster Pilkada

Ia menambahkan, meski sudah terdapat panduan protokol kesehatan dari KPU hal itu belum cukup mampu meyakinkan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pemilu.

Kecuali, lanjut dia, KPU berani menjamin dan mampu meyakinkan masyarakat dengan hal yang tidak biasa.

Lebih lanjut ia menegaskan, baik KPU maupun para pasangan calon (Paslon) perlu mewaspadai kemunculan kelompok kritis yang tidak mengharapkan adanya pilkada serentak di tengah pandemi Covid-19.

"Karena kalau melihat dari kontroversi dan situasi saat ini, pasti tingkat partisipasinya menurun. Banyak kelompok golput. Dan akan muncuk kelompok-kelompok kritis yang menyuarakan itu. Itu menjadi pekerjaan KPU dan tim sukses paslon," imbuhnya.

Ia menambahkan, kontroversi yang terjadi saat ini menjadi peringatan untuk KPU dan pemerintah, bahwa protokol kesehatan harus dilakukan seketat mungkin.

Pengundian Nomor Urut Pilkada Bantul 2020 Dilaksanakan dengan Pembatasan Peserta

"Terutama masa kampanye. Karena kampanye itu kan peluang kumpul-kumpul masih ada itu," tegas dia.

Jika melihat dari perkembangan Covid-19 yang ada, Sujito menyebut wabah di tingkat nasional sangat lah tinggi.

Menurut dia pemilu merupakan peristiwa penting, namun keselamatan dan keamanan masyarakat juga penting.

"Itu menjadi alasan turunnya partisipan masyarakat untuk pilkada kali ini," tutupnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Miftahul Huda
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved